Sunday, February 23, 2014

when the city shutdown

Kembali ke Bangkok, nyaris tepat enam tahun setelah perjalanan pertamaku ke sana tahun 2008. Saat itu aku merayakan ulang tahun ke 30 di atas pesawat. Kali ini – dengan Dodi, perjalanan ke Bangkok yang hanya beberapa hari sebelum ulang tahunku disambut oleh demonstrasi besar-besaran. Isunya cukup sensitif: menuntut reformasi (menurunkan PM) dan dan menolak pemilu yang akan segera diselenggarakan.

Aku sendiri pernah mengalami demonstrasi menolak pemilu tahun 1997 – yang kemudian kembali memenangkan Soeharto - di kampus. Demonstrasi hari pertama disertai penangkapan beberapa mahasiswa. Demonstrasi hari kedua, aku yang ditangkap! Hahaha… Tidak kujelaskan detailnya, tetapi aku cukup dekat dengan pengalaman demonstrasi termasuk mengalami serangkaian demo menjelang reformasi, dan tahun 2000 lebih banyak meliput demo sebagai wartawan saat itu.

Demonstrasi di Bangkok dimulai tiga hari sebelum kami berangkat, dan entah sampai kapan. Sejak beberapa hari sebelum keberangkatan, kami memantau perkembangan situasi di sana melalui internet - selain tentunya  mencari tahu tentang akomodasi dan tujuan-tujuan wisata di sana. Entah kenapa, surat kabar maupun media online Indonesia tidak banyak memberitakannya. Selain itu, aku juga bertanya ke beberapa teman, serta mencermati titik-titik demonstrasi. Pada akhirnya, kami memutuskan untuk tetap berangkat. Kayak yang ngga pernah ngalamin demo aja… Hahaha…

Tentu kami siap untuk ketidakpastian, termasuk membatalkan kamar hotel yang kami booking via internet karena takut kalau ternyata susah mencapai daerah itu. Namun setiba di sana, demonstrasi justru yang menyita perhatian kami selama dua hari pertama di Bangkok.

Persinggungan kami dengan titik demonstrasi sungguh tidak disengaja. Tadinya  kami turun dari MRT di Si Lom untuk berganti ke jalur skytrain menuju Siam Central. Dari atas stasiun skytrain, terlihat ramai kerumunan. Demonstrasi itu. Dari yang cuma motret dari atas terminal skytrain, hingga akhirnya memberanikan diri untuk turun ke bawah, ke kerumunan demonstrasi.



“Ini demonstrasi atau pasar malem?” pikirku saat tiba di kerumunan. Sungguh di luar pengalaman dan pengetahuanku mengenai demonstrasi. Kerumunan saat itu ratusan orang, atau ribuan, entahlah aku tidak bisa menaksir jumlahnya. Yang jelas ramai sekali. Dari yang tua, muda, sampai anak-anak; lelaki dan perempuan, mbak-mbak yang berkostum pulang kantor, pengguna kursi roda, dan masih banyak lagi jenis manusia berbaur di sana. Semuanya menggunakan atribut bendera Thailand hingga mirip supporter bola. Tapi tidak, ini lebih dari atribut nonton bola karena selain kaos, topi, atau syal, atribut lain yang digunakan bisa berupa pita rambut, kecrekan tangan, anting, cincin, gelang, bando dan masih banyak lagi. Semuanya bertema bendera Thailand: garis-garis merah-putih-biru.putih-merah. Atribut wajib adalah peluit. Pada saat-saat tertentu menurut aba-aba orator, peserta demo bersamaan meniup peluit…

Orator berbicara dari panggung besar yang menjadi pusat demonstrasi. Di belakangnya ada layar raksasa yang menayangkan langsung berita mengenai demonstrasi di beberapa titik. Tidak hanya orasi, tetapi panggung juga diisi dengan suguhan tari-tarian, band, sampai barongsay. Sungguh sebuah hiburan bagi para pendemo yang sebagian datang dari tempat-tempat yang jauh, tinggal di tenda atau emper-emper toko, dan tidak tahu kapan akan berakhir.

Sementara itu, di lingkar terluar, berderet pedagang-pedagang kaki lima yang menjual atribut demo seperti yang kusebut di atas, juga pedagang-pedagang makanan. Bagaimana tidak mirip psar malam?



Esoknya – entah bisa disebut sengaja atau tidak – kami mendatangi titik demonstrasi di National Stadium yang bersebelahan dengan pusat belanja MBK, semacam Mangga Dua di Bangkok. Masih pagi saat itu, beberapa dari mereka masih meringkuk di teras-teras MBK, atau dalam tenda yang berjajar di trotoar, kawasan stasiun, serta halaman National Stadium. Bangkok sedang dingin saat itu, tentunya amat tidak nyaman tidur di luar ruangan.



Semakin siang, kawasan itu semakin ramai. Seperti di Si Lom, di sana juga ada panggung besar dan layar raksasa. Demonstrasi di sini mungkin lebih ramai karena dekat dengan kawasan niaga dan wisata. Beberapa turis tampak memotret dan bahkan berbaur, termasuk kami. Beberapa demonstran bahkan meminjamkan poster demo untuk turis yang ingin berfoto. Ah, pintar sekali mereka. Turis-turis itu pastilah akan dengan bangga meng-uploadnya ke twitter atau facebook mereka dan dengan cepat akan tersebar dalam media sosial.




Kami juga mampir ke lokasi demo di dekat patung King Rama VI yang menjadi satu dengan Lumpini Park. Di kawasan taman kota itu, terlihat keseharian para demonstran. Tenda-tenda berjajar mengelilingi danau dan pada hamparan rumput di sana. Beberapa demonstran tampak beristirahat di dalamnya.  Pakaian-pakaian dijemur di dekat tenda. Di bagian lain tampak tenda logistik yang selalu sibuk: menurunkan muatan seperti selimut, air mineral, tenda, dan sebagainya; juga beberapa demonstran yang datang untuk meminta barang-barang tersebut. Menjelang makan, posko makanan dipenuhi orang-orang. Situasinya mengingatkanku pada camp bencana dalam level yang lebih tenang.



Beberapa petugas posko sempat menawari kami makan dan minum, mungkin karena wajah Asia kami tidak terlalu berbeda dengan orang sana terutama orang-orang dari selatan Thailand yang masih masuk rumpun Melayu. Pada saat itulah kami agak menyesal kenapa ngga bawa tenda. Wacana membawa tenda dan bermalam di taman sempat menjadi becandaan sebelum kami berangkat. Kalau tahu akan ada banyak temennya begini, mungkin kami betul-betul tidur di tenda, mandi di WC mobile dan mengantre makan di posko. Pasti akan banyak mengirit biaya jalan-jalan kami. Hahaha…


Setelah dua hari berada di sekitar lokasi demo, akhirnya kami memutuskan untuk benar-benar menjadi turis dengan mengunjungi tempat-tempat tujuan wisata di sana. Untunglah, karena pada sore hari di Khaosan Road, kami sempat melihat berita televisi di sebuah kios yang mengabarkan adanya pelemparan granat di lokasi demo. Tapi sungguh, demonstrasi dan granat itu terasa seperti di tempat yang jauh dari Khaosan Road yang menjadi pusat backpacker. Turis-turis berfoto, berbelanja dan nongkrong di kafe seperti tak terpengaruh. Benarkah tak terpengaruh?

“They are fool!” begitu kata pemilik hotel tempat kami menginap di kawasan Sutthisan. Sempat kubaca beberapa komentar orang Bangkok menganggapi berita tentang demo bahwa Bangkok akan tetap aman bagi wisatawan meskipun sedang berlangsung demonstrasi. Tetapi toh, tetap saja –menurut pemilik hotel itu – tingkat hunian menurun dan banyak tamu yang membatalkan kamarnya.

Foto oleh Dodi Rokhdian

Friday, February 17, 2012

commuter's story dimulai

Aku ingat sekali peristiwa angkot Depok-Pasar Minggu beberapa bulan lalu, dalam perjalanan pulang ke Cipulir setelah menghadiri sebuah acara di kampus UI, Depok. Menjelang petang, angkot yang aku tumpangi merapat ke terminal Pasar Minggu. Belum benar-benar masuk di terminal, mungkin sekitar 100 meter di depan,  ketika tiba-tiba sekumpulan perempuan berlari dan berlomba menaiki angkot, Mereka berteriak dan berebut naik.

Untuk beberapa saat, aku tidak menyadari apa yang terjadi. Mereka begitu agresif (?) seolah-olah (ini perumpamaanku) ada Justin Biber di dalam angkotnya. Hehehe... Tapi memang seperti itulah. Hingga akhirnya aku sadar bahwa mereka adalah perempuan-perempuan yang berjalan menjauh keluar terminal, demi mendapat kursi di angkot itu. Barulah aku memutuskan turun dari angkot.

Aku tidak benar-benar memahami hingga aku menjadi bagian dari commuter. Betul. Commuter. Awal tahun ini kami pindah rumah dan bukan di Jakarta. Rumah kami rumah mungil di Sawangan, Depok. Rumah yang cukup nyaman untuk kami berdua. 

Butuh waktu cukup lama untuk akhirnya mengambil keputusan pindah ke Sawangan. Jauh, ya? Begitu kata orang-orang. Memang jauh. Itu juga yang membuat kami berpikir panjang sebelum pindah. Tapi kemudian kami menghitung. Jarak ini dibadingkan dengan udara bersih di lingkungan tempat tinggal kami, lebih sedikit debu, polusi dan tentu saja jauh lebih tenang dibanding tempat tinggal kami sebelumnya. Tidak ada suara bajai tengah malam, atau balap motor di setiap malam minggu. Baiklah, kami pindah!

Dan menjadi commuter. Dan akhirnya aku paham kenapa sekumpulan perempuan itu begitu gigih berjuang untuk bisa lebih cepat sampai ke rumah. 

Satu kali aku mencoba naik bis kota, dan itu sangat melelahkan. Aku lebih memilih KRL sekalipun histeria dan agresivitas penggunanya tidak kalah heboh. Beberapa hari pertama menggunakan KRL, aku masih shock ketika melihat seorang perempuan jatuh saat mengejar kereta, ketika penumpang-penumpan commuter line nemplok di pintu seperti ikan sapu-sapu dan walaupun sepertinya tidak ada ruang untuk dimasuki orang lagi, tetap saja ada orang yang berhasil masuk ke dalam gerbong. Sering aku melewatkan 1-2 kereta karena merasa tidak mungkin bisa masuk ke dalamnya. Sesekali nekat masuk dan tiba-tiba badan terdorong orang dari belakang. Rasanya packing kalau mau traveling, semuanya harus bisa masuk ke tas. Tapi ini orang yang dipacking, dijejel-jejelin masuk dan empet-empetan. Sungguh.

Tapi sejauh ini, aku bisa menikmati ; )


Sunday, November 20, 2011

berkereta di Paris

Desember tahun lalu, untuk pertama kalinya aku ke Paris. Sebuah konferensi internasional di Paris meminta aku mempresentasikan Sokola Rimba di sana, tentu saja mereka menanggung biaya perjalanan dan akomodasi. Dan kesempatan langka ini kumanfaatkan sekalian untuk berjalan-jalan di Paris dan kota-kota negara lain di Eropa. Kapan lagi? ; )

Panitia menginapkan aku di hotel tempat acara yang berlokasi di Disneyland. Tempat ini sudah berada di luar kota Paris, tapi masih terjangkau dengan Metro (line kreta MRT di Paris). Kurang lebih seperti Bogor dan Jakarta. Kebetulan juga, rumah teman yang aku tuju untuk menginap setelah konferensi itu juga tidak jauh dari Disneyland. Hanya beberapa stasiun saja dari Disney, masih di luar kota Paris.

Gracia, temanku itu, memberikan informasi yang sangat detail tentang bagaimana aku mencapai apartemen mungilnya. Dia wanti-wanti agar aku melihat papan rute dan memastikan lampu kecil di bawah nama stasiun yang aku tuju menyala. Baiklah, dengan ransel besar di belakang dan ransel kecil di depan, pelan-pelan aku beranjak dari hotel.


Stasiunnya tak seramai yang aku bayangkan, mungkin karena di pinggir kota. Setelah membeli tiket, aku pun naik ke peron. Sepi. Ada satu kereta menunggu di sana. Aku tidak tahu apakah itu kereta yang dimaksud atau bukan. Aku belum cukup familiar dengan rambu-rambu berbahasa Prancis karena itu perjalanan pertamaku.

Tiba-tiba ada seorang anak muda, mungkin usianya sekitar 14 tahun. Dia mendekati lalu bertanya dengan bahasa Prancis. Aku tidak paham, tapi aku memperlihatkan tiketku padanya. Dia langsung menyuruhku masuk kereta yang berhenti. Lagi-lagi sepi dalam gerbong itu. Cuma ada dua orang termasuk aku. Ada papan rute di atas pintu, tapi karena dalam keadaan berhenti, lampunya pun tidak menyala. Untuk meyakinkan lagi, aku bertanya pada anak tadi dengan bahasa Inggris. Dia cuma yes yes aja. Harusnya dia mengerti, karena aku memperlihatkan tiketku.

Anak itu sempat pergi, lalu kembali lagi dan memberikan secarik kertas kepada penumpang-penumpang Metro. Aku sudah lupa tepatnya, ditulis dalam bahasa Inggris kurang lebih isinya bahwa dia adalah imigran dan tidak punya uang. Whoa, sama dengan yang sering kualami di Metromini di Jakarta. Karena aku tidak tahu berapa biasanya orang memberi, aku putuskan untuk tidak memberi. Maaf ya... Hehehe... Backpaker kan harus irit...

Untung tidak memberi. Karena begitu lampu dinyalakan dan kereta berjalan, ternyata lampu di bawah tulisan stasiun tujuanku tidak menyala. Aku tertipu! Hmmmfff... Masalah selesai dengan berhenti di stasiun lain dan menunggu kereta berikutnya, tentu saja setelah memastikan bahwa keretanya berhenti di stasiun tujuan.


Pengalaman buruk bermetro tak hanya sekali itu. Pada perjalanan ke Bandara di hari terakhirku di Paris, ada kejadian lain yang cukup mengganggu dan membuat tak nyaman orang asing sepertiku. Kereta tiba-tiba berhenti di sebuah stasiun kecil. Tak ada keterangan resmi berbahasa Inggris tentang penyebab dan bagaimana kami harus meneruskan perjalanan ke bandara.

Dalam kebingungan, aku berkelompok dengan dua perempuan setengah baya dari Belanda dan perempuan muda dari Amerika yang sama-sama orang asing dan menuju bandara. Kami sama-sama tidak mengerti pengumuman bahasa Prancis tentang situasi itu dan memutuskan mencari taksi di luar. Biayanya dibagi empat. Tidak mudah mencapai pintu keluar, apalagi mereka bertiga masing-masing membawa koper besar menuruni tangga dan menghindari genangan air di stasiun yang tampaknya sedang direnovasi itu. Karenanya pula kami melewati lorong-lorong darurat yang mungkin untuk menghindari bagian yang direnovasi. Dan aku juga tidak ingat mengapa kami harus menerobos palang otomatis. Mungkin karena itu bukan stasiun tujuan kami. entahlah, aku sudah lupa.

Belum sempat semua orang menerobos palang otomoats, petugas menyuruh kami kembali ke atas karena jalur kereta sudah pulih kembali dan dalam 15 menit akan ada kereta yang lewat. Hmm, baiklah. Kami naik kembali ke peron dengan sama susahnya saat turun tadi.

Begitulah. Aku tidak langsung naik kereta pertama yang lewat karena sangat penuh lebih dari 30 menit kemudian . Toh pesawatku masih cukup lama. Sengaja aku sisakan waktu panjang agar sempat mengurus ransel besarku yang dititip di loker bandara.

Begitulah. Berkereta di Paris tak lebih baik dari Jakarta. Maksudku, Paris dan Jakarta sama-sama kota besar. Pasti punya persoalan urban yang kurang lebih sama juga. Di beberapa stasiunnya aku juga menemukan sudut-sudut gelap dan berbau pesing. Ngga beda kan, sama di Jakarta.. hehehe...


Tapi kesempatan menelusuri jalanan Paris, menuju berbagai tempat dengan Metro , menghirup dingin dan basah oleh salju bulan Desember di sana, ah, aku sungguh beruntung ; )


Wednesday, October 19, 2011

tragedi E-KTP

Aku officially menjadi penduduk Jakarta sejak Juni 2009. Tepatnya setelah menikah, kami memutuskan membuat KK di Jakarta. Pertimbangannya, kalau nanti pindah rumah akan lebih mudah mengurusnya. Ngga perlu ke Jogja, atau Bandung tempat Dodi.

E-KTP adalah salah satu konsekuensi menjadi penduduk Jakarta. Datanglah undangan itu ke rumah, di antar oleh Pak RT yang sempat mengeluh, "Banyak warga yang saya ngga kenal. Cuma baca namanya di KK aja, tapi ngga tau orangnya yang mana." Hehehe... Maaf ya Pak RT...

Lalu kami ke kelurahan hari Senin, hari yang dijanjikan dalam surat undangan: bahwa hari itu kelurahan khusus melayani RW 004. Pukul dua kami mengambil nomer antrean untuk foto dan lain-lain, dapat nomer cantik 131. Saat itu, yang sedang diproses adalah nomer antrean 60-an. Katanya paling baru jam empat dipanggil. Oke deh, kami pulang dulu.

Pukul empat, kami kembali lagi. Kelurahan masih penuh dengan orang. Beberapa duduk di depan ruang foto, ada juga yang di teras kelurahan, juga di sekitar parkiran motor. Mungkin banyak juga yang pulang dan menunggu di rumah sepertiku. Antrean yang masuk baru nomer 90-an. Ini nomer keluarga Risma yang mengambil antrean sejak pukul sebelas. Kami memutuskan pulang lagi, dan kembali nanti setelah magrib.

Pukul tujuh malam. Untuk ke-tiga kalinya dalam hari ini kami ke kelurahan. Pas sekali nomor antrean kami yang seharusnya dipanggil masuk ruang foto. Seharusnya. Karena kemudian ibu kelurahan mengumumkan komputer error. Katanya hang. Selain itu karena tadi siang tiga kali mati lampu. Tapi mungkin juga ada alasan lain. Hari sudah malam, dan antrean masih lumayan (setahuku masih ada sampai 150-an), selain itu tampang mas operator komputernya juga udah kucel, mungkin juga bau ketek sedikit karena AC ruangan ngga dingin. Orang-orang kelurahan itu tampak berunding sebentar sebelum mengumumkan bahwa kami bisa kembali lagi besok, dan dijanjikan tanpa antrean.

Besok. Bagaimana dengan yang udah susah-susah cuti hari ini cuma untuk nongkrongin kelurahan seharian? Sabtu dan minggu tetap dilayani kok, demikian ibu kelurahan berdalih lagi. Gimana yang kerja seharian? Kami buka sampai malam, ini aja karena komputernya rusak, katanya.

Aku pulang terakhir, cuma untuk tanya, sampai kapan pemotretan akan berlangsung karena kami sering keluar kota. "Oh, lama kok. Sampai Desember," katanya seolah-olah sudah memberikan solusi terbaik hari ini.

Gubrak!!! Waktu masih lama, kenapa hari ini kita harus empet-empetan antre seharian. Aku sama sekali ngga habis pikir. Oke then, sampai jumpa lagi -- kalau jumpa lagi. Aku ngga tau apa masih pengen dateng lagi untuk foto E-KTP. Ilfil.

Rumit ya, mau ganti KTP aja. Ada aja yang bikin susah, ya birokrasi lah, ya komputer rusak lah. Padahal ini Jakarta. Gimana di luar kota, luar pulau?

Tiba-tiba aku teringat pengalaman delapan tahun lalu saat masih bekerja pendampingan di desa-desa di Jambi. Di desa Jernih yang sungainya cantik, sedikit sekali warga yang memiliki KTP. Bisa dibilang, KTP adalah barang mewah untuk dimiliki sementara kebutuhan primer mereka masih sulit untuk dipenuhi. Sementara untuk membuat KTP mereka harus ke kecamatan yang berjarak lebih dari 20 km.

Tanpa kendaraan sendiri, jarak ini bisa diatasi dengan membayar ojek sebesar 25-30 ribu rupiah atau naik mobil tambang untuk ongkos lebih murah. Tapi mobil tambang hanya lewat satu kali pada pukul 6 pagi untuk ke kota kecamatan, dan akan kembali pada sore harinya. Sudah pasti akan terbuang waktu bekerja satu hari. Belum lagi ongkos yang dibutuhkan untuk membuat pas photo sebagai syarat membuat KTP.

Aku pun coba membayangkan, dengan kondisi mereka dan kerumitan membuat KTP, kira-kira kapan ya warga di sana dibikinin e-KTP? Padahal seharusnya, KTP adalah hak kita yang harus dipenuhi oleh negara. Tapi kenapa jadi susah ya?

Anyway, kami pulang. Dodi kembali mengetik thesis yang hari ini tiga kali ditinggalin untuk ke kelurahan. Aku kembali bersenang-senang dengan mesin jahitku.


Saturday, October 15, 2011

serba besar di Cina

Ini tulisan lama, oleh-oleh perjalanan ke China tahun lalu saat menghadiri UN-NGO-IRENE Asia Pacific 5th Conference. Konfrensi sehari, workshop tiga hari, sisanya adalah fieldtrip alias jalan-jalan. Ini adalah paket liburan yang menyenangkan!

Impresi pertama saat tiba di Cina adalah segala sesuatu yang serba besar. Tak hanya fakta bahwa Cina adalah negara dengan daratan besar dan jumlah penduduk yang juga besar, tapi di Beijing, kota pertama yang aku singgahi, aku banyak melihat hal-hal besar seperti gedung-gedung besar (bukan hanya tinggi), jalan-jalan, ruang terbuka, serta tembok-tembok kota yang juga besar. Dan hari-hari selanjutnya aku melihat hal-hal besar lainnya yang mereka miliki.




Ternyata bukan aku saja yang berpikir demikian. “They always think about big things. They never think small things!” demikian komentar Chalida, aktivis perempuan dari Thailand yang bersamaku dalam 12 hari kunjungan ke Cina pada 28 Maret-8 April 2010 lalu. Kami berada di negeri tirai bambu sepanjang hampir dua minggu itu untuk menghadiri UN-NGO-IRENE Asia Pacific 5th Conference yang diselenggarakan di Kota Xining, Provinsi Qinghai, pada tanggal 2 April 2010. Meski konferensi hanya memakan waktu satu hari, namun China NGO Network for International Exchanges (CNIE) selaku organisasi tuan rumah menjamu 11 peserta konferensi yang berasal dari  9 negara asing yang diundang untuk mengikuti serangkaian workshop, kunjungan lapangan, serta kunjungan ke obyek-obyek wisata bersejarah di Beijing, Xining dan Shanghai.

Cina memasuki musim semi saat kami tiba. Salju sudah tidak lagi turun dan bunga mulai mekar namun cuaca tetap saja terasa dingin. Temperatur udara berkisar antara 10°C di Beijing dan Shanghai serta 5°C di Xining, bahkan lebih dingin lagi di daerah pegunungan Tibet-Qining yang sempat kami kunjungi. Menurut seorang panitia, memasuki bulan Maret biasanya cuaca sudah mulai hangat, namun karena tahun ini musim dingin lebih panjang maka suhu udara pun lebih sejuk. Selain Indonesia, Thailand serta dari China sendiri, peserta lain berasal dari Filipina, India, Banglades, Pakistan, Turki, Uzbekistan dan Kazakstan. Mereka adalah pegiat-pegiat NGO. 

Kegiatan ini diawali dengan tiga hari workshop di Beijing dengan topik “Sustainable Development and Harmonious Social Progress in Outlying Regions” dengan pembicara dari beberapa NGO di China di bidang pemberdayaan perempuan, orang muda, serta etnik minoritas. Berbicara mengenai NGO di Cina berbeda dengan tipikal NGO di Indonesia maupun beberapa negara lain. NGO Cina bergerak di bawah koordinasi pemerintah dan  karenanya menjadi partner pemerintah dalam menjalankan program-program pembangunan dan pemberdayaan, serta peran serta politik bagi warganya. Ini tentu saja dipengaruhi sistem politik di Cina. Untuk bebebrapa hal, kita bisa menjustifikasinya sebagai kontrol negara yang amat kuat, namun di sisi lain bisa juga diartikan bahwa pemerintah Cina ingin mengurusi segala sesuatu yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyatnya. Hal ini aku simpulkan dari pengalaman kunjungan lapangan.
Di Shanghai misalnya, kami mengunjungi sebuah Community Service Center yang dikelola oleh suatu komunitas – kelompok pemukiman, satu komunitas bisa meliputi 100 blok rumah susun atau lebih – dengan pendanaan dari pemerintah. Service Center ini mengurusi berbagai keperluan kependudukan dalam satu atap seperti pengurusan kartu identitas, registrasi pernikahan, asuransi kesehatan, asuransi manula, subsidi orang miskin, pelatihan tenaga kerja, konsultasi usaha kecil, dan lain-lain. Negara kita sebetulnya juga memiliki jenis-jenis pelayanan tersebut namun masing-masing punya ‘kantornya’ sendiri dan bahkan saling berjauhan.

Bagian paling serius dalam perjalanan ini adalah konferensi UN-NGO-IRENE yang diselenggarakan di Kota Xining, ibukota Provinsi Qinghai. Masing-masing peserta mempresentasikan makalah yang telah disiapkan sebelumnya. Di bawah tema besar “Women Empowerment in Development of Oultying Regions”, peserta dibagi ke dalam tiga sesi dengan tiga tema berbeda yaitu Present Situation of Women in the Outlying Region, Empowering Woman for Economic and Social Development in the Outlying Region, serta Tapping the NGO Resource for Women Development in the Outlying Regions. Tema ini menjadi kaya dengan presentasi peserta dari organisasi yang bergerak di tingkat grass root seperti kondisi perempuan di daerah rural yang terpaksa berjalan dua sampai tujuh jam setiap hari untuk mengambil air bagi keluarganya sebagaimana diceritakan oleh Joe Madiath dari India; perempuan di tengah konflik agama di Thailand selatan yang didampingi oleh Chalida, dan aku sendiri bercerita tentang perempuan suku Orang Rimba yang tengah menghadapi berbagai persoalan berkaitan dengan perubahan lingkungan tempat hidupnya. Sementara beberapa organisasi lain bercerita tentang program pemberdayaan perempuan yang dilakukan seperti pemberdayaan perempuan di Tibet, keterlibatan politik perempuan di Uzbekistan, dan lain-lain. Konferensi diakhiri dengan membuat rekomendasi untuk dibawa ke forum UN ECOSOC.

Impresi mengenai ‘kebesaran’ Cina kembali muncul dalam kunjungan-kunjungan ke beberapa obyek wisata. The Great Wall dan Forbiden City misalnya, mengingatkan aku pada komik Chinmi dan Mu Lan di mana kerajaan selalu digambarkan berada dalam tembok benteng yang kokoh. Sementara kunjungan ke beberapa museum memberikan gambaran kontekstual dari banyak pertanyaan mengenai Cina dan kebijakannya, serta kekayaan intelektual yang telah mereka miliki sejak berabad lampau dan terdokumentasi dengan baik sampai kini. Aku juga membaca rencana-rencana masa depan Cina melalui truk-truk dan proyek-proyek konstruksi yang mendominasi pemandangan di Kota Xining setiap hari atau display rencana penyelenggaraan World Expo di Shanghai tahun ini. Dengan besaran sumber daya yang dimiliki tersebut, Cina dan NGO-nya sangat bisa berperan lebih banyak dalam menyuarakan persoalan-persoalan yang dihadapi warga Asia di negara lain di forum internasional, demikianlah yang kami simpulkan dalam diskusi informaal di hari terakhir kami di Cina.



Pada akhirnya aku tidak ingin menyatakan bahwa Cina lebih baik dan Indonesia ketinggalan. Justru dari perjalanan ini aku merefleksikan kembali negeriku. Bahwa Indonesia sebetulnya tak kalah kaya dengan Cina. Kita punya daratan dan lautan, suku-suku dan tradisi yang jauh lebih beragam, alam yang tak kalah indahnya. Tak harus bisa menjadi seperti Cina karena kita punya konteks sejarah dan sistem pemerintahan yang berbeda, tapi kita bisa mempelajari bagaimana mereka mendokumentasikan kekayaan tradisinya, mengelola penduduknya yang besar, dan berusaha melibatkan kelompok-kelompok perempuan, orang muda dan etnik minoritas dalam pengambilan keputusan politik. Dan pada akhirnya kita harus percaya bahwa Indonesia tak kalah besar!

Saturday, September 24, 2011

mencari rumah di jakarta?

Sudah hampir setahun aku mencari rumah. Dengan budget yang amat terbatas, tentu ini tidaklah mudah. Hampir tidak ada pilihan, dan aku sedang menyiapkam mental untuk suatu hari nanti memulai rutinitas perjalanan panjang dari dan pulang ke rumah. Seperti yang sering kutemui sedang tertidur di bis kota setiap pagi, atau berboncengan pulang saat malam sambil saling diam karena kelelahan. Mungkin juga akan sulit bagi orang-orang yang akan mengunjungi kami.

Aku cuma ingin rumah kecil dengan sisa halaman yang cukup untuk satu-dua pohon besar untuk tenda dan hammock, dapur modern kalau bisa dengan pantry kecil, ruang makan dengan meja besar yang akan menjadi fokus aktivitas di rumah dengan televisi flat di dinding, sudut untuk studio jahitku, kamar tidur yang nyaman dan lega, kaca-kaca besar untuk masuk cahaya dan udara ke dalam rumah, temat cuci dan jemur yang kering saat tidak dipakai, tidak bising dan berdebu, bercat putih, abu-abu, dan aksen merah.

Apakah aku minta terlalu banyak?

Sunday, August 21, 2011

kapan ya, Jakarta?

Beberapa kali aku menemukan komentar, "Kapan ya, Jakarta bisa seperti ini?" sebagai status atau keterangan foto di facebook milik teman-teman yang sedang jalan-jalan ke luar negeri. Sungguh tidak adil rasanya membandingkan Jakarta dengan kota-kota yang umumnya negara maju. Walaupun rasanya harus jujur kalau kota-kota itu punya kelebihan yang Jakarta tidak (atau kurang) punya, seperti:

1. disiplin

2. informatif

3. jalur pedestrian yang nyaman

4. jalur sepeda yang aman

5. memberi alternatif transportasi bebas polusi

6. modern

7. tersedianya mass rapid transportation yang nyaman

8. ruang terbuka yang ramah pada warganya

9. sungai kota yang bersih dan terawat

10. tertib.

Foto-foto tadi diambil dalam berbagai perjalananku. Dalam perjalanan itu pula aku menyadari bahwa tiap kota (seharusnya) punya karakter sendiri termasuk Jakarta. Siapa bilang kita tidak butuh 10 hal di atas tadi. Tapi kubilang, Jakarta pun perlu punya karakternya sendiri. Tidak perlu menjadi semodern Sanghai atau penuh aturan seperti Singapore. Aku tidak ingin Jakarta menjadi seragam dengan kota-kota lain. Satu contoh terbaik, aku sangat suka pada karakter Bandara Soekarno-Hatta yang mewakili Indonesia dengan ornamen-ornamen etnik, karakter bangunan batu bata, dan juga taman-taman tropisnya. Dibandingkan dengan bandara Singapore, Bangkok, Frankfurt, atau Shanghai, yang didominasi warna metalik yang dingin dan membosankan. Seragam.

Menurutku, Jakarta cuma perlu ramah pada penghuninya, mendengar keluh kesah dalam keseharian mereka dan memfasilitasi tiap warga dengan adil baik itu miskin atau kaya. Selain itu, aku percaya Jakarta punya ceritanya sendiri.