Showing posts with label jakarta. Show all posts
Showing posts with label jakarta. Show all posts

Saturday, September 24, 2011

mencari rumah di jakarta?

Sudah hampir setahun aku mencari rumah. Dengan budget yang amat terbatas, tentu ini tidaklah mudah. Hampir tidak ada pilihan, dan aku sedang menyiapkam mental untuk suatu hari nanti memulai rutinitas perjalanan panjang dari dan pulang ke rumah. Seperti yang sering kutemui sedang tertidur di bis kota setiap pagi, atau berboncengan pulang saat malam sambil saling diam karena kelelahan. Mungkin juga akan sulit bagi orang-orang yang akan mengunjungi kami.

Aku cuma ingin rumah kecil dengan sisa halaman yang cukup untuk satu-dua pohon besar untuk tenda dan hammock, dapur modern kalau bisa dengan pantry kecil, ruang makan dengan meja besar yang akan menjadi fokus aktivitas di rumah dengan televisi flat di dinding, sudut untuk studio jahitku, kamar tidur yang nyaman dan lega, kaca-kaca besar untuk masuk cahaya dan udara ke dalam rumah, temat cuci dan jemur yang kering saat tidak dipakai, tidak bising dan berdebu, bercat putih, abu-abu, dan aksen merah.

Apakah aku minta terlalu banyak?

Sunday, August 21, 2011

kapan ya, Jakarta?

Beberapa kali aku menemukan komentar, "Kapan ya, Jakarta bisa seperti ini?" sebagai status atau keterangan foto di facebook milik teman-teman yang sedang jalan-jalan ke luar negeri. Sungguh tidak adil rasanya membandingkan Jakarta dengan kota-kota yang umumnya negara maju. Walaupun rasanya harus jujur kalau kota-kota itu punya kelebihan yang Jakarta tidak (atau kurang) punya, seperti:

1. disiplin


2. informatif

3. jalur pedestrian yang nyaman
4. jalur sepeda yang aman
5. memberi alternatif transportasi bebas polusi
6. modern
7. tersedianya mass rapid transportation yang nyaman
8. ruang terbuka yang ramah pada warganya


9. sungai kota yang bersih dan terawat
10. tertib.
Foto-foto tadi diambil dalam berbagai perjalananku. Dalam perjalanan itu pula aku menyadari bahwa tiap kota (seharusnya) punya karakter sendiri termasuk Jakarta. Siapa bilang kita tidak butuh 10 hal di atas tadi. Tapi kubilang, Jakarta pun perlu punya karakternya sendiri. Tidak perlu menjadi semodern Sanghai atau penuh aturan seperti Singapore. Aku tidak ingin Jakarta menjadi seragam dengan kota-kota lain. Satu contoh terbaik, aku sangat suka pada karakter Bandara Soekarno-Hatta yang mewakili Indonesia dengan ornamen-ornamen etnik, karakter bangunan batu bata, dan juga taman-taman tropisnya. Dibandingkan dengan bandara Singapore, Bangkok, Frankfurt, atau Shanghai, yang didominasi warna metalik yang dingin dan membosankan. Seragam.

Menurutku, Jakarta cuma perlu ramah pada penghuninya, mendengar keluh kesah dalam keseharian mereka dan memfasilitasi tiap warga dengan adil baik itu miskin atau kaya. Selain itu, aku percaya Jakarta punya ceritanya sendiri.

Tuesday, August 16, 2011

unpredictable but fun

Aku menguping pembicaraan seorang teman yang ditanya, menyenangkankah tinggal di Australia? Ia memang baru saja meninggalkan Jakarta untuk kuliah di Canberra. Dan jawabannya adalah, "Di sana membosankan sekali." Bukan, bukan karena Canberra kota kecil yang sangat sepi apalagi jika dibandingkan dengan Jakarta. Melainkan karena, "Semua di sana bisa diprediksi. Kita sudah tahu bisnya lewat mana, akan tiba di halte jam berapa, toko tutup jam berapa. Kita sudah bisa menebak apa yang akan terjadi," begitu katanya.

Aku sendiri membuktikannya saat menginjakkan kaki di benua Kangguru itu. Walaupun deg-degan karena ini pengalaman pertama ke luar Asia (well, kita tahu kultur Asia) tapi toh semua lancar saja karena aku sudah (diberi) tahu bagaimana dari Sidney menuju Canberra dan semuanya tepat seperti petunjuk tanpa opsi lain. Semua teratur dan terprediksi.

Memang beda dengan Jakarta atau kota-kota Indonesia lainnya. Damri bandara jurusan Blok M saja kadang nggak lewat Sudirman untuk menghindari macet. Tapi sungguh menyenangkan karena kita bisa menunggu bis di mana saja, tukang gorengan yang selalu ada kalau lapar di perjalanan, tukang sol sepatu, tukang jahit, tukang payung, dan berbagai service lainnya yang lewat di depan rumah. Adakah itu di Australia? Pastinya tidak.

Dan kitapun ngga pernah tahu kapan bis akan lewat atau malah tidak lewat karena jalurnya berubah, nggak pernah tahu tempat mangkal tukang gorengan karena bisa saja dia tiba-tiba dikejar kamtib, juga tidak tahu apakah hari ini tukang sol sepatu, tukang jahit atau tukang payung lewat, kita bisa mengetuk toko yang mau tutup untuk membeli sesuatu sambil pasang tampang agak memelas, bisa juga menawar harga-harga di pasar. Semuanya jadi penuh kejutan dan petualangan.

Well, selamat menikmati Jakarta!

Tuesday, August 11, 2009

mengejar kereta

Jarang-jarang naik KRL. Tapi kalau Jakarta-Depok memang sebaiknya naik KRL. Aku sih seneng-seneng aja karena di kereta - apalagi yang ekonomi, suka banyak orang jualan. Mulai dari iket rambut, tahu, mainan, buah yang sudah dipacking 5.000an dan lain-lain. Aku seneng-seneng aja. Mungkin karena jarang naik KRL dan seringnya melawan arus commuter jadi nggak pernah sampai desak-desakan banget.

So, pagi-pagi aku sudah sampai Cikini. Di loket aku tanya kereta apa yang paling duluan berhubung sedang dikejar waktu. Kata petugasnya, kereta ekonomi. Ya sudahlah, naik ekonomi toh seru juga... Naiklah kita ke peron untuk menunggu kereta.

Semenit... dua menit... lima menit... Mana, ni keretanya? Yang ada malah kereta api lewat lalu berhenti di ujung peron. Lho kok?

Ternyata sedang ada masalah. Ternyata ada kereta yang mogok. Berhubung relnya jadi satu (KA dan KRL), jadi banyak kereta harus mengantre. Satu kereta lewat, dua, lalu tiga... Masih saja bukan KRL yang lewat... Duh, padahal lagi buru-buru...

KRL pertama yang lewat ternyata ekonomi AC Depok. Dipikir-pikir, dari pada ilang waktu mending naik aja. Nanti bayar denda di atas deh, karena toh nggak mungkin turun ke loket untuk beli tiket ekonomi AC. Yang ada, pas naik keretanya udah pergi.

Maka naiklah ke KRL tu. Eh, di kereta nggak ada petugas tiket sampai tiba di stasiun Depok. Kejadian ada di petugas peron stasiun Depok. Dia tanya, kenapa tiketnya ekonomi padahal naiknya AC. Ya aku jelasin aja masalahnya karena bukan mauku juga menipu petugas. Kan di loket tiket tadi sudah minta kereta yang paling cepat. Bayar denda ngga papa sebetulnya, kan udah niat. Tapi, eh, slip denda abis... Nah loh! Akhirnya aku dikasih tiket seharga denda: Rp10.000,- sebagai ganti slip denda.

Hmmm... Mungkin bukan masalah besar. Denda toh tinggal dibayar dan tidak berat. Tapi kepikiran aja, gimana penumpang mau tertib kalau pengelola KA & KRL sendiri masih nggak tertib. Aku cuma berandai-andai, coba ada informasi yang benar tentang jadual kereta, coba ada petugas tiket di atas kereta, coba ada slip denda untuk orang terdenda... Pasti perjalanan kereta jadi lebih asyik. Ayo, siapa hendak turut?

Monday, August 03, 2009

basa-basi untuk pejalan kaki

Sebuah rutinitas baru mengantarku bolak-balik ke Dharmawangsa. Dengan Kopaja 614, aku biasa turun di halte Grand Wijaya. Bis akan berbelok ke kanan, kembali ke Jalan Fatmawati sementara aku berjalan kaki belok ke kiri menuju Dharmawangsa Square. Di sinilah trotoar berbasa-basi.

Basa-basi aku bilang, karena dia menyapaku dengan rambu yang memberi arah bagi pejalan kaki. Tepatnya setelah berbelok ke jalan Dharmawangsa, trotoar tiba-tiba terpagari rantai besi. Ada celah selebar mungkin 40 senti di antara dua tiang warna kuning-hitam. Dua tiang itu dihubungkan dengan besi melintang dengan tinggi sekitar 10-20 senti dari atas tanah. Di sebelahnya terpancang rambu bertuliskan "Pintu Pejalan Kaki".


Basa basi aku bilang, karena kemudian pejalan kaki diharapkan melewati celah itu. Artinya, kita harus melompati palang itu. Artinya, kita diharapkan punya dua kaki yang sehat dan kalau bisa jangan kegendutan kalau tidak ingin kesulitan menempuh 'pintu pejalan kaki' itu. Kalau tidak, kita harus berjalan di atas aspal dengan kendaraan kencang dari arah belakang karena pagar rantai kompleks ruko Dharmawangsa itu memagari sepanjang trotoar, hingga tepat berbatasan dengan aspal. Juga kalau kita hendak menyeberang ke gedung The City Walk di depannya, kita harus melompati rantai besi pagar trotoar itu. Pun kalau menunggu angkutan umum, siap-siap melompat pagar rantai kalau bis yang dinanti sudah tampak dari tikungan.

Trotoar di Jalan Dharmawangsa itu seperti dimonopoli oleh kompleks rukonya. Pagar rantai yang membatasinya dengan jalan, membuat halaman ruko seolah lebih luas dan dimanfaatkan untuk menempatkan pot-pot besar tanaman dan memaksimalkan parkiran mobil di sana. Padahal area itu seharusnya menjadi jalur pedestrian.

Tiba-tiba ingatan kembali di pertengahan tahun 1998, ketika aku dan teman-teman berkampanye 'aksesibilitas for all' di sepanjang Malioboro yang saat itu kami nilai tidak ramah buat pejalan kaki, khususnya bagi difabel, ibu hamil, orang tua, atau anak-anak. Ini kejadian lebih dari sepuluh tahun lalu di Jogja.

Lalu kini di Dharmawangsa, di Jakarta? Hari geenee belum aksesibel? Please, deh...


Tuesday, June 23, 2009

susah-susah Sampah

Bibi di rumah mengeluh. Katanya, buang sampah aja kok susah. Tadinya kita membuang sampah di TPS pasar yang setiap hari diambil oleh dinas kebersihan. Belakangan, TPS pasar dijaga satpam 24 jam. Katanya, yang membuang sampah di situ mesti bayar Rp1.000/hari atau Rp20.000/bulan. Tapi ternyata tidak selesai dengan uang karena tetap saja kami tidak boleh buang sampah di sana. Kata satpam lagi, TPS itu bukan untuk RT kami...

RT kami? Dulunya ada Bapak yang rutin mengutip sampah se-RT. Sebagai gantinya, kami patungan uang kebersihan untuk si Bapak yang diberikan melalui RT. Tapi belakangan si Bapak sakit, dan sampai hari ini belum ada penggantinya. Sementara, sampah terus diproduksi. Setiap hari. Setiap rumah.

Masalah tidak saja bagaimana mengelola sampah sendiri, tapi juga sampah orang. Lagi-lagi, ini keluhan si Bibi. Katanya, sering orang buang sampah di boks semen depan rumah. Memang sih, boks itu dibikin untuk tempat sampah. Tapi sejak Pak Sampah tidak datang, lebih baik sampah tidak dibuang di sana karena toh tidak ada lagi yang mengutipnya. Lalu tempat sampah ditutup dengan papan. Sialnya, papan sempat hilang dan beberapa kali Bibi memergoki orang bermotor yang melemparkan kantong sampahnya ke sana. Itu artinya, Bibi kebagian tugas mengelola lebih banyak sampah, sampah orang.

Akhirnya sampah kering dibakar di halaman rumah. Botol-botol plastik dipisahkan karena bisa dijual. Sisanya, Bibi terpaksa melemparkan sampah ke lahan kosong berpagar seng tak jauh dari rumah. Aku pernah ke sana dan sedih melihat tempat itu ternyata jadi bukit sampah. Lebih sedih lagi melihat got di ujung jalan yang sekarang penuh sampah. Rupanya, orang membuang sampah di got yang tidak sepenuhnya tertutup itu. Pagi dan sore, air got meluap ke jalan karena tidak bisa lagi mengalir. Sungguh, pemandangan yang tidak menyenangkan. Belum lagi tumpukan sampah di sebelah halte. Juga di belakang halte seberangnya.

Aku ingat pesan aktivis lingkungan untuk membuang sampah pada tempatnya. Tapi di mana tempatnya?

Ini Jakarta. Di mana orang punya sejuta cara membuang sampahnya.

Wednesday, June 18, 2008

busway is not my way!


Sudah lama nggak ke Salemba, sekitar satu setengah tahun sejak aku lulus kuliah S2 di UI. Sekarang, udah ada jalur bis Transjakarta melewati kampus. Bahkan haltenya tepat di depan kampus.

Sebut saja busway dan aku berniat mencobanya. Jam 12.10 pm, selesai sedikit urusan di kampus UI Salemba. Masih ada 50 menit untuk mengejar jam buka kolam renang di Pasar Festival. Kalau masuk jam satu siang, tiketnya hanya Rp 1.600. Makanya dibela-belain. Dan ini kesenangan baruku di Jakarta yang menyehatkan.

Aku masih punya 50 menit. Kupikir cukuplah. Busway kan punya jalur sendiri. Harusnya lancar.
Ternyata aku salah duga.

Dari Salemba ke Kuningan harus tiga kali naik busway. Pertama rute Salemba – Matraman, disambung Matraman – Dukuh Atas dan terakhir baru Dukuh Atas – Kuningan. Halte pertama masih oke. Lima menit menunggu rasanya sangat wajar. Di halte Matraman depan Gramedia, aku turun lalu naik ke jembatan untuk ke halte transit. Walah ya ampun, di pintu Dukuh Atas orang yang antre sudah berjubel. Ada 50an orang. Belum lagi di pintu satunya. Mulailah menit-menit menunggu.

Busway ke-lima, baru aku bisa naik setelah setengah jam menunggu. Jelaslah nggak dapet tempat duduk. 13.08 sampai di halt Dukuh Atas, lalu harus menunggu lagi busway jurusan Ragunan yang lewat Kuningan. Lima menit... sepuluh menit... lima belas menit... Aku udah mulai menyesal. Kebayang kalau tadi naik bemo dari RSCM ke Manggarai, trus nyambung naik Kopaja 66, mungkin aku udah sampe. Toh, lalu lintas jam satu siang nggak terlalu macet. Paling banyak ongkosnya beda dua ribu lebih mahal dibanding busway dan aku mungkin sudah berada di tengah kolam renang Pasar Festival sekarang.

Tapi aku masih di halte Dukuh Atas berdesakan dengan banyak orang. Di punggung, terasa keringatku menitik. Kaki pegel karena lebih dari satu jam berdiri. Baru di menit ke-duapuluh busway-nya dateng. Antreanku bukan di paling depan. Tapi apa boleh buat, harus maksa naik dari pada nunggu lebih lama. Lagi pula, harga kolam renang 1.600 cuma sampai jam tiga.

13.35 akhirnya sampai di Pasar Festival. Satu jam dua puluh menit, Salemba – Kuningan ternyata perjalanan panjang yang harus dibayar dengan keringat, kaki pegal dan perut keroncongan. Nggak mungkin berenang kalau belum makan, sementara waktu berenang murah hampir habis. Satu jam di berenang pasti nggak puas. Kepalang tanggung juga kalau pulang. Akhirnya aku menunggu masuk jam empat untuk harga tiket Rp 10.100, sambil makan dan mengetik ini. Sambil merutuk-rutuk. Gimana enggak, tadi naik busway beralasan lebih murah dari pada naik dua kali angkutan. Ya iya, lebih murah. Tapi jadinya renangku yang harus bayar lebih mahal!

Efektifkah busway? Efisienkah?

Busway-nya emang nggak macet. Tapi haltenya jauh lebih macet. Besok-besok pasti pikir dua kali naik busway model begini. Amannya ya yang satu trip, misalnya Blok M – Kota. Kalau untuk yang transit-transit, sorry deh, kecuali aku punya banyak waktu dan kerelaan untuk menunggu. Aku membuktikan, busway is not my way...

Thursday, May 29, 2008

Jakarta Kelabu

Sudirman 17:54. Empat perempuan duduk di halte dengan aksi yang sama: menutup hidung dengan tisu atau sapu tangan. Udara abu-abu memang tak nyaman untuk bernafas. Apalagi dengan jarak kendaraan yang rapat dan tak kunjung berlalu. Sore ini kelabu.

Sama kelabu dengan wajah-wajah letih sepulang kerja. Sama kelabu ketika menyadari kenyataan bahwa ongkos bis kota naik, dan ada di antaranya naik dengan semena-mena. Aku masih maklum kalau ongkos Kopaja dan Metromini naik dari Rp 2.000 jadi Rp 2.500. Baiklah. Bukan aku mendukung kenaikan harga BBM, tapi menyadari konsekuensi bahwa kehidupan keluarga kernet bis makin sulit setelah naiknya BBM membuatku rela saja membayar kenaikan ongkos bis.

Tapi ada yang menurutku semena-mena: Bis Bianglala 44 Cileduk-Senen. Ini ruteku pada suatu pagi. Dan aku harus cemberut ketika membaca pengumuman tarif baru yang ditempel di dalam bis. Ongkos yang semula Rp 5.000 kini naik jadi Rp 7.000. Artinya kenaikannya Rp 2.000. Artinya mereka menaikkan ongkos 40%. Serombongan ibu yang berdiri di belakangku terdengar mengomel. Katanya, BBM saja naik tidak sampai 15%, kenapa ongkos bis naik semahal itu. Tapi kernet tidak peduli sama sekali.

Aku turun di Ratu Plasa, melanjutkan perjalanan dengan Patas AC Mayasari 05 Blok M – Bekasi. Yang ini naiknya masih wajar, dari Rp 5.500 jadi Rp 6.500. Padahal bis ini lewat tol. Jadi emang keterlaluan Patas AC 44 itu! Aku lebih terkejut lagi sewaktu perjalanan pulang dengan Patas AC Mayasari 35 Senen-Cileduk, aku membayar Rp 1.000 lebih murah dari pada Bianglala 44 padahal rutenya hampir sama.

Jakarta makin kelabu dengan tampang-tampang cemberut di bis kota karena kenaikan ongkos. Mau tidak mau harus berpikir ekonomis. Turun di pintu tol Jati Bening, aku disambut teriakan para tukang ojek yang rupanya sudah mengenaliku, “Kranji, Kraji!” Kujawab saja, “Enggak, Bang, Kali Malang situ!” Tukang ojek ganti yang kelabu... “Habis gimana lagi, BBM naik, ojek pasti naik. Rute rumah-kantor bisa-bisa sampe Rp 40.000 kalau aku sambung pake ojek sampe kantor. Ya sudah, Kali Malang saja lalu sambung pakai Mikrolet yang juga naik ongkosnya... Hiks...

Tuesday, May 20, 2008

work hard play hard

Sabtu sore di foodcourt pasar festival:
“Mbak, suka clubbing nggak?” “Emang kenapa?”
“Mbak bisa jadi member, nanti clubbingnya gratis seumur hidup. Cuma bayar seratus ribu.”
“Oh, saya udah punya member kok...”

Maksudku tentu saja SOKOLA – Alternative Education Club, lembaga tempatku bekerja. Tapi tentu saja tidak kusebut pada si mbak yang menawarkan clubbing, takut dia minder. Hehehe...



Kalau memang asalnya dari kata club, maka demikianlah aku ingin menyebut pekerjaanku. Clubbing. Karena kami memang menyebut diri klub, kumpulan orang sehobi dan sekesenangan. Dan berlangsunglah istilah ‘work hard play hard’ di kami tanpa harus memisahkan waktu kerja dengan waktu bersenang-senang. Di sini, keduanya bisa dilakukan bersama karena kami senang melakukan kerja ini dan kami bekerja karena memang ini cara bersenang-senang.

Bagaimana tidak bersenang-senang, di saat sebagian orang Jakarta bangun dini hari supaya bisa mengejar jam kantornya, kami bisa bangun saat merasa tidurnya sudah cukup bahkan kadang tidak perlu mandi dan berdandan untuk mulai memberi pelajaran pada murid-murid. Pun saat di Jakarta, aku punya kuasa untuk mengatur waktu tidurku, waktu bekerjaku, dan waktu ngantorku yang seminggu sekali. Tidak harus menunggu weekend untuk bisa berenang atau nonton bareng. Namanya juga alternatif, namanya juga clubbing... Jadi nggak perlu lagi clubbing di tempat lain.

Begitulah, pekerjaan ini sudah seharusnya disyukuri. Aku memikirkan ini saat melihat sepasang (sepertinya) suami istri berboncengan motor melewati Kali Malang, Bekasi, dengan tas kerja masing-masing dan raut wajah lelah. Waktu sudah mendekati pukul 18.00, jalan macet dan penuh asap kendaraan bermotor membuatku tergelitik untuk bertanya: “Jam berapa mereka harus bangun tiap pagi supaya tidak terlambat datang ke kantornya di Jakarta? Jam berapa mereka sampai rumah lagi, dan seberapa banyak sisa tenaga mereka untuk mengerjakan hal lain? Apakah mereka punya cukup waktu beristirahat tiap hari? Apakah mereka menikmati pekerjaannya?Apakah mereka bisa menikmati waktu luangnya?

Pertanyaan itu juga menggelitik ketika aku melihat setengah penumpang bis patas AC dari Ciledug tampak tertidur pada sebuah pukul tujuh pagi. Butuh setidaknya satu setengah jam dari terminal Ciledug untuk mencapai jalan utama Sudirman-Thamrin dalam pagi yang macet seperti itu. Bangun kepagian untuk mengejar jam kantor, lalu dibayar dengan tidur sepanjang perjalanan.

Ini Jakarta, di mana setiap orang bekerja keras. Ada yang bekerja untuk bertahan hidup, dan sebagian lainnya bekerja untuk bertahan gaya hidup, termasuk clubbing itu tadi...

Monday, February 18, 2008

Lebak Bulus Undercover

Sebuah sore di Stadion Lebak Bulus dalam pertandingan Persija melawan Persib. Ini pertandingan bola live pertamaku. Aku bukan penggemar dan sejujurnya tidak tahu apa-apa tentang sepak bola. Tetapi aku bersama seorang teman yang bercerita tentang ketakjubannya menonton pertandingan pertamanya dalam kenangan gandengan tangan ayahnya saat ia duduk di kelas satu SD dan sejak itu pula ia tidak pernah melewatkan pertandingan yang melibatkan tim kotanya, Bandung. Sepak bola dan Persib menjadi bagian dari kesehariannya di gang yang kemudian melahirkan kelompok suporter dengan anggota lebih dari 20.000 orang: Viking.

Masalahnya, Lebak Bulus sama sekali bukan tempat yang aman untuk suporter berseragam selain oranye. Setidaknya untuk sore itu. Tiga kali terjadi tepat di belakangku orang berkelahi. Satu kalimat yang aku ingat dalam perkelahian itu adalah, “Periksa KTP-nya!” Kalau ketahuan orang Bandung, dijamin nggak selamet keluar dari stadion. Ini yang bikin aku ciut selama pertandingan dan nggak berhenti membisikkan doa, sekalipun kami dalam penyamaran kostum oranye di tribun VIP.

Stadion bergemuruh. Lagu-lagu dukungan tim oranye menggema selain makian terhadap tim lawan. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan temanku dalam penyamarannya. Ia harus ekstra hati-hati: tidak boleh kelepasan bicara dengan logat Sundanya atau spontan mengaktualisasikan dukungannya pada Persib. Mungkin ia merasa bersalah harus memakai kaos oranye sore itu. Sementara tak jauh di sebelah kiri kami seorang suporter perempuan memakai kaos yang bertuliskan makian terhadap suporter Persib. Di depan kami, seorang laki-laki mengikatkan kaos biru di sepatunya sehingga selalu terinjak setiap ia melangkah. Sore itu, kiper lawan terkena lemparan batu dan bis berpelat D yang mengangkut timnya rusak berat.

Barangkali ini bukan tentang Persija melawan Persib karena dalam nyanyian mereka jelas-jelas tersebut makian kepada The Jak atau Viking. Barangkali ini bukan lagi memaknai suatu pertandingan karena bahkan di lain hari ketika Persija melawan yang lain, tetap saja nyanyian makiannya ditujukan untuk Viking. Demikian juga sebaliknya, ketika Persib melawan Slemania di Jogja, ritual para suporter dimulai dengan membakar bendera oranye. Barangkali ini bukan tentang sepak bola karena dalam perjalanan wisata di Jogja, seorang beratribut Persib ‘disapa’ oleh anggota The Jak dan dipaksa melepas atribut birunya. Barangkali ini tentang Jakarta dan Bandung.

Tapi yang pasti, The Jak maupun Viking telah memberi identitas kepada orang-orang muda yang selama ini tidak mendapat tempat di ruang formal karena dianggap bandel. Dan stadion, adalah arena aktualisasi diri. I love the game!

Wednesday, December 21, 2005

trotoar musim hujan

Musim hujan di Jakarta selalu punya cerita, seperti sore itu di jalan depan mall Ambasador/ITC Kuningan yang berseberangan dengan kawasan Mega Kuningan. Di tengah-tengah badan jalan, ada saluran air (sungai ungu)* dan boulevard bertanah merah. Tanah merah inilah yang sering jadi masalah.

Aku sering ke kawasan itu. Sering pula melewati tanah basah sisa siraman hujan di sana dan harus kuakui, pengalaman itu cukup menyulitkan. Tanah merah itu menjadi sangat liat setelah basah disiram air hujan. Saat terinjak, tanah akan menggumpal dan terbawa di bagian bawah sepatu kita. Kalau sudah begitu, hati-hati melangkah. Bukan saja telapak kaki jadi terasa berat, tetapi basah di tahan merah itu juga sangat licin saat kaki menapak.

Aku pernah ketemu seorang perempuan yang tampak ragu melewati titian besi untuk menyeberangi sungai ungu menuju Mal Ambasador. Waktu itu, aku berada di sisi seberangnya. Setengah ia berjalan meniti besi, aku mengulurkan tangan memberi bantuan. Ia berterima kasih lalu mengadu, bahwa ia begitu ketakutan melangkah karena baru saja terpeleset. Sewaktu ia sudah lewat, aku meniti besi itu pelan-pelan. Nggak lucu kan kalau setelah nolong orang, aku sendiri yang kepleset! Hehehe…

Sampai di seberang jalan, tapak sepatu kedsku sudah penuh lumpur. Tidak terlalu menyulitkan saat melintas di jalan aspal, tetapi tidak saat aku berjalan di atas trotoar yang berlantai keramik. Aku menjadi mengerti mengapa mbak tadi begitu ketakutan melangkah. Semakin mengerti lagi ketika seorang pemuda terpeleset tepat di depanku. Untung ia segera berpegangan pada sebatang pohon. Lumpur di tapak sepatu dan genangan air di trotoar keramik adalah dua hal berbahaya. Kini keduanya harus dihadapi bersamaan.

Demi menghindari kecelakaan, aku mencoba membersihkan tapak sepatu. Pertama-tama aku mencari sudut semen untuk mengerik lumpur di tapak sepatu. Setelah itu aku memanfaatkan air yang menggenang di trotoar untuk mencuci tapak sepatu. Sedikit berkecipak. Hasilnya memang lumayan, tapi tidak seratus persen nyaman berjalan di trotoar basah itu. Akhirnya, aku memilih berjalan di atas rumput di sisi trotoar, di depan air mancur dan tugu bertuliskan Mega Kuningan. Rumput itu seperti keset. Tanahnya tidak lagi liat dan licin setelah ditutup rumput dan aku tidak takut lagi terpeleset. Selain itu, saat berjalan di atasnya aku bisa sekalian membersihkan sisa tanah di tapak sepatuku.

Harus diakui, lantai keramik bukan gunanya untuk melapisi trotoar apalagi di tempat yang sering mendapat siraman hujan. Keramik tidak mempunyai pori-pori untuk meresapkan air. Akibatnya, air hujan menggenang. Tapak sepatu yang dilekati lumpur menjadi dua kali lebih beresiko terpeleset di atas trotoar.

Aku juga pernah membaca di koran beberapa waktu lalu, jika trotoar terbuat dari bahan yang tidak meresapkan air maka semakin kecil daerah resapan air. Akibatnya air hujan yang tidak tertampung di selokan akan mengalir ke badan jalan yang lebih rendah. Ya udah, banjir deh namanya. Lalu macet. Katanya, konblok adalah bahan yang cukup baik. Tapi rumput juga menyenangkan menurutku…

* Baca “Sungai Ungu Jakarta” di bagian sebelumnya.

Thursday, December 01, 2005

siasat botol air

Kemarin aku kehilangan botol air: wadah transparan, warna biru, merek nalgene. Sepertinya ketinggalan di kantin belakang kampus. Anehnya, hari itu aku beberapa kali menimang dan merasa bahwa aku melakukan sesuatu yang tepat dengan membeli botol itu dan membawa air dari rumah setiap hari.

Ada banyak alasan untuk membawa air sendiri. Yang pertama jelas penghematan. Setidaknya aku bisa menyimpan dua ribu rupiah setiap hari, itu pun hanya untuk sebotol aqua atau teh botol sekali minum. Lebih dari itu, aku bisa minum setiap saat aku haus.
Lalu aku baru denger ada cerita tentang aqua isi ulang. Ini cerita dari Ige, temen di kampus. Dia cerita kalau sodaranya ngeliat ada orang yang lagi ngisiin gelas-gelas aqua di kamar mandi terminal! Oops! Udahnya air ledeng, di kamar mandi terminal lagi! Yang aku bayangin, kamar mandi itu bukan tempat yang menyenangkan sama sekali. Aqua-aqua itu lalu ditutup lagi dengan plastik segelnya, dilem, lalu dijual seperti biasa, tanpa rasa bersalah.
Masih berpikir untuk beli aqua sembarangan?
Anyway, ini Jakarta. Ada banyak artificial di sana. Tak hanya sikap, basa-basi, atau gaya hidup. Tapi juga pewarna pada lontong, terasi, sampai kerang laut. Formalin pada tahu, bakso, ikan asin, bahkan ikan laut segar. Juga campuran – entah apa namanya – untuk ketupat, bubur ayam, sampai daun singkong di warung padang.
Mungkin karena orang lebih mementingkan bungkus dari pada isinya. Kalau baca artikelnya Samuel Mulia, orang bisa bersiasat segala macem untuk bisa pake tas Louis Vitton. Di bagian lain Jakarta, orang menyiasati penampilan makanan dengan pewarna atau campuran kimia lainnya. Masih pengen beli makanan di jalan?
Udah deh, mending bawa botol air kemana-mana. Kalau perlu sama paket makan siang nasi dari rumah… Irit dan lebih aman. Hehehe…

Tuesday, September 13, 2005

lintas melawai

Aku suka sekali baju berbahan linen. Pada awal masa kuliahku, di akhir 90-an, sama sekali tidak mudah menemukan baju linen di pasaran. Sekalinya ketemu, aku pasti bisa bela-belain membelinya. Kadang aku pun bela-belain mengusahakannya sendiri dengan beli kain dan pergi ke penjahit. Aku tidak menunggu pasar menyediakan gayaku.
Pokoknya mah, linen itu aku banget…
Tapi belakangan aku keteteran juga ketika toko-toko sudah menjual apa saja. Semua gaya ada, termasuk linen favoritku. Awalnya senang-senang aja ketika dengan mudah menemukan sesuatu yang bisa bikin aku mengguman gue banget. Tapi lama-kelamaan, aku jadi kehilangan sensasi being different. Apalagi ketika baju-baju berbahan looks-like-linen mulai masuk di toko-toko Melawai atau Mangga Dua. Walah, pasaran banget!
Memang begitulah, barang-barang yang dijual di Melawai kebanyakan looks-like-something. Saat trend pasmina yang kalau di Mall berharga sampai ratusan ribu, kamu bisa dapet barang yang sekilas sama dengan harga hanya 25.000 di Melawai. Lalu ketika trend orang pake blazer. Mau warna merah, kuning, ijo, atau pink, semua ada di Melawai.

Jangankan baju berbahan linen kesukaanku, bahkan waktu jamannya baju distro yang dulunya muncul dengan semangat indie (yang pengen keluar dari sistem pasar) sekarang bisa ditemukan di Melawai. Entah indie beneran atau cuma looks-like-distro. Yang jelas beberapa kaos dengan disain ala distro itu juga mencantumkan mereknya besar-besar: distro. Jadi pasti benar ini baju distro :)


Tapi bagaimanapun juga, Melawai – seperti juga distro – menjadi counter bagi mal-mal dengan kapital dan jaringan konglomerasi yang hebat. Satu hal yang menyenangkan, kadang kala Melawai menyediakan trendnya sendiri yang tidak dapat dikejar oleh mall. Misalnya, sandal plastik berwarna-warni, justru sangat mudah didapatkan di Melawai.

Tapi tentang baju linen yang jadi pasaran, tetap saja membuatku gelisah. Mungkin aku harus mencari sesuatu yang baru, sesuatu yang benar-benar independent dan individually. Jika bukan lagi baju berbahan linen, atau kaos produk distro yang sekarang dipakai banyak orang, mungkin saya harus menjadi anti-trend karena justru lebih banyak orang merasa nyaman dengan memakai produk yang juga dipakai banyak orang.

*Beberapa hari yang lalu, pasar melawai kebakaran. aku melihat kepanikan para pedagang pagi itu. Jangan, jangan menyerah, karena gaya orang satu Jakarta ada di sana…

bis kota keliling jakarta

Kemarin agak kaget ketika kenek bis patas Mayasari minta ongkos enam ribu satu orang. Katanya, emang gitu kalau rute Blok M – Cikarang. Tapi aku kan turun di Jatibening? Sama aja, katanya. Kecuali kalau naik dari Jatibening ke Blok M.
Sebenernya berapa sih ongkos resmi bis kota?

Kalau naik patas AC Cileduk-Senen, aku biasa bayar Rp. 3.500,00. Ini udah naik. Dulu sebelum BBM naik, ongkosnya Rp. 3.300,00. Kalau naik yang jurusan Pulau Gadung, kernetnya suka minta Rp. 4.000,00, tapi kalau aku bilang bahwa aku turun di Sudirman, tarifnya jadi tiga setengah lagi. Sekali waktu aku naik bis AC Blok M – Rawamangun. Kernetnya aku kasih duit lima ribuan. Eh, kembaliannya Rp. 1.700,00.

Terus terang aku agak bingung, apakah tarif bis Patas AC memang berlainan?

Lain lagi kalau naik Metromini 69 yang harusnya bayar Rp. 1.400,00. Setiap kali kasih 1.500,00 nyaris nggak pernah dapet kembalian. Emang sih, uang 100 buat satu orang mungkin kecil sekali artinya. Buatku, itu jatah untuk pengamen di bis. Tapi coba dihitung, kalau setiap penumpang satu bis, dalam sehari, menyumbang 100 rupiah! Pasti nominalnya gede juga.

Cuma, aku selalu inget mama pernah pesen. Kasusnya di Jogja sih, yang keneknya selalu ribut minta ongkos umum ke mahasiswa atau pelajar yang nggak pake seragam. Kata mama, mahasiswa memang miskin, tapi kok yang disuruh mensubsidi kernet bis. Artinya, orang miskin membantu orang miskin. Intinya jangan pelit ama kernet bis.
Makanya, aku kadang feel guilty juga kalau naik PPD 67 Senen – Blok M yang lewat Salemba. Soalnya, meskipun kasih duit dua ribu, pasti kembaliannya lima ratus. Padahal ongkos resminya Rp. 1.600,00. Viva 67, deh!

Tuesday, August 23, 2005

sungai ungu jakarta

Temanku bercerita, keponakannya yang datang dari Jogja terpesona melihat Jakarta yang apa-apa ada. Salah satunya adalah sungai ungu yang diseberanginya di depan Mal Ambasador.

Dia benar juga, air yang mengalir di saluran kota itu berwarna keunguan. Tetapi aktivis lingkungan pasti sama sekali tidak menganggapnya ajaib seperti ponakan temanku yang memang suka warna ungu.

Inilah Jakarta yang sungainya berwarna-warni.

Di dekat rumahku juga ada got yang airnya ungu di suatu titik. Lalu biru. Lalu hijau. Aku melewatinya tiap pergi dan pulang ke rumah. Sampai di ujung jalan, tempat aku biasa nunggu bis, kondisi saluran amat sangat menyebalkan. Sampah-sampah terlihat menumpuk di saluran itu. Sedikit-sedikit air mengalir, warnanya kehitaman. Seperti ada lender atau lumut kehijauan.

Aku pernah mengalami mandi di Batang Hari atau Tembesi di Jambi yang airnya coklat. Meski nggak dijamin sungai itu bersih, tapi aku yakin yang di buang ke sana adalah benda-benda organik. Tetapi kalau sudah berwarna ungu atau biru pasti ada 'sesuatu'...

Kalau hari hujan, saluran di ujung jalan rumahku justru meluap dan berkuranglah muatan sampahnya. Jalan-jalan memang jadi kotor karena sampah yang tadinya di dalam got meluap ke jalan. Tapi setelah hujan, justru got agak sedikit bersih.

Ini Jakarta: ketika aku harus pikir-pikir pakai sandal trepes yang terbuka, atau celana yang kepanjangan sampai ke telapak sepatu. Membayangkan apa yang akan aku injak, aku merasa sayang pada kaki dan celana jeansku. Kalau hujan, aku memilih melipir dari seberangnya karena aku sudah tahu apa saja yang meluap dari saluran itu.

Aku nggak tau salah siapa. Orang memang belum semuanya sadar untuk mengelola sampahnya dengan benar. Juga, pelayanan collecting sampah belum sepenuhnya baik. Please, deh!

* seminggu setelah aku menulis ini, got di perempatan jalan dibersihkan. Memang sudah seharusnya karena saat itu, air terus meluap meskipun tidak hujan. Hasil pembersihan adalah 20-an karung kotoran.

Sunday, May 29, 2005

"ini Jakarta!"

Baru setengah jam sebelumnya aku mengguman, “ini Jakarta!” sambil berusaha menikmati penantianku dalam hingar suara berbagai jenis musik dari pedagang VCD bajakan di kaki lima, dalam riuh kenek bis mencari penumpang, dalam kerumun orang-orang letih sepulang kerja, dalam kesibukan orang gila yang menari di depan kios VCD. Gerobak jagung, rujak, teh botol, bakpao, dan gorengan berjajar di mulut terminal Senen tempat aku menunggu bis menuju rumah. Menurutku, inilah Jakarta yang sebenar-benarnya, dan bukannya Starbucks, Mc. Donald, atau Hard Rock.

Ini Jakarta, di mana orang-orang berjuang mencari hidup.

Menjelang petang, aku melihat Patas AC nomer 44 bergerak menuju dan melewati pintu terminal tempat aku berdiri. Itu bis menuju rumah! Spontan aku bergerak mengikuti laju bis. Cepat... cepat... lalu...

Swing...

Aku merasakan badanku melayang sesaat, lalu terjatuh.
Jedug!!!
“oops!”

Saat melayang, aku sempat menyesal karena tidak pernah mengingat trik-trik jatuh yang pernah aku denger dari Dodi. Maka dalam hitungan sepersekian detik, aku cuma ingat untuk melindungi kepala. Untuk itu tanganku bekerja dan siku kiri mendarat dengan manis di aspal depan terminal. Botol minuman yang aku pegang, terpental entah kemana. Aku tahu, siku dan telapak tangan yang menjadi penumpuku pasti akan perih sekali nantinya.

Aku sempat mendongak dan melihat seorang laki-laki gendut berkemeja merah tua berlari kencang sekali. Dia pasti si penabrak. Boro-boro nolongin, dia sama sekali tidak berhenti. Lebih gondok lagi ketika menyadari bahwa dia satu bis denganku. Alhasil sepanjang perjalanan aku cemberut dan menatap tajam ke arahnya.

Harusnya memang aku dekati dia dan langsung semprot. Sayangnya aku masih berpikir, “gimana nanti kalau dia cuek, gimana kalau dia nggak ngakuin? Pasti aku juga yang malu.” Ini Jakarta, dan kota ini punya banyak kemungkinan.

Lebih gondok lagi, HP di dalem tas ternyata terbentur cukup keras waktu aku jatuh. Layarnya sempet rusak. Aku jadi nyesel nggak marah ke orang itu. Apalagi mendengar komentar orang-orang rumah waktu aku menceritakan kejadian itu. “Ini Jakarta!” kata mereka sambil tertawa... J

Saturday, May 28, 2005

dan waktu berhenti dalam secangkir kopi...

Sejujurnya aku merasa tidak rela mengeluarkan lebih dari 25 ribu rupiah untuk segelas kopi. Maka, kalaupun aku berada di Starbucks atau semacamnya, bisa dipastikan itu bukan inisiatifku. Paling sering karena ajakan dua adik sepupu perempuanku yang tinggal satu rumah. Aku tidak bisa menolak kebersamaan ini, tetapi benakku tetap saja berhitung setiap kali bertransaksi dengan si barista. Aku suka kopi, tapi tidak suka harganya. Betapapun lezatnya, aku tetap merasa ini tidak masuk akal. Di tempat lain yang tak kalah nyaman, dengan harga segitu aku bisa mendapatkan secangkir kopi plus kroisan daging asap yang enak.

Hal kedua, aku tidak suka cara mereka mengemas minumannya. Harga itu terlalu mahal untuk kemasan murahan mereka. Aku bilang murahan, karena kopi-kopi mereka dihidangkan dalam gelas plastik atau kertas. Sekali pakai, lalu dibuang. Sudah begitu, kita memesan sambil berdiri di depan kasir lalu membawa sendiri minuman-minumannya diiringi musik yang kadang berirama cepat. Menurutku, sama sekali nggak nyambung!

Iya nggak nyambung. Minum kopi kok kayak di restoran fast food. Jauh dari bayanganku tentang minum kopi di cafe: kopi hitam dalam cangkir beling yang menyimpan panasnya dengan baik, suasanya cozy dengan musik yang tenang, obrolan seru dengan teman-teman, membuatku betah berlama-lama bahkan jika aku datang sendirian saja.

Aku jadi inget Jazz Coffee-nya mbak Ani di Jogja dulu. Aku pernah dapet suasana itu di sana. Aku paling sering memesan kopi Toraja, menurutku rasanya agak-agak bau daun. Secangkir berharga lima ribu dan cukup enak untuk menemaniku berlama-lama di sana. Suasananya homy banget dengan mba’ Ani jadi ibu rumah. Pelanggannya saling kenal dan saling bercerita.

Atau warung kopi Jasa Ayah di Ule Kareng, Banda Aceh. Aku ke sana pasca gempa, dan warung itu jadi favorit para relawan. Kopi Aceh dibuat dengan cara yang unik, di saring-saring gitu deh... Trus disajikan dalam gelas-gelas kecil. Empat ribu satu gelas. Di warung lain, ada yang harganya lebih murah. Ruangan tempat minum kopi sih biasa aja. Meja-mejanya berukuran besar dan tertata seperti meja makan. Tapi toh kami selalu betah berlama-lama. Apalagi makanannya enak-enak. Dalam sekali kedatangan, aku bisa pesen telur setengah matang, martabak Aceh, mie Aceh, trus kue-kue basahnya yang enak... Dan, percaya nggak... pertama kali ke sana aku ketemu Fahmi, temen kuliahku di Jakarta yang asal Aceh. Ternyata, itu emang warung kopi yang sering dia ceritakan.

Aku juga inget warung kopi di Sabang. 750 segelas! Aku dan Dodi sampai terkaget-kaget waktu mau bayar. “Berapa?” Dodi mengulang pertanyaan, “Kopinya dua gelas, lho...” Tapi ibu pemilik warung tidak berubah pikiran, “Seribu lima ratus, dua kopi,” katanya.

Memang suasana Jazz Coffee-nya Mba Ani dan warung-warung kopi di Aceh nggak se’mahal’ cafe-cafe di Jakarta. Tapi mereka menawarkan ruang yang nyaman untuk aku kembali, kembali, dan kembali ke sana terus untuk menikmati secangkir kopi yang uapnya mengepul, menyeruputnya pelan-pelan, lalu mengobrol atau sekedar duduk berlama-lama. Dan waktu seperti berhenti di warung-warung kopi ini.

amplop-amplop di bis kota

Temanku punya tas baru. Bahannya kulit, berwarna hitam, berbentuk persegi panjang tegak. Keren sih, tapi menurutku tas itu mirip tas yang dipakai anak-anak kecil ngamen ala karaoke di atas metromini di Jakarta. Tinggal diisi tape, lalu dilubagi pas bagian speaker. Aku ketawa, temanku manyun.

Tapi beneran, tas seperti itulah yang dipakai anak-anak untuk ngamen. Kebetulan aku pelanggan Metromini nomer 69. Sepanjang perjalanan dari terminal Blok M sampai Cipulir, paling tidak dua kali pengaman cilik naik ke atas bis dan beraksi dengan karaoke. Yang pertama naik tak jauh dari terminal Blok M. Sedangkan pengamen kedua, naik di pasar Mayestik. Kadang sendirian, kadang berdua.

Aku ingat betul pengamen perempuan yang naik di daerah Mayestik. Umurnya kira-kira tujuh tahun. Rambutnya merah dan penuh telur kutu. Seperti yang lain-lain, begitu masuk ia langsung membagikan amplop kecil lusuh kepada semua penumpang. Di salah satu sisi amplop ditempel fotokopi tulisan tanggan yang diawali dengan bacaan bismillah dengan huruf arab. Tulisan selanjutnya kurang lebih meminta bantuan untuk biaya sekolah.

Setelah membagikan amplop, ia kembali ke bagian depan Metromini lalu menyalakan tape yang dibawa dengan tas yang mirip punya temanku tadi. Setelah musik mengumandang, mulailah ia menyanyi. Biasanya lagu dangdut. Suaranya lantang agak serak, seserak iringan musik dari tape itu. Selesai menyanyi, ia mengumpulkan amplop-amplop dari tangan penumpang sambil berharap ada yang mengisikan sejumlah rupiah. Demikian, setiap kali, sepanjang perjalanan...

Pengamen kecil itu bukan yang pertama memakai amplop untuk meminta uang. Sebelum ini, cara ngamen dengan membagikan amplop sudah ada. Lagi-lagi di atas bis kota, dan lagi-lagi, saya mengalaminya di atas Mentromini saat melewati pasar Mayestik. Kali ini, amplop dibagikan oleh ibu-ibu dan tidak sedekil milik pengamen kecil. Tulisannya pun lebih rapi. Selain itu, kaset yang diputar bukan lagu dangdut tetapi suara orang berbicara yang diikuti irama kasidah. Intinya, ia meminta sedekah.

Ngomongin amplop, aku jadi teringat kecenderungan di pesta perkawinan sekarang. Tamu undangan kini tidak lagi membawa kado, tetapi cukup menyelipkan amplop dalam kotak yang telah disediakan. Nah, pengamen-pengamen di atas bis kota itu mungkin ikut-ikutan trend ini dan tidak lagi terang-terangan menadahkan tangan mohon bantuan. Juga tidak menadahkan topi atau kantong bekas permen.

Memang, uang yang ditempatkan dalam amplop biasanya bukan uang recehan. Misalnya saja amplop honor, amplop gaji, amplop sogokan untuk wartawan, atau amplop di pesta kawinan. So, mungkin dengan memakai amplop, pengamen-pengamen bis kota itu berharap mendapat rejeki yang lebih besar. Padahal aku sudah memeriksa dengan teliti, di amplop milik pengamen berkutu itu tidak ada tulisan: mohon sumbangan tidak berupa barang atau karangan bunga. Jadi sebetulnya, kita bisa menyumbang apa saja, kan?

Anyway, bis kota terus berjalan mengantarkan saya ke tempat tujuan. Semakin lama, semakin banyak orang yang naik dan turun termasuk berbagai rupa orang minta sumbangan. Ada yang seolah sungkan menyodorkan amplop, ada juga juga yang terang-terangan mengaku baru keluar dari penjara dan kehabisan uang. Ada pengamen dengan gitar, ada yang baca puisi dengan lantang. Ada preman, ibu-ibu, anak-anak, sampai laki-laki berpakaian perempuan. Mereka lebur jadi satu dengan peluh penumpang, teriakan pedagang asongan menawarkan tisu atau permen, gerak cepat copet, serta anak-anak sekolah yang mencoreti kursi bis dengan nama pacarnya. Sesekali terhirup karbon monoksida dari jalanan macet. Sesak. Dan sesak inilah yang dibawa berkeliling oleh bis-bis kota. Dari terminal ke terminal. Tak ada yang ditawarkan selain rutinitas.