Showing posts with label gaya hidup. Show all posts
Showing posts with label gaya hidup. Show all posts

Thursday, December 01, 2005

siasat botol air

Kemarin aku kehilangan botol air: wadah transparan, warna biru, merek nalgene. Sepertinya ketinggalan di kantin belakang kampus. Anehnya, hari itu aku beberapa kali menimang dan merasa bahwa aku melakukan sesuatu yang tepat dengan membeli botol itu dan membawa air dari rumah setiap hari.

Ada banyak alasan untuk membawa air sendiri. Yang pertama jelas penghematan. Setidaknya aku bisa menyimpan dua ribu rupiah setiap hari, itu pun hanya untuk sebotol aqua atau teh botol sekali minum. Lebih dari itu, aku bisa minum setiap saat aku haus.
Lalu aku baru denger ada cerita tentang aqua isi ulang. Ini cerita dari Ige, temen di kampus. Dia cerita kalau sodaranya ngeliat ada orang yang lagi ngisiin gelas-gelas aqua di kamar mandi terminal! Oops! Udahnya air ledeng, di kamar mandi terminal lagi! Yang aku bayangin, kamar mandi itu bukan tempat yang menyenangkan sama sekali. Aqua-aqua itu lalu ditutup lagi dengan plastik segelnya, dilem, lalu dijual seperti biasa, tanpa rasa bersalah.
Masih berpikir untuk beli aqua sembarangan?
Anyway, ini Jakarta. Ada banyak artificial di sana. Tak hanya sikap, basa-basi, atau gaya hidup. Tapi juga pewarna pada lontong, terasi, sampai kerang laut. Formalin pada tahu, bakso, ikan asin, bahkan ikan laut segar. Juga campuran – entah apa namanya – untuk ketupat, bubur ayam, sampai daun singkong di warung padang.
Mungkin karena orang lebih mementingkan bungkus dari pada isinya. Kalau baca artikelnya Samuel Mulia, orang bisa bersiasat segala macem untuk bisa pake tas Louis Vitton. Di bagian lain Jakarta, orang menyiasati penampilan makanan dengan pewarna atau campuran kimia lainnya. Masih pengen beli makanan di jalan?
Udah deh, mending bawa botol air kemana-mana. Kalau perlu sama paket makan siang nasi dari rumah… Irit dan lebih aman. Hehehe…

Tuesday, September 13, 2005

lintas melawai

Aku suka sekali baju berbahan linen. Pada awal masa kuliahku, di akhir 90-an, sama sekali tidak mudah menemukan baju linen di pasaran. Sekalinya ketemu, aku pasti bisa bela-belain membelinya. Kadang aku pun bela-belain mengusahakannya sendiri dengan beli kain dan pergi ke penjahit. Aku tidak menunggu pasar menyediakan gayaku.
Pokoknya mah, linen itu aku banget…
Tapi belakangan aku keteteran juga ketika toko-toko sudah menjual apa saja. Semua gaya ada, termasuk linen favoritku. Awalnya senang-senang aja ketika dengan mudah menemukan sesuatu yang bisa bikin aku mengguman gue banget. Tapi lama-kelamaan, aku jadi kehilangan sensasi being different. Apalagi ketika baju-baju berbahan looks-like-linen mulai masuk di toko-toko Melawai atau Mangga Dua. Walah, pasaran banget!
Memang begitulah, barang-barang yang dijual di Melawai kebanyakan looks-like-something. Saat trend pasmina yang kalau di Mall berharga sampai ratusan ribu, kamu bisa dapet barang yang sekilas sama dengan harga hanya 25.000 di Melawai. Lalu ketika trend orang pake blazer. Mau warna merah, kuning, ijo, atau pink, semua ada di Melawai.

Jangankan baju berbahan linen kesukaanku, bahkan waktu jamannya baju distro yang dulunya muncul dengan semangat indie (yang pengen keluar dari sistem pasar) sekarang bisa ditemukan di Melawai. Entah indie beneran atau cuma looks-like-distro. Yang jelas beberapa kaos dengan disain ala distro itu juga mencantumkan mereknya besar-besar: distro. Jadi pasti benar ini baju distro :)


Tapi bagaimanapun juga, Melawai – seperti juga distro – menjadi counter bagi mal-mal dengan kapital dan jaringan konglomerasi yang hebat. Satu hal yang menyenangkan, kadang kala Melawai menyediakan trendnya sendiri yang tidak dapat dikejar oleh mall. Misalnya, sandal plastik berwarna-warni, justru sangat mudah didapatkan di Melawai.

Tapi tentang baju linen yang jadi pasaran, tetap saja membuatku gelisah. Mungkin aku harus mencari sesuatu yang baru, sesuatu yang benar-benar independent dan individually. Jika bukan lagi baju berbahan linen, atau kaos produk distro yang sekarang dipakai banyak orang, mungkin saya harus menjadi anti-trend karena justru lebih banyak orang merasa nyaman dengan memakai produk yang juga dipakai banyak orang.

*Beberapa hari yang lalu, pasar melawai kebakaran. aku melihat kepanikan para pedagang pagi itu. Jangan, jangan menyerah, karena gaya orang satu Jakarta ada di sana…

Saturday, May 28, 2005

dan waktu berhenti dalam secangkir kopi...

Sejujurnya aku merasa tidak rela mengeluarkan lebih dari 25 ribu rupiah untuk segelas kopi. Maka, kalaupun aku berada di Starbucks atau semacamnya, bisa dipastikan itu bukan inisiatifku. Paling sering karena ajakan dua adik sepupu perempuanku yang tinggal satu rumah. Aku tidak bisa menolak kebersamaan ini, tetapi benakku tetap saja berhitung setiap kali bertransaksi dengan si barista. Aku suka kopi, tapi tidak suka harganya. Betapapun lezatnya, aku tetap merasa ini tidak masuk akal. Di tempat lain yang tak kalah nyaman, dengan harga segitu aku bisa mendapatkan secangkir kopi plus kroisan daging asap yang enak.

Hal kedua, aku tidak suka cara mereka mengemas minumannya. Harga itu terlalu mahal untuk kemasan murahan mereka. Aku bilang murahan, karena kopi-kopi mereka dihidangkan dalam gelas plastik atau kertas. Sekali pakai, lalu dibuang. Sudah begitu, kita memesan sambil berdiri di depan kasir lalu membawa sendiri minuman-minumannya diiringi musik yang kadang berirama cepat. Menurutku, sama sekali nggak nyambung!

Iya nggak nyambung. Minum kopi kok kayak di restoran fast food. Jauh dari bayanganku tentang minum kopi di cafe: kopi hitam dalam cangkir beling yang menyimpan panasnya dengan baik, suasanya cozy dengan musik yang tenang, obrolan seru dengan teman-teman, membuatku betah berlama-lama bahkan jika aku datang sendirian saja.

Aku jadi inget Jazz Coffee-nya mbak Ani di Jogja dulu. Aku pernah dapet suasana itu di sana. Aku paling sering memesan kopi Toraja, menurutku rasanya agak-agak bau daun. Secangkir berharga lima ribu dan cukup enak untuk menemaniku berlama-lama di sana. Suasananya homy banget dengan mba’ Ani jadi ibu rumah. Pelanggannya saling kenal dan saling bercerita.

Atau warung kopi Jasa Ayah di Ule Kareng, Banda Aceh. Aku ke sana pasca gempa, dan warung itu jadi favorit para relawan. Kopi Aceh dibuat dengan cara yang unik, di saring-saring gitu deh... Trus disajikan dalam gelas-gelas kecil. Empat ribu satu gelas. Di warung lain, ada yang harganya lebih murah. Ruangan tempat minum kopi sih biasa aja. Meja-mejanya berukuran besar dan tertata seperti meja makan. Tapi toh kami selalu betah berlama-lama. Apalagi makanannya enak-enak. Dalam sekali kedatangan, aku bisa pesen telur setengah matang, martabak Aceh, mie Aceh, trus kue-kue basahnya yang enak... Dan, percaya nggak... pertama kali ke sana aku ketemu Fahmi, temen kuliahku di Jakarta yang asal Aceh. Ternyata, itu emang warung kopi yang sering dia ceritakan.

Aku juga inget warung kopi di Sabang. 750 segelas! Aku dan Dodi sampai terkaget-kaget waktu mau bayar. “Berapa?” Dodi mengulang pertanyaan, “Kopinya dua gelas, lho...” Tapi ibu pemilik warung tidak berubah pikiran, “Seribu lima ratus, dua kopi,” katanya.

Memang suasana Jazz Coffee-nya Mba Ani dan warung-warung kopi di Aceh nggak se’mahal’ cafe-cafe di Jakarta. Tapi mereka menawarkan ruang yang nyaman untuk aku kembali, kembali, dan kembali ke sana terus untuk menikmati secangkir kopi yang uapnya mengepul, menyeruputnya pelan-pelan, lalu mengobrol atau sekedar duduk berlama-lama. Dan waktu seperti berhenti di warung-warung kopi ini.