Showing posts with label transportasi publik. Show all posts
Showing posts with label transportasi publik. Show all posts

Friday, August 04, 2017

Toronto: Kota yang Percaya pada Warganya

Mirip dengan Jogja, orang-orang di Toronto menggunakan mata angin sebagai orientasi arah. Bedanya, kalau di Jogja patokannya adalah Gunung Merapi di utara, maka di Toronto patokannya adalah Danau Ontario di selatan. Tentu danau tidak seperti gunung yang langsung terlihat tanpa halangan. Tapi menanyakan letak danau sepertinya cukup umum di sini, dan dapat dengan mudah dijawab oleh orang di sana.

Seminggu di Toronto, Canada, kami hampir melulu menelusurinya dengan angkutan umum, --hanya saat pulang dan pergi dari bandara, juga acara-acara dengan KJRI kami dijemput mobil plus sekali dipesankan uber karena sudah cukup larut. Kebetulan hotel tempat kami tinggal berada di down town dan dekat dengan stasiun MRT. Malahan, kalau jaraknya masih di bawah 2 km, kami memilih jalan kaki. Apalagi trotoarnya nyaman, juga cuaca yang bersahabat. Summer tapi masih terhitung sejuk untuk kami orang tropis.


Angkutan umumnya juga nyaman. Antara MRT, bus dan trem (street car) terkoneksi dan hanya perlu sekali bayar untuk sekali jalan. Artinya, kita bisa berganti tiga moda itu dalam satu kali perjalanan hanya satu kali membayar dan menunjukkan tiket transfer saat akan berpindah. Harga tiket, baik untuk MRT, bus, maupun trem, sama semua yakni $3.25 untuk warga biasa. Untuk pembelian lebih dari 3, diskon menjadi $3/orang. Untuk manula dan anak-anak, ada harga khusus.


Satu yang aku perhatikan, tidak ada petugas pemeriksa tiket di sana. Untuk MRT, misalnya, orang yang tidak punya tiket terusan akan membeli token yang berbentuk seperti koin dengan diameter sekitar 1 cm, langsung dimasukkan di kotak kenclengan di depan petugas loket. Kadang kalau kehabisan token, kita diminta langsung masukin duitnya. Pemegang tiket bus, cukup menunjukkan tiketnya ke petugas loket, entahlah si petugas sempat baca jam dan tanggal di tiket bus itu atau tidak. Percaya aja, sepertinya.

 

Juga pengalaman saat naik Go Train, kereta commuter ke luar kota Toronto. Tiket dibeli di loket. Lalu kami menuju peron yang ditentukan. Saat masuk peron, di dalam kereta, maupun saat tiba di stasiun tujuan, tidak sekalipun ada petugas yang memeriksa tiket. Tiketnya pun kertas, bukan macam kartu yang di-tap di pintu masuk dan keluar. Rasanya, kalau tadi ngga beli tiket, juga ngga akan ketahuan. Hehehe…


 Untuk bis, tiket bisa dibayarkan dengan uang pas ke sopirnya lalu kita akan diberi kertas tiket. Kecuali kalau kita naik MRT sebelumnya, tinggal menunjukkan tiket transfer yang bisa diambil di mesin di dalam stasiun. Berbeda dengan trem yang menyediakan mesin tiket di halte dan di atas bus. Dan, baru tau kalau mesin itu hanya menerima koin, padahal yang kami pegang uang kertas. Celingukan, ngga ada petugas, sementara sopirnya jauh di depan (mungkin sekali bisa bayar langsung ke sopirnya kayak naik bus). Mungkin bisa duduk aja, cuek, toh nanti kalau sambung MRT juga bayar. Tapi lalu ada penumpang yang nawarin koinnya untuk ditukar. Lega deh, karena akhirnya bisa nyobain mesin tiket. Hehehe…

Sebetulnya sistem transportasinya sangat nyaman dan jelas informasinya. Yang membingungkan aku justru kontrolnya yang sangat longgar. Jadi ngebayangin, apakah ada, atau banyakkah warganya yang suka nilep-nilep ongkos? Hehehe…


 Aku menulis ini tidak untuk membandingkannya dengan Indonesia atau Jakarta. Toh tetap tidak ada menunggu bus yang senikmat sambil makan siomay atau gorengan. Berjalan kaki menelusuri kota, menaiki transportasi publik adalah pintu kita memahami denyut suatu kota.

Friday, February 17, 2012

commuter's story dimulai

Aku ingat sekali peristiwa angkot Depok-Pasar Minggu beberapa bulan lalu, dalam perjalanan pulang ke Cipulir setelah menghadiri sebuah acara di kampus UI, Depok. Menjelang petang, angkot yang aku tumpangi merapat ke terminal Pasar Minggu. Belum benar-benar masuk di terminal, mungkin sekitar 100 meter di depan,  ketika tiba-tiba sekumpulan perempuan berlari dan berlomba menaiki angkot, Mereka berteriak dan berebut naik.

Untuk beberapa saat, aku tidak menyadari apa yang terjadi. Mereka begitu agresif (?) seolah-olah (ini perumpamaanku) ada Justin Biber di dalam angkotnya. Hehehe... Tapi memang seperti itulah. Hingga akhirnya aku sadar bahwa mereka adalah perempuan-perempuan yang berjalan menjauh keluar terminal, demi mendapat kursi di angkot itu. Barulah aku memutuskan turun dari angkot.

Aku tidak benar-benar memahami hingga aku menjadi bagian dari commuter. Betul. Commuter. Awal tahun ini kami pindah rumah dan bukan di Jakarta. Rumah kami rumah mungil di Sawangan, Depok. Rumah yang cukup nyaman untuk kami berdua. 

Butuh waktu cukup lama untuk akhirnya mengambil keputusan pindah ke Sawangan. Jauh, ya? Begitu kata orang-orang. Memang jauh. Itu juga yang membuat kami berpikir panjang sebelum pindah. Tapi kemudian kami menghitung. Jarak ini dibadingkan dengan udara bersih di lingkungan tempat tinggal kami, lebih sedikit debu, polusi dan tentu saja jauh lebih tenang dibanding tempat tinggal kami sebelumnya. Tidak ada suara bajai tengah malam, atau balap motor di setiap malam minggu. Baiklah, kami pindah!

Dan menjadi commuter. Dan akhirnya aku paham kenapa sekumpulan perempuan itu begitu gigih berjuang untuk bisa lebih cepat sampai ke rumah. 

Satu kali aku mencoba naik bis kota, dan itu sangat melelahkan. Aku lebih memilih KRL sekalipun histeria dan agresivitas penggunanya tidak kalah heboh. Beberapa hari pertama menggunakan KRL, aku masih shock ketika melihat seorang perempuan jatuh saat mengejar kereta, ketika penumpang-penumpan commuter line nemplok di pintu seperti ikan sapu-sapu dan walaupun sepertinya tidak ada ruang untuk dimasuki orang lagi, tetap saja ada orang yang berhasil masuk ke dalam gerbong. Sering aku melewatkan 1-2 kereta karena merasa tidak mungkin bisa masuk ke dalamnya. Sesekali nekat masuk dan tiba-tiba badan terdorong orang dari belakang. Rasanya packing kalau mau traveling, semuanya harus bisa masuk ke tas. Tapi ini orang yang dipacking, dijejel-jejelin masuk dan empet-empetan. Sungguh.

Tapi sejauh ini, aku bisa menikmati ; )


Sunday, November 20, 2011

berkereta di Paris

Desember tahun lalu, untuk pertama kalinya aku ke Paris. Sebuah konferensi internasional di Paris meminta aku mempresentasikan Sokola Rimba di sana, tentu saja mereka menanggung biaya perjalanan dan akomodasi. Dan kesempatan langka ini kumanfaatkan sekalian untuk berjalan-jalan di Paris dan kota-kota negara lain di Eropa. Kapan lagi? ; )

Panitia menginapkan aku di hotel tempat acara yang berlokasi di Disneyland. Tempat ini sudah berada di luar kota Paris, tapi masih terjangkau dengan Metro (line kreta MRT di Paris). Kurang lebih seperti Bogor dan Jakarta. Kebetulan juga, rumah teman yang aku tuju untuk menginap setelah konferensi itu juga tidak jauh dari Disneyland. Hanya beberapa stasiun saja dari Disney, masih di luar kota Paris.

Gracia, temanku itu, memberikan informasi yang sangat detail tentang bagaimana aku mencapai apartemen mungilnya. Dia wanti-wanti agar aku melihat papan rute dan memastikan lampu kecil di bawah nama stasiun yang aku tuju menyala. Baiklah, dengan ransel besar di belakang dan ransel kecil di depan, pelan-pelan aku beranjak dari hotel.


Stasiunnya tak seramai yang aku bayangkan, mungkin karena di pinggir kota. Setelah membeli tiket, aku pun naik ke peron. Sepi. Ada satu kereta menunggu di sana. Aku tidak tahu apakah itu kereta yang dimaksud atau bukan. Aku belum cukup familiar dengan rambu-rambu berbahasa Prancis karena itu perjalanan pertamaku.

Tiba-tiba ada seorang anak muda, mungkin usianya sekitar 14 tahun. Dia mendekati lalu bertanya dengan bahasa Prancis. Aku tidak paham, tapi aku memperlihatkan tiketku padanya. Dia langsung menyuruhku masuk kereta yang berhenti. Lagi-lagi sepi dalam gerbong itu. Cuma ada dua orang termasuk aku. Ada papan rute di atas pintu, tapi karena dalam keadaan berhenti, lampunya pun tidak menyala. Untuk meyakinkan lagi, aku bertanya pada anak tadi dengan bahasa Inggris. Dia cuma yes yes aja. Harusnya dia mengerti, karena aku memperlihatkan tiketku.

Anak itu sempat pergi, lalu kembali lagi dan memberikan secarik kertas kepada penumpang-penumpang Metro. Aku sudah lupa tepatnya, ditulis dalam bahasa Inggris kurang lebih isinya bahwa dia adalah imigran dan tidak punya uang. Whoa, sama dengan yang sering kualami di Metromini di Jakarta. Karena aku tidak tahu berapa biasanya orang memberi, aku putuskan untuk tidak memberi. Maaf ya... Hehehe... Backpaker kan harus irit...

Untung tidak memberi. Karena begitu lampu dinyalakan dan kereta berjalan, ternyata lampu di bawah tulisan stasiun tujuanku tidak menyala. Aku tertipu! Hmmmfff... Masalah selesai dengan berhenti di stasiun lain dan menunggu kereta berikutnya, tentu saja setelah memastikan bahwa keretanya berhenti di stasiun tujuan.


Pengalaman buruk bermetro tak hanya sekali itu. Pada perjalanan ke Bandara di hari terakhirku di Paris, ada kejadian lain yang cukup mengganggu dan membuat tak nyaman orang asing sepertiku. Kereta tiba-tiba berhenti di sebuah stasiun kecil. Tak ada keterangan resmi berbahasa Inggris tentang penyebab dan bagaimana kami harus meneruskan perjalanan ke bandara.

Dalam kebingungan, aku berkelompok dengan dua perempuan setengah baya dari Belanda dan perempuan muda dari Amerika yang sama-sama orang asing dan menuju bandara. Kami sama-sama tidak mengerti pengumuman bahasa Prancis tentang situasi itu dan memutuskan mencari taksi di luar. Biayanya dibagi empat. Tidak mudah mencapai pintu keluar, apalagi mereka bertiga masing-masing membawa koper besar menuruni tangga dan menghindari genangan air di stasiun yang tampaknya sedang direnovasi itu. Karenanya pula kami melewati lorong-lorong darurat yang mungkin untuk menghindari bagian yang direnovasi. Dan aku juga tidak ingat mengapa kami harus menerobos palang otomatis. Mungkin karena itu bukan stasiun tujuan kami. entahlah, aku sudah lupa.

Belum sempat semua orang menerobos palang otomatis, petugas menyuruh kami kembali ke atas karena jalur kereta sudah pulih kembali dan dalam 15 menit akan ada kereta yang lewat. Hmm, baiklah. Kami naik kembali ke peron dengan sama susahnya saat turun tadi.

Begitulah. Aku tidak langsung naik kereta pertama yang lewat karena sangat penuh lebih dari 30 menit kemudian . Toh pesawatku masih cukup lama. Sengaja aku sisakan waktu panjang agar sempat mengurus ransel besarku yang dititip di loker bandara.

Begitulah. Berkereta di Paris tak lebih baik dari Jakarta. Maksudku, Paris dan Jakarta sama-sama kota besar. Pasti punya persoalan urban yang kurang lebih sama juga. Di beberapa stasiunnya aku juga menemukan sudut-sudut gelap dan berbau pesing. Ngga beda kan, sama di Jakarta.. hehehe...


Tapi kesempatan menelusuri jalanan Paris, menuju berbagai tempat dengan Metro, menghirup dingin dan basah oleh salju bulan Desember di sana, ah, aku sungguh beruntung ; )


Sunday, August 21, 2011

kapan ya, Jakarta?

Beberapa kali aku menemukan komentar, "Kapan ya, Jakarta bisa seperti ini?" sebagai status atau keterangan foto di facebook milik teman-teman yang sedang jalan-jalan ke luar negeri. Sungguh tidak adil rasanya membandingkan Jakarta dengan kota-kota yang umumnya negara maju. Walaupun rasanya harus jujur kalau kota-kota itu punya kelebihan yang Jakarta tidak (atau kurang) punya, seperti:

1. disiplin


2. informatif

3. jalur pedestrian yang nyaman
4. jalur sepeda yang aman
5. memberi alternatif transportasi bebas polusi
6. modern
7. tersedianya mass rapid transportation yang nyaman
8. ruang terbuka yang ramah pada warganya


9. sungai kota yang bersih dan terawat
10. tertib.
Foto-foto tadi diambil dalam berbagai perjalananku. Dalam perjalanan itu pula aku menyadari bahwa tiap kota (seharusnya) punya karakter sendiri termasuk Jakarta. Siapa bilang kita tidak butuh 10 hal di atas tadi. Tapi kubilang, Jakarta pun perlu punya karakternya sendiri. Tidak perlu menjadi semodern Sanghai atau penuh aturan seperti Singapore. Aku tidak ingin Jakarta menjadi seragam dengan kota-kota lain. Satu contoh terbaik, aku sangat suka pada karakter Bandara Soekarno-Hatta yang mewakili Indonesia dengan ornamen-ornamen etnik, karakter bangunan batu bata, dan juga taman-taman tropisnya. Dibandingkan dengan bandara Singapore, Bangkok, Frankfurt, atau Shanghai, yang didominasi warna metalik yang dingin dan membosankan. Seragam.

Menurutku, Jakarta cuma perlu ramah pada penghuninya, mendengar keluh kesah dalam keseharian mereka dan memfasilitasi tiap warga dengan adil baik itu miskin atau kaya. Selain itu, aku percaya Jakarta punya ceritanya sendiri.

Tuesday, August 16, 2011

unpredictable but fun

Aku menguping pembicaraan seorang teman yang ditanya, menyenangkankah tinggal di Australia? Ia memang baru saja meninggalkan Jakarta untuk kuliah di Canberra. Dan jawabannya adalah, "Di sana membosankan sekali." Bukan, bukan karena Canberra kota kecil yang sangat sepi apalagi jika dibandingkan dengan Jakarta. Melainkan karena, "Semua di sana bisa diprediksi. Kita sudah tahu bisnya lewat mana, akan tiba di halte jam berapa, toko tutup jam berapa. Kita sudah bisa menebak apa yang akan terjadi," begitu katanya.

Aku sendiri membuktikannya saat menginjakkan kaki di benua Kangguru itu. Walaupun deg-degan karena ini pengalaman pertama ke luar Asia (well, kita tahu kultur Asia) tapi toh semua lancar saja karena aku sudah (diberi) tahu bagaimana dari Sidney menuju Canberra dan semuanya tepat seperti petunjuk tanpa opsi lain. Semua teratur dan terprediksi.

Memang beda dengan Jakarta atau kota-kota Indonesia lainnya. Damri bandara jurusan Blok M saja kadang nggak lewat Sudirman untuk menghindari macet. Tapi sungguh menyenangkan karena kita bisa menunggu bis di mana saja, tukang gorengan yang selalu ada kalau lapar di perjalanan, tukang sol sepatu, tukang jahit, tukang payung, dan berbagai service lainnya yang lewat di depan rumah. Adakah itu di Australia? Pastinya tidak.

Dan kitapun ngga pernah tahu kapan bis akan lewat atau malah tidak lewat karena jalurnya berubah, nggak pernah tahu tempat mangkal tukang gorengan karena bisa saja dia tiba-tiba dikejar kamtib, juga tidak tahu apakah hari ini tukang sol sepatu, tukang jahit atau tukang payung lewat, kita bisa mengetuk toko yang mau tutup untuk membeli sesuatu sambil pasang tampang agak memelas, bisa juga menawar harga-harga di pasar. Semuanya jadi penuh kejutan dan petualangan.

Well, selamat menikmati Jakarta!

Tuesday, August 11, 2009

mengejar kereta

Jarang-jarang naik KRL. Tapi kalau Jakarta-Depok memang sebaiknya naik KRL. Aku sih seneng-seneng aja karena di kereta - apalagi yang ekonomi, suka banyak orang jualan. Mulai dari iket rambut, tahu, mainan, buah yang sudah dipacking 5.000an dan lain-lain. Aku seneng-seneng aja. Mungkin karena jarang naik KRL dan seringnya melawan arus commuter jadi nggak pernah sampai desak-desakan banget.

So, pagi-pagi aku sudah sampai Cikini. Di loket aku tanya kereta apa yang paling duluan berhubung sedang dikejar waktu. Kata petugasnya, kereta ekonomi. Ya sudahlah, naik ekonomi toh seru juga... Naiklah kita ke peron untuk menunggu kereta.

Semenit... dua menit... lima menit... Mana, ni keretanya? Yang ada malah kereta api lewat lalu berhenti di ujung peron. Lho kok?

Ternyata sedang ada masalah. Ternyata ada kereta yang mogok. Berhubung relnya jadi satu (KA dan KRL), jadi banyak kereta harus mengantre. Satu kereta lewat, dua, lalu tiga... Masih saja bukan KRL yang lewat... Duh, padahal lagi buru-buru...

KRL pertama yang lewat ternyata ekonomi AC Depok. Dipikir-pikir, dari pada ilang waktu mending naik aja. Nanti bayar denda di atas deh, karena toh nggak mungkin turun ke loket untuk beli tiket ekonomi AC. Yang ada, pas naik keretanya udah pergi.

Maka naiklah ke KRL tu. Eh, di kereta nggak ada petugas tiket sampai tiba di stasiun Depok. Kejadian ada di petugas peron stasiun Depok. Dia tanya, kenapa tiketnya ekonomi padahal naiknya AC. Ya aku jelasin aja masalahnya karena bukan mauku juga menipu petugas. Kan di loket tiket tadi sudah minta kereta yang paling cepat. Bayar denda ngga papa sebetulnya, kan udah niat. Tapi, eh, slip denda abis... Nah loh! Akhirnya aku dikasih tiket seharga denda: Rp10.000,- sebagai ganti slip denda.

Hmmm... Mungkin bukan masalah besar. Denda toh tinggal dibayar dan tidak berat. Tapi kepikiran aja, gimana penumpang mau tertib kalau pengelola KA & KRL sendiri masih nggak tertib. Aku cuma berandai-andai, coba ada informasi yang benar tentang jadual kereta, coba ada petugas tiket di atas kereta, coba ada slip denda untuk orang terdenda... Pasti perjalanan kereta jadi lebih asyik. Ayo, siapa hendak turut?

Wednesday, June 18, 2008

busway is not my way!


Sudah lama nggak ke Salemba, sekitar satu setengah tahun sejak aku lulus kuliah S2 di UI. Sekarang, udah ada jalur bis Transjakarta melewati kampus. Bahkan haltenya tepat di depan kampus.

Sebut saja busway dan aku berniat mencobanya. Jam 12.10 pm, selesai sedikit urusan di kampus UI Salemba. Masih ada 50 menit untuk mengejar jam buka kolam renang di Pasar Festival. Kalau masuk jam satu siang, tiketnya hanya Rp 1.600. Makanya dibela-belain. Dan ini kesenangan baruku di Jakarta yang menyehatkan.

Aku masih punya 50 menit. Kupikir cukuplah. Busway kan punya jalur sendiri. Harusnya lancar.
Ternyata aku salah duga.

Dari Salemba ke Kuningan harus tiga kali naik busway. Pertama rute Salemba – Matraman, disambung Matraman – Dukuh Atas dan terakhir baru Dukuh Atas – Kuningan. Halte pertama masih oke. Lima menit menunggu rasanya sangat wajar. Di halte Matraman depan Gramedia, aku turun lalu naik ke jembatan untuk ke halte transit. Walah ya ampun, di pintu Dukuh Atas orang yang antre sudah berjubel. Ada 50an orang. Belum lagi di pintu satunya. Mulailah menit-menit menunggu.

Busway ke-lima, baru aku bisa naik setelah setengah jam menunggu. Jelaslah nggak dapet tempat duduk. 13.08 sampai di halt Dukuh Atas, lalu harus menunggu lagi busway jurusan Ragunan yang lewat Kuningan. Lima menit... sepuluh menit... lima belas menit... Aku udah mulai menyesal. Kebayang kalau tadi naik bemo dari RSCM ke Manggarai, trus nyambung naik Kopaja 66, mungkin aku udah sampe. Toh, lalu lintas jam satu siang nggak terlalu macet. Paling banyak ongkosnya beda dua ribu lebih mahal dibanding busway dan aku mungkin sudah berada di tengah kolam renang Pasar Festival sekarang.

Tapi aku masih di halte Dukuh Atas berdesakan dengan banyak orang. Di punggung, terasa keringatku menitik. Kaki pegel karena lebih dari satu jam berdiri. Baru di menit ke-duapuluh busway-nya dateng. Antreanku bukan di paling depan. Tapi apa boleh buat, harus maksa naik dari pada nunggu lebih lama. Lagi pula, harga kolam renang 1.600 cuma sampai jam tiga.

13.35 akhirnya sampai di Pasar Festival. Satu jam dua puluh menit, Salemba – Kuningan ternyata perjalanan panjang yang harus dibayar dengan keringat, kaki pegal dan perut keroncongan. Nggak mungkin berenang kalau belum makan, sementara waktu berenang murah hampir habis. Satu jam di berenang pasti nggak puas. Kepalang tanggung juga kalau pulang. Akhirnya aku menunggu masuk jam empat untuk harga tiket Rp 10.100, sambil makan dan mengetik ini. Sambil merutuk-rutuk. Gimana enggak, tadi naik busway beralasan lebih murah dari pada naik dua kali angkutan. Ya iya, lebih murah. Tapi jadinya renangku yang harus bayar lebih mahal!

Efektifkah busway? Efisienkah?

Busway-nya emang nggak macet. Tapi haltenya jauh lebih macet. Besok-besok pasti pikir dua kali naik busway model begini. Amannya ya yang satu trip, misalnya Blok M – Kota. Kalau untuk yang transit-transit, sorry deh, kecuali aku punya banyak waktu dan kerelaan untuk menunggu. Aku membuktikan, busway is not my way...

Thursday, May 29, 2008

Jakarta Kelabu

Sudirman 17:54. Empat perempuan duduk di halte dengan aksi yang sama: menutup hidung dengan tisu atau sapu tangan. Udara abu-abu memang tak nyaman untuk bernafas. Apalagi dengan jarak kendaraan yang rapat dan tak kunjung berlalu. Sore ini kelabu.

Sama kelabu dengan wajah-wajah letih sepulang kerja. Sama kelabu ketika menyadari kenyataan bahwa ongkos bis kota naik, dan ada di antaranya naik dengan semena-mena. Aku masih maklum kalau ongkos Kopaja dan Metromini naik dari Rp 2.000 jadi Rp 2.500. Baiklah. Bukan aku mendukung kenaikan harga BBM, tapi menyadari konsekuensi bahwa kehidupan keluarga kernet bis makin sulit setelah naiknya BBM membuatku rela saja membayar kenaikan ongkos bis.

Tapi ada yang menurutku semena-mena: Bis Bianglala 44 Cileduk-Senen. Ini ruteku pada suatu pagi. Dan aku harus cemberut ketika membaca pengumuman tarif baru yang ditempel di dalam bis. Ongkos yang semula Rp 5.000 kini naik jadi Rp 7.000. Artinya kenaikannya Rp 2.000. Artinya mereka menaikkan ongkos 40%. Serombongan ibu yang berdiri di belakangku terdengar mengomel. Katanya, BBM saja naik tidak sampai 15%, kenapa ongkos bis naik semahal itu. Tapi kernet tidak peduli sama sekali.

Aku turun di Ratu Plasa, melanjutkan perjalanan dengan Patas AC Mayasari 05 Blok M – Bekasi. Yang ini naiknya masih wajar, dari Rp 5.500 jadi Rp 6.500. Padahal bis ini lewat tol. Jadi emang keterlaluan Patas AC 44 itu! Aku lebih terkejut lagi sewaktu perjalanan pulang dengan Patas AC Mayasari 35 Senen-Cileduk, aku membayar Rp 1.000 lebih murah dari pada Bianglala 44 padahal rutenya hampir sama.

Jakarta makin kelabu dengan tampang-tampang cemberut di bis kota karena kenaikan ongkos. Mau tidak mau harus berpikir ekonomis. Turun di pintu tol Jati Bening, aku disambut teriakan para tukang ojek yang rupanya sudah mengenaliku, “Kranji, Kraji!” Kujawab saja, “Enggak, Bang, Kali Malang situ!” Tukang ojek ganti yang kelabu... “Habis gimana lagi, BBM naik, ojek pasti naik. Rute rumah-kantor bisa-bisa sampe Rp 40.000 kalau aku sambung pake ojek sampe kantor. Ya sudah, Kali Malang saja lalu sambung pakai Mikrolet yang juga naik ongkosnya... Hiks...

Monday, February 18, 2008

Why Bangkok?



“Sa wat dii kha …” begitulah kota ini menyapaku. Tak hanya oleh petugas bandara, resepsionis penginapan atau pedagang souvenir di sepanjang Khaosan Road. Melalui berbagai tanda (sign) dan papan informasi, kota ini seakan menyapaku, memudahkan perjalanan pertamaku mengenalinya.
This is ‘a Bangkok birthday trip’ dan aku melakukannya sendirian.

Tebaran tanda dan informasi ini didukung dengan jaringan transportasi yang baik dan nyaman sehingga aku seperti tak dibiarkan kebingungan di dalamnya. Ini bagian yang menyenangkan dari perjalanan, menjadi pejalan di kota asing. Sok keren aja: sepatu sendal teva, daypack, kamera dan peta. Bahkan aku sama sekali tidak ingat untuk membuka Lonely Planet saking mudahnya berjalan di sini.
Aku mencoba hampir semua angkutan umum: ojek, boat, tuk-tuk (seperti bajai), taksi, subway dan sky train. Yang belum adalah kereta disel dan bis kota karena rutenya ditulis hanya dengan huruf Thai. Mungkin angkutan ini tidak diperuntukkan bagi pendatang. Sementara tanda-tanda dan informasi di sarana transportasi lainnya ditulis dalam huruf latin dan Thai dengan sangat komunikatif.

Waktu naik boat lalu nyambung dengan sky train, aku sempet kepikir, mungkin jaringan transportasi seperti ini yang pengen dibangun ama Sutiyoso lewat waterway dan busway. Sungai Chao Phraya adalah bagian penting dari jaringan transportasi kota Bangkok. Ada beberapa jenis boat (dibedakan dengan bendera) yang berhenti di dermaga-dermaga bernomer urut. Dermaga paling ujung menyambung dengan jalur sky train. Ini jalur anti macet.
Perjalanan dengan public boat menyenangkan karena kita bisa liat berbagai landmark kota di kanan kiri sungai di sepanjang perjalanan. Tapi, kebayang nggak kalau angkutan jenis ini dicobakan di Jakarta. Kira-kira pemandangan apa yang kita bakal dapatkan di sepanjang perjalanan? Bedanya adalah pada cara memperlakukan sungai. Mereka menjaga benar Chao Phraya bahkan ikan-ikannya pun dilarang untuk ditangkapi.

Satu lagi hal penting yang dipunyai Bangkok adalah ruang terbuka. Sebuah sore, ketika aku terlalu lelah untuk meneruskan perjalanan, aku menikmati duduk di deretan panjang bangku sambil mengamati air mancur cantik di sebuah plaza terbuka di antara stasiun sky train dan sebuah sentra belanja. Di tempat lain, ada bangku-bangku taman kota yang selalu dipenuhi burung-burung merpati, taman di tepi danau yang menjadi tempat istirahat saat kelelahan belanja di Chatuchak (pasar terbesar di Asia Tenggara yang buka cuma pas weekend) atau menyengaja jogging dan senam di Lumphini.

Aku inget Jakarta. Dulu, gedung Danamon di perempatan Karet yang sekarang dibeli oleh Sampoerna punya plaza dengan bangku-bangku yang selalu ramai terutama saat jam pulang kantor. Terkadang, tak sekadar menunggu bis di sana, tetapi juga sejenak melepas penat atau menjadi titik pertemuan dengan teman. Tapi plaza itu tidak lama, seiring berganti-gantinya kepemilikan gedung itu. Dan sekarang, mungkin kita tidak bisa lagi berharap.

Kalau kita berani capek-capek promosi Visit Indonesia 2008, mestinya jangan biarkan tamu-tamu kita (atau bahkan orang kita sendiri) kebingungan mencari tahu rute bis kota atau kenapa justru penjual teh botol di pinggir jalan lah yang menyediakan bangku-bangku pelepas lelah dalam perjalanan?

Khawp khun kha…

Tuesday, September 13, 2005

bis kota keliling jakarta

Kemarin agak kaget ketika kenek bis patas Mayasari minta ongkos enam ribu satu orang. Katanya, emang gitu kalau rute Blok M – Cikarang. Tapi aku kan turun di Jatibening? Sama aja, katanya. Kecuali kalau naik dari Jatibening ke Blok M.
Sebenernya berapa sih ongkos resmi bis kota?

Kalau naik patas AC Cileduk-Senen, aku biasa bayar Rp. 3.500,00. Ini udah naik. Dulu sebelum BBM naik, ongkosnya Rp. 3.300,00. Kalau naik yang jurusan Pulau Gadung, kernetnya suka minta Rp. 4.000,00, tapi kalau aku bilang bahwa aku turun di Sudirman, tarifnya jadi tiga setengah lagi. Sekali waktu aku naik bis AC Blok M – Rawamangun. Kernetnya aku kasih duit lima ribuan. Eh, kembaliannya Rp. 1.700,00.

Terus terang aku agak bingung, apakah tarif bis Patas AC memang berlainan?

Lain lagi kalau naik Metromini 69 yang harusnya bayar Rp. 1.400,00. Setiap kali kasih 1.500,00 nyaris nggak pernah dapet kembalian. Emang sih, uang 100 buat satu orang mungkin kecil sekali artinya. Buatku, itu jatah untuk pengamen di bis. Tapi coba dihitung, kalau setiap penumpang satu bis, dalam sehari, menyumbang 100 rupiah! Pasti nominalnya gede juga.

Cuma, aku selalu inget mama pernah pesen. Kasusnya di Jogja sih, yang keneknya selalu ribut minta ongkos umum ke mahasiswa atau pelajar yang nggak pake seragam. Kata mama, mahasiswa memang miskin, tapi kok yang disuruh mensubsidi kernet bis. Artinya, orang miskin membantu orang miskin. Intinya jangan pelit ama kernet bis.
Makanya, aku kadang feel guilty juga kalau naik PPD 67 Senen – Blok M yang lewat Salemba. Soalnya, meskipun kasih duit dua ribu, pasti kembaliannya lima ratus. Padahal ongkos resminya Rp. 1.600,00. Viva 67, deh!

Sunday, May 29, 2005

"ini Jakarta!"

Baru setengah jam sebelumnya aku mengguman, “ini Jakarta!” sambil berusaha menikmati penantianku dalam hingar suara berbagai jenis musik dari pedagang VCD bajakan di kaki lima, dalam riuh kenek bis mencari penumpang, dalam kerumun orang-orang letih sepulang kerja, dalam kesibukan orang gila yang menari di depan kios VCD. Gerobak jagung, rujak, teh botol, bakpao, dan gorengan berjajar di mulut terminal Senen tempat aku menunggu bis menuju rumah. Menurutku, inilah Jakarta yang sebenar-benarnya, dan bukannya Starbucks, Mc. Donald, atau Hard Rock.

Ini Jakarta, di mana orang-orang berjuang mencari hidup.

Menjelang petang, aku melihat Patas AC nomer 44 bergerak menuju dan melewati pintu terminal tempat aku berdiri. Itu bis menuju rumah! Spontan aku bergerak mengikuti laju bis. Cepat... cepat... lalu...

Swing...

Aku merasakan badanku melayang sesaat, lalu terjatuh.
Jedug!!!
“oops!”

Saat melayang, aku sempat menyesal karena tidak pernah mengingat trik-trik jatuh yang pernah aku denger dari Dodi. Maka dalam hitungan sepersekian detik, aku cuma ingat untuk melindungi kepala. Untuk itu tanganku bekerja dan siku kiri mendarat dengan manis di aspal depan terminal. Botol minuman yang aku pegang, terpental entah kemana. Aku tahu, siku dan telapak tangan yang menjadi penumpuku pasti akan perih sekali nantinya.

Aku sempat mendongak dan melihat seorang laki-laki gendut berkemeja merah tua berlari kencang sekali. Dia pasti si penabrak. Boro-boro nolongin, dia sama sekali tidak berhenti. Lebih gondok lagi ketika menyadari bahwa dia satu bis denganku. Alhasil sepanjang perjalanan aku cemberut dan menatap tajam ke arahnya.

Harusnya memang aku dekati dia dan langsung semprot. Sayangnya aku masih berpikir, “gimana nanti kalau dia cuek, gimana kalau dia nggak ngakuin? Pasti aku juga yang malu.” Ini Jakarta, dan kota ini punya banyak kemungkinan.

Lebih gondok lagi, HP di dalem tas ternyata terbentur cukup keras waktu aku jatuh. Layarnya sempet rusak. Aku jadi nyesel nggak marah ke orang itu. Apalagi mendengar komentar orang-orang rumah waktu aku menceritakan kejadian itu. “Ini Jakarta!” kata mereka sambil tertawa... J

Saturday, May 28, 2005

amplop-amplop di bis kota

Temanku punya tas baru. Bahannya kulit, berwarna hitam, berbentuk persegi panjang tegak. Keren sih, tapi menurutku tas itu mirip tas yang dipakai anak-anak kecil ngamen ala karaoke di atas metromini di Jakarta. Tinggal diisi tape, lalu dilubagi pas bagian speaker. Aku ketawa, temanku manyun.

Tapi beneran, tas seperti itulah yang dipakai anak-anak untuk ngamen. Kebetulan aku pelanggan Metromini nomer 69. Sepanjang perjalanan dari terminal Blok M sampai Cipulir, paling tidak dua kali pengaman cilik naik ke atas bis dan beraksi dengan karaoke. Yang pertama naik tak jauh dari terminal Blok M. Sedangkan pengamen kedua, naik di pasar Mayestik. Kadang sendirian, kadang berdua.

Aku ingat betul pengamen perempuan yang naik di daerah Mayestik. Umurnya kira-kira tujuh tahun. Rambutnya merah dan penuh telur kutu. Seperti yang lain-lain, begitu masuk ia langsung membagikan amplop kecil lusuh kepada semua penumpang. Di salah satu sisi amplop ditempel fotokopi tulisan tanggan yang diawali dengan bacaan bismillah dengan huruf arab. Tulisan selanjutnya kurang lebih meminta bantuan untuk biaya sekolah.

Setelah membagikan amplop, ia kembali ke bagian depan Metromini lalu menyalakan tape yang dibawa dengan tas yang mirip punya temanku tadi. Setelah musik mengumandang, mulailah ia menyanyi. Biasanya lagu dangdut. Suaranya lantang agak serak, seserak iringan musik dari tape itu. Selesai menyanyi, ia mengumpulkan amplop-amplop dari tangan penumpang sambil berharap ada yang mengisikan sejumlah rupiah. Demikian, setiap kali, sepanjang perjalanan...

Pengamen kecil itu bukan yang pertama memakai amplop untuk meminta uang. Sebelum ini, cara ngamen dengan membagikan amplop sudah ada. Lagi-lagi di atas bis kota, dan lagi-lagi, saya mengalaminya di atas Mentromini saat melewati pasar Mayestik. Kali ini, amplop dibagikan oleh ibu-ibu dan tidak sedekil milik pengamen kecil. Tulisannya pun lebih rapi. Selain itu, kaset yang diputar bukan lagu dangdut tetapi suara orang berbicara yang diikuti irama kasidah. Intinya, ia meminta sedekah.

Ngomongin amplop, aku jadi teringat kecenderungan di pesta perkawinan sekarang. Tamu undangan kini tidak lagi membawa kado, tetapi cukup menyelipkan amplop dalam kotak yang telah disediakan. Nah, pengamen-pengamen di atas bis kota itu mungkin ikut-ikutan trend ini dan tidak lagi terang-terangan menadahkan tangan mohon bantuan. Juga tidak menadahkan topi atau kantong bekas permen.

Memang, uang yang ditempatkan dalam amplop biasanya bukan uang recehan. Misalnya saja amplop honor, amplop gaji, amplop sogokan untuk wartawan, atau amplop di pesta kawinan. So, mungkin dengan memakai amplop, pengamen-pengamen bis kota itu berharap mendapat rejeki yang lebih besar. Padahal aku sudah memeriksa dengan teliti, di amplop milik pengamen berkutu itu tidak ada tulisan: mohon sumbangan tidak berupa barang atau karangan bunga. Jadi sebetulnya, kita bisa menyumbang apa saja, kan?

Anyway, bis kota terus berjalan mengantarkan saya ke tempat tujuan. Semakin lama, semakin banyak orang yang naik dan turun termasuk berbagai rupa orang minta sumbangan. Ada yang seolah sungkan menyodorkan amplop, ada juga juga yang terang-terangan mengaku baru keluar dari penjara dan kehabisan uang. Ada pengamen dengan gitar, ada yang baca puisi dengan lantang. Ada preman, ibu-ibu, anak-anak, sampai laki-laki berpakaian perempuan. Mereka lebur jadi satu dengan peluh penumpang, teriakan pedagang asongan menawarkan tisu atau permen, gerak cepat copet, serta anak-anak sekolah yang mencoreti kursi bis dengan nama pacarnya. Sesekali terhirup karbon monoksida dari jalanan macet. Sesak. Dan sesak inilah yang dibawa berkeliling oleh bis-bis kota. Dari terminal ke terminal. Tak ada yang ditawarkan selain rutinitas.