Saturday, September 24, 2011

mencari rumah di jakarta?

Sudah hampir setahun aku mencari rumah. Dengan budget yang amat terbatas, tentu ini tidaklah mudah. Hampir tidak ada pilihan, dan aku sedang menyiapkam mental untuk suatu hari nanti memulai rutinitas perjalanan panjang dari dan pulang ke rumah. Seperti yang sering kutemui sedang tertidur di bis kota setiap pagi, atau berboncengan pulang saat malam sambil saling diam karena kelelahan. Mungkin juga akan sulit bagi orang-orang yang akan mengunjungi kami.

Aku cuma ingin rumah kecil dengan sisa halaman yang cukup untuk satu-dua pohon besar untuk tenda dan hammock, dapur modern kalau bisa dengan pantry kecil, ruang makan dengan meja besar yang akan menjadi fokus aktivitas di rumah dengan televisi flat di dinding, sudut untuk studio jahitku, kamar tidur yang nyaman dan lega, kaca-kaca besar untuk masuk cahaya dan udara ke dalam rumah, temat cuci dan jemur yang kering saat tidak dipakai, tidak bising dan berdebu, bercat putih, abu-abu, dan aksen merah.

Apakah aku minta terlalu banyak?

Sunday, August 21, 2011

kapan ya, Jakarta?

Beberapa kali aku menemukan komentar, "Kapan ya, Jakarta bisa seperti ini?" sebagai status atau keterangan foto di facebook milik teman-teman yang sedang jalan-jalan ke luar negeri. Sungguh tidak adil rasanya membandingkan Jakarta dengan kota-kota yang umumnya negara maju. Walaupun rasanya harus jujur kalau kota-kota itu punya kelebihan yang Jakarta tidak (atau kurang) punya, seperti:

1. disiplin


2. informatif

3. jalur pedestrian yang nyaman
4. jalur sepeda yang aman
5. memberi alternatif transportasi bebas polusi
6. modern
7. tersedianya mass rapid transportation yang nyaman
8. ruang terbuka yang ramah pada warganya


9. sungai kota yang bersih dan terawat
10. tertib.
Foto-foto tadi diambil dalam berbagai perjalananku. Dalam perjalanan itu pula aku menyadari bahwa tiap kota (seharusnya) punya karakter sendiri termasuk Jakarta. Siapa bilang kita tidak butuh 10 hal di atas tadi. Tapi kubilang, Jakarta pun perlu punya karakternya sendiri. Tidak perlu menjadi semodern Sanghai atau penuh aturan seperti Singapore. Aku tidak ingin Jakarta menjadi seragam dengan kota-kota lain. Satu contoh terbaik, aku sangat suka pada karakter Bandara Soekarno-Hatta yang mewakili Indonesia dengan ornamen-ornamen etnik, karakter bangunan batu bata, dan juga taman-taman tropisnya. Dibandingkan dengan bandara Singapore, Bangkok, Frankfurt, atau Shanghai, yang didominasi warna metalik yang dingin dan membosankan. Seragam.

Menurutku, Jakarta cuma perlu ramah pada penghuninya, mendengar keluh kesah dalam keseharian mereka dan memfasilitasi tiap warga dengan adil baik itu miskin atau kaya. Selain itu, aku percaya Jakarta punya ceritanya sendiri.

Tuesday, August 16, 2011

unpredictable but fun

Aku menguping pembicaraan seorang teman yang ditanya, menyenangkankah tinggal di Australia? Ia memang baru saja meninggalkan Jakarta untuk kuliah di Canberra. Dan jawabannya adalah, "Di sana membosankan sekali." Bukan, bukan karena Canberra kota kecil yang sangat sepi apalagi jika dibandingkan dengan Jakarta. Melainkan karena, "Semua di sana bisa diprediksi. Kita sudah tahu bisnya lewat mana, akan tiba di halte jam berapa, toko tutup jam berapa. Kita sudah bisa menebak apa yang akan terjadi," begitu katanya.

Aku sendiri membuktikannya saat menginjakkan kaki di benua Kangguru itu. Walaupun deg-degan karena ini pengalaman pertama ke luar Asia (well, kita tahu kultur Asia) tapi toh semua lancar saja karena aku sudah (diberi) tahu bagaimana dari Sidney menuju Canberra dan semuanya tepat seperti petunjuk tanpa opsi lain. Semua teratur dan terprediksi.

Memang beda dengan Jakarta atau kota-kota Indonesia lainnya. Damri bandara jurusan Blok M saja kadang nggak lewat Sudirman untuk menghindari macet. Tapi sungguh menyenangkan karena kita bisa menunggu bis di mana saja, tukang gorengan yang selalu ada kalau lapar di perjalanan, tukang sol sepatu, tukang jahit, tukang payung, dan berbagai service lainnya yang lewat di depan rumah. Adakah itu di Australia? Pastinya tidak.

Dan kitapun ngga pernah tahu kapan bis akan lewat atau malah tidak lewat karena jalurnya berubah, nggak pernah tahu tempat mangkal tukang gorengan karena bisa saja dia tiba-tiba dikejar kamtib, juga tidak tahu apakah hari ini tukang sol sepatu, tukang jahit atau tukang payung lewat, kita bisa mengetuk toko yang mau tutup untuk membeli sesuatu sambil pasang tampang agak memelas, bisa juga menawar harga-harga di pasar. Semuanya jadi penuh kejutan dan petualangan.

Well, selamat menikmati Jakarta!

Tuesday, August 11, 2009

mengejar kereta

Jarang-jarang naik KRL. Tapi kalau Jakarta-Depok memang sebaiknya naik KRL. Aku sih seneng-seneng aja karena di kereta - apalagi yang ekonomi, suka banyak orang jualan. Mulai dari iket rambut, tahu, mainan, buah yang sudah dipacking 5.000an dan lain-lain. Aku seneng-seneng aja. Mungkin karena jarang naik KRL dan seringnya melawan arus commuter jadi nggak pernah sampai desak-desakan banget.

So, pagi-pagi aku sudah sampai Cikini. Di loket aku tanya kereta apa yang paling duluan berhubung sedang dikejar waktu. Kata petugasnya, kereta ekonomi. Ya sudahlah, naik ekonomi toh seru juga... Naiklah kita ke peron untuk menunggu kereta.

Semenit... dua menit... lima menit... Mana, ni keretanya? Yang ada malah kereta api lewat lalu berhenti di ujung peron. Lho kok?

Ternyata sedang ada masalah. Ternyata ada kereta yang mogok. Berhubung relnya jadi satu (KA dan KRL), jadi banyak kereta harus mengantre. Satu kereta lewat, dua, lalu tiga... Masih saja bukan KRL yang lewat... Duh, padahal lagi buru-buru...

KRL pertama yang lewat ternyata ekonomi AC Depok. Dipikir-pikir, dari pada ilang waktu mending naik aja. Nanti bayar denda di atas deh, karena toh nggak mungkin turun ke loket untuk beli tiket ekonomi AC. Yang ada, pas naik keretanya udah pergi.

Maka naiklah ke KRL tu. Eh, di kereta nggak ada petugas tiket sampai tiba di stasiun Depok. Kejadian ada di petugas peron stasiun Depok. Dia tanya, kenapa tiketnya ekonomi padahal naiknya AC. Ya aku jelasin aja masalahnya karena bukan mauku juga menipu petugas. Kan di loket tiket tadi sudah minta kereta yang paling cepat. Bayar denda ngga papa sebetulnya, kan udah niat. Tapi, eh, slip denda abis... Nah loh! Akhirnya aku dikasih tiket seharga denda: Rp10.000,- sebagai ganti slip denda.

Hmmm... Mungkin bukan masalah besar. Denda toh tinggal dibayar dan tidak berat. Tapi kepikiran aja, gimana penumpang mau tertib kalau pengelola KA & KRL sendiri masih nggak tertib. Aku cuma berandai-andai, coba ada informasi yang benar tentang jadual kereta, coba ada petugas tiket di atas kereta, coba ada slip denda untuk orang terdenda... Pasti perjalanan kereta jadi lebih asyik. Ayo, siapa hendak turut?

Monday, August 03, 2009

basa-basi untuk pejalan kaki

Sebuah rutinitas baru mengantarku bolak-balik ke Dharmawangsa. Dengan Kopaja 614, aku biasa turun di halte Grand Wijaya. Bis akan berbelok ke kanan, kembali ke Jalan Fatmawati sementara aku berjalan kaki belok ke kiri menuju Dharmawangsa Square. Di sinilah trotoar berbasa-basi.

Basa-basi aku bilang, karena dia menyapaku dengan rambu yang memberi arah bagi pejalan kaki. Tepatnya setelah berbelok ke jalan Dharmawangsa, trotoar tiba-tiba terpagari rantai besi. Ada celah selebar mungkin 40 senti di antara dua tiang warna kuning-hitam. Dua tiang itu dihubungkan dengan besi melintang dengan tinggi sekitar 10-20 senti dari atas tanah. Di sebelahnya terpancang rambu bertuliskan "Pintu Pejalan Kaki".


Basa basi aku bilang, karena kemudian pejalan kaki diharapkan melewati celah itu. Artinya, kita harus melompati palang itu. Artinya, kita diharapkan punya dua kaki yang sehat dan kalau bisa jangan kegendutan kalau tidak ingin kesulitan menempuh 'pintu pejalan kaki' itu. Kalau tidak, kita harus berjalan di atas aspal dengan kendaraan kencang dari arah belakang karena pagar rantai kompleks ruko Dharmawangsa itu memagari sepanjang trotoar, hingga tepat berbatasan dengan aspal. Juga kalau kita hendak menyeberang ke gedung The City Walk di depannya, kita harus melompati rantai besi pagar trotoar itu. Pun kalau menunggu angkutan umum, siap-siap melompat pagar rantai kalau bis yang dinanti sudah tampak dari tikungan.

Trotoar di Jalan Dharmawangsa itu seperti dimonopoli oleh kompleks rukonya. Pagar rantai yang membatasinya dengan jalan, membuat halaman ruko seolah lebih luas dan dimanfaatkan untuk menempatkan pot-pot besar tanaman dan memaksimalkan parkiran mobil di sana. Padahal area itu seharusnya menjadi jalur pedestrian.

Tiba-tiba ingatan kembali di pertengahan tahun 1998, ketika aku dan teman-teman berkampanye 'aksesibilitas for all' di sepanjang Malioboro yang saat itu kami nilai tidak ramah buat pejalan kaki, khususnya bagi difabel, ibu hamil, orang tua, atau anak-anak. Ini kejadian lebih dari sepuluh tahun lalu di Jogja.

Lalu kini di Dharmawangsa, di Jakarta? Hari geenee belum aksesibel? Please, deh...


Tuesday, June 23, 2009

susah-susah Sampah

Bibi di rumah mengeluh. Katanya, buang sampah aja kok susah. Tadinya kita membuang sampah di TPS pasar yang setiap hari diambil oleh dinas kebersihan. Belakangan, TPS pasar dijaga satpam 24 jam. Katanya, yang membuang sampah di situ mesti bayar Rp1.000/hari atau Rp20.000/bulan. Tapi ternyata tidak selesai dengan uang karena tetap saja kami tidak boleh buang sampah di sana. Kata satpam lagi, TPS itu bukan untuk RT kami...

RT kami? Dulunya ada Bapak yang rutin mengutip sampah se-RT. Sebagai gantinya, kami patungan uang kebersihan untuk si Bapak yang diberikan melalui RT. Tapi belakangan si Bapak sakit, dan sampai hari ini belum ada penggantinya. Sementara, sampah terus diproduksi. Setiap hari. Setiap rumah.

Masalah tidak saja bagaimana mengelola sampah sendiri, tapi juga sampah orang. Lagi-lagi, ini keluhan si Bibi. Katanya, sering orang buang sampah di boks semen depan rumah. Memang sih, boks itu dibikin untuk tempat sampah. Tapi sejak Pak Sampah tidak datang, lebih baik sampah tidak dibuang di sana karena toh tidak ada lagi yang mengutipnya. Lalu tempat sampah ditutup dengan papan. Sialnya, papan sempat hilang dan beberapa kali Bibi memergoki orang bermotor yang melemparkan kantong sampahnya ke sana. Itu artinya, Bibi kebagian tugas mengelola lebih banyak sampah, sampah orang.

Akhirnya sampah kering dibakar di halaman rumah. Botol-botol plastik dipisahkan karena bisa dijual. Sisanya, Bibi terpaksa melemparkan sampah ke lahan kosong berpagar seng tak jauh dari rumah. Aku pernah ke sana dan sedih melihat tempat itu ternyata jadi bukit sampah. Lebih sedih lagi melihat got di ujung jalan yang sekarang penuh sampah. Rupanya, orang membuang sampah di got yang tidak sepenuhnya tertutup itu. Pagi dan sore, air got meluap ke jalan karena tidak bisa lagi mengalir. Sungguh, pemandangan yang tidak menyenangkan. Belum lagi tumpukan sampah di sebelah halte. Juga di belakang halte seberangnya.

Aku ingat pesan aktivis lingkungan untuk membuang sampah pada tempatnya. Tapi di mana tempatnya?

Ini Jakarta. Di mana orang punya sejuta cara membuang sampahnya.

Tuesday, September 09, 2008

ini bukan Jakarta

Judul: Alamku Tak Seramah Dulu
Penulis: Dodi Rokhdian, dkk.
Ilustrator: Oceu Apristawijaya
Editor: Aditya Dipta Anindita
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia, Juni 2006

Ini bukan kisah tentang Jakarta: ada Penguwar yang sedang mengendap-endap hendak menombak seekor rusa di tengah kelebatan hutan basah Sumatra, Sipar yang menikmati sejuknya mata air di lereng Merapi, atau Sukenti kecil yang riang menjelajahi kekayaan alam desanya di Deli Serdang.

Seharusnya, Haposan yang tinggal di Sumbul, Sumatra Utara pun punya mata air jernih tempat ia dulu biasa mandi sambil bermain air dengan riang gembira. Seharusnya juga, Qodir yang tinggal di sebuah desa di Jawa Barat tak perlu menghabiskan harinya di liang gelap untuk mencari emas sementara sungai-sungai di desanya mulai tercemar merkuri limbah pemrosesan emas.

Buku ini bercerita tentang perubahan. Bermula dari satu demi satu pohon yang tumbang dan rusa yang mati di hutan Penguwar, lalu satu demi satu sungai yang tak lagi bisa direnangi oleh Sipar, Haposan, Qodir dan Sukenti. Dongeng-dongeng bijak para tetua yang tergantikan oleh cerita televisi, adat tak lagi bisa mengelola kehidupan ketika manusia mulai bergerak dalam naluri dan logika pasar, dan kita kadang tak membayangkan pilihan selain mengikuti saja.

Pembicaraan mengenai globalisasi selama ini lebih banyak terjadi di ruang-ruang akademis sambil beradu kehebatan teori, mulai dari modernisme sampai cultural studies, mulai dari Herbert Marcuse sampai Stuart Hall.

Penguwar, Sipar, Haposan, Qodir dan Sukenti - lima tokoh belia dalam buku ini - mungkin tidak terkenal seperti Stuart Hall dan tak pernah membaca teori tentang globalisasi. Tapi mereka merasakan benar bagaimana alam tempat hidupnya perlahan mulai berubah dan hidup menjadi lebih sulit ketika hutan dan desa mereka telah terlibat dalam jaringan besar koneksitas: globalisasi. Maka, alamku tak seramah dulu!

Ini bukan Jakarta. Tapi sangat layak dan perlu dibaca!