Friday, August 04, 2017

Toronto: Kota yang Percaya pada Warganya

Mirip dengan Jogja, orang-orang di Toronto menggunakan mata angin sebagai orientasi arah. Bedanya, kalau di Jogja patokannya adalah Gunung Merapi di utara, maka di Toronto patokannya adalah Danau Ontario di selatan. Tentu danau tidak seperti gunung yang langsung terlihat tanpa halangan. Tapi menanyakan letak danau sepertinya cukup umum di sini, dan dapat dengan mudah dijawab oleh orang di sana.

Seminggu di Toronto, Canada, kami hampir melulu menelusurinya dengan angkutan umum, --hanya saat pulang dan pergi dari bandara, juga acara-acara dengan KJRI kami dijemput mobil plus sekali dipesankan uber karena sudah cukup larut. Kebetulan hotel tempat kami tinggal berada di down town dan dekat dengan stasiun MRT. Malahan, kalau jaraknya masih di bawah 2 km, kami memilih jalan kaki. Apalagi trotoarnya nyaman, juga cuaca yang bersahabat. Summer tapi masih terhitung sejuk untuk kami orang tropis.


Angkutan umumnya juga nyaman. Antara MRT, bus dan trem (street car) terkoneksi dan hanya perlu sekali bayar untuk sekali jalan. Artinya, kita bisa berganti tiga moda itu dalam satu kali perjalanan hanya satu kali membayar dan menunjukkan tiket transfer saat akan berpindah. Harga tiket, baik untuk MRT, bus, maupun trem, sama semua yakni $3.25 untuk warga biasa. Untuk pembelian lebih dari 3, diskon menjadi $3/orang. Untuk manula dan anak-anak, ada harga khusus.


Satu yang aku perhatikan, tidak ada petugas pemeriksa tiket di sana. Untuk MRT, misalnya, orang yang tidak punya tiket terusan akan membeli token yang berbentuk seperti koin dengan diameter sekitar 1 cm, langsung dimasukkan di kotak kenclengan di depan petugas loket. Kadang kalau kehabisan token, kita diminta langsung masukin duitnya. Pemegang tiket bus, cukup menunjukkan tiketnya ke petugas loket, entahlah si petugas sempat baca jam dan tanggal di tiket bus itu atau tidak. Percaya aja, sepertinya.

 

Juga pengalaman saat naik Go Train, kereta commuter ke luar kota Toronto. Tiket dibeli di loket. Lalu kami menuju peron yang ditentukan. Saat masuk peron, di dalam kereta, maupun saat tiba di stasiun tujuan, tidak sekalipun ada petugas yang memeriksa tiket. Tiketnya pun kertas, bukan macam kartu yang di-tap di pintu masuk dan keluar. Rasanya, kalau tadi ngga beli tiket, juga ngga akan ketahuan. Hehehe…


 Untuk bis, tiket bisa dibayarkan dengan uang pas ke sopirnya lalu kita akan diberi kertas tiket. Kecuali kalau kita naik MRT sebelumnya, tinggal menunjukkan tiket transfer yang bisa diambil di mesin di dalam stasiun. Berbeda dengan trem yang menyediakan mesin tiket di halte dan di atas bus. Dan, baru tau kalau mesin itu hanya menerima koin, padahal yang kami pegang uang kertas. Celingukan, ngga ada petugas, sementara sopirnya jauh di depan (mungkin sekali bisa bayar langsung ke sopirnya kayak naik bus). Mungkin bisa duduk aja, cuek, toh nanti kalau sambung MRT juga bayar. Tapi lalu ada penumpang yang nawarin koinnya untuk ditukar. Lega deh, karena akhirnya bisa nyobain mesin tiket. Hehehe…

Sebetulnya sistem transportasinya sangat nyaman dan jelas informasinya. Yang membingungkan aku justru kontrolnya yang sangat longgar. Jadi ngebayangin, apakah ada, atau banyakkah warganya yang suka nilep-nilep ongkos? Hehehe…


 Aku menulis ini tidak untuk membandingkannya dengan Indonesia atau Jakarta. Toh tetap tidak ada menunggu bus yang senikmat sambil makan siomay atau gorengan. Berjalan kaki menelusuri kota, menaiki transportasi publik adalah pintu kita memahami denyut suatu kota.

Sunday, February 23, 2014

when the city shutdown

Kembali ke Bangkok, nyaris tepat enam tahun setelah perjalanan pertamaku ke sana tahun 2008. Saat itu aku merayakan ulang tahun ke 30 di atas pesawat. Kali ini – dengan Dodi, perjalanan ke Bangkok yang hanya beberapa hari sebelum ulang tahunku disambut oleh demonstrasi besar-besaran. Isunya cukup sensitif: menuntut reformasi (menurunkan PM) dan dan menolak pemilu yang akan segera diselenggarakan.


Aku sendiri pernah mengalami demonstrasi menolak pemilu tahun 1997 – yang kemudian kembali memenangkan Soeharto - di kampus. Demonstrasi hari pertama disertai penangkapan beberapa mahasiswa. Demonstrasi hari kedua, aku yang ditangkap! Hahaha… Tidak kujelaskan detailnya, tetapi aku cukup dekat dengan pengalaman demonstrasi termasuk mengalami serangkaian demo menjelang reformasi, dan tahun 2000 lebih banyak meliput demo sebagai wartawan saat itu.

Demonstrasi di Bangkok dimulai tiga hari sebelum kami berangkat, dan entah sampai kapan. Sejak beberapa hari sebelum keberangkatan, kami memantau perkembangan situasi di sana melalui internet - selain tentunya  mencari tahu tentang akomodasi dan tujuan-tujuan wisata di sana. Entah kenapa, surat kabar maupun media online Indonesia tidak banyak memberitakannya. Selain itu, aku juga bertanya ke beberapa teman, serta mencermati titik-titik demonstrasi. Pada akhirnya, kami memutuskan untuk tetap berangkat. Kayak yang ngga pernah ngalamin demo aja… Hahaha…

Tentu kami siap untuk ketidakpastian, termasuk membatalkan kamar hotel yang kami booking via internet karena takut kalau ternyata susah mencapai daerah itu. Namun setiba di sana, demonstrasi justru yang menyita perhatian kami selama dua hari pertama di Bangkok.

Persinggungan kami dengan titik demonstrasi sungguh tidak disengaja. Tadinya  kami turun dari MRT di Si Lom untuk berganti ke jalur skytrain menuju Siam Central. Dari atas stasiun skytrain, terlihat ramai kerumunan. Demonstrasi itu. Dari yang cuma motret dari atas terminal skytrain, hingga akhirnya memberanikan diri untuk turun ke bawah, ke kerumunan demonstrasi.



“Ini demonstrasi atau pasar malem?” pikirku saat tiba di kerumunan. Sungguh di luar pengalaman dan pengetahuanku mengenai demonstrasi. Kerumunan saat itu ratusan orang, atau ribuan, entahlah aku tidak bisa menaksir jumlahnya. Yang jelas ramai sekali. Dari yang tua, muda, sampai anak-anak; lelaki dan perempuan, mbak-mbak yang berkostum pulang kantor, pengguna kursi roda, dan masih banyak lagi jenis manusia berbaur di sana. Semuanya menggunakan atribut bendera Thailand hingga mirip supporter bola. Tapi tidak, ini lebih dari atribut nonton bola karena selain kaos, topi, atau syal, atribut lain yang digunakan bisa berupa pita rambut, kecrekan tangan, anting, cincin, gelang, bando dan masih banyak lagi. Semuanya bertema bendera Thailand: garis-garis merah-putih-biru.putih-merah. Atribut wajib adalah peluit. Pada saat-saat tertentu menurut aba-aba orator, peserta demo bersamaan meniup peluit…

Orator berbicara dari panggung besar yang menjadi pusat demonstrasi. Di belakangnya ada layar raksasa yang menayangkan langsung berita mengenai demonstrasi di beberapa titik. Tidak hanya orasi, tetapi panggung juga diisi dengan suguhan tari-tarian, band, sampai barongsay. Sungguh sebuah hiburan bagi para pendemo yang sebagian datang dari tempat-tempat yang jauh, tinggal di tenda atau emper-emper toko, dan tidak tahu kapan akan berakhir.

Sementara itu, di lingkar terluar, berderet pedagang-pedagang kaki lima yang menjual atribut demo seperti yang kusebut di atas, juga pedagang-pedagang makanan. Bagaimana tidak mirip psar malam?



Esoknya – entah bisa disebut sengaja atau tidak – kami mendatangi titik demonstrasi di National Stadium yang bersebelahan dengan pusat belanja MBK, semacam Mangga Dua di Bangkok. Masih pagi saat itu, beberapa dari mereka masih meringkuk di teras-teras MBK, atau dalam tenda yang berjajar di trotoar, kawasan stasiun, serta halaman National Stadium. Bangkok sedang dingin saat itu, tentunya amat tidak nyaman tidur di luar ruangan.



Semakin siang, kawasan itu semakin ramai. Seperti di Si Lom, di sana juga ada panggung besar dan layar raksasa. Demonstrasi di sini mungkin lebih ramai karena dekat dengan kawasan niaga dan wisata. Beberapa turis tampak memotret dan bahkan berbaur, termasuk kami. Beberapa demonstran bahkan meminjamkan poster demo untuk turis yang ingin berfoto. Ah, pintar sekali mereka. Turis-turis itu pastilah akan dengan bangga meng-uploadnya ke twitter atau facebook mereka dan dengan cepat akan tersebar dalam media sosial.




Kami juga mampir ke lokasi demo di dekat patung King Rama VI yang menjadi satu dengan Lumpini Park. Di kawasan taman kota itu, terlihat keseharian para demonstran. Tenda-tenda berjajar mengelilingi danau dan pada hamparan rumput di sana. Beberapa demonstran tampak beristirahat di dalamnya.  Pakaian-pakaian dijemur di dekat tenda. Di bagian lain tampak tenda logistik yang selalu sibuk: menurunkan muatan seperti selimut, air mineral, tenda, dan sebagainya; juga beberapa demonstran yang datang untuk meminta barang-barang tersebut. Menjelang makan, posko makanan dipenuhi orang-orang. Situasinya mengingatkanku pada camp bencana dalam level yang lebih tenang.



Beberapa petugas posko sempat menawari kami makan dan minum, mungkin karena wajah Asia kami tidak terlalu berbeda dengan orang sana terutama orang-orang dari selatan Thailand yang masih masuk rumpun Melayu. Pada saat itulah kami agak menyesal kenapa ngga bawa tenda. Wacana membawa tenda dan bermalam di taman sempat menjadi becandaan sebelum kami berangkat. Kalau tahu akan ada banyak temennya begini, mungkin kami betul-betul tidur di tenda, mandi di WC mobile dan mengantre makan di posko. Pasti akan banyak mengirit biaya jalan-jalan kami. Hahaha…



Setelah dua hari berada di sekitar lokasi demo, akhirnya kami memutuskan untuk benar-benar menjadi turis dengan mengunjungi tempat-tempat tujuan wisata di sana. Untunglah, karena pada sore hari di Khaosan Road, kami sempat melihat berita televisi di sebuah kios yang mengabarkan adanya pelemparan granat di lokasi demo. Tapi sungguh, demonstrasi dan granat itu terasa seperti di tempat yang jauh dari Khaosan Road yang menjadi pusat backpacker. Turis-turis berfoto, berbelanja dan nongkrong di kafe seperti tak terpengaruh. Benarkah tak terpengaruh?


“They are fool!” begitu kata pemilik hotel tempat kami menginap di kawasan Sutthisan. Sempat kubaca beberapa komentar orang Bangkok menganggapi berita tentang demo bahwa Bangkok akan tetap aman bagi wisatawan meskipun sedang berlangsung demonstrasi. Tetapi toh, tetap saja –menurut pemilik hotel itu – tingkat hunian menurun dan banyak tamu yang membatalkan kamarnya.

Foto oleh Dodi Rokhdian

Friday, February 17, 2012

commuter's story dimulai

Aku ingat sekali peristiwa angkot Depok-Pasar Minggu beberapa bulan lalu, dalam perjalanan pulang ke Cipulir setelah menghadiri sebuah acara di kampus UI, Depok. Menjelang petang, angkot yang aku tumpangi merapat ke terminal Pasar Minggu. Belum benar-benar masuk di terminal, mungkin sekitar 100 meter di depan,  ketika tiba-tiba sekumpulan perempuan berlari dan berlomba menaiki angkot, Mereka berteriak dan berebut naik.

Untuk beberapa saat, aku tidak menyadari apa yang terjadi. Mereka begitu agresif (?) seolah-olah (ini perumpamaanku) ada Justin Biber di dalam angkotnya. Hehehe... Tapi memang seperti itulah. Hingga akhirnya aku sadar bahwa mereka adalah perempuan-perempuan yang berjalan menjauh keluar terminal, demi mendapat kursi di angkot itu. Barulah aku memutuskan turun dari angkot.

Aku tidak benar-benar memahami hingga aku menjadi bagian dari commuter. Betul. Commuter. Awal tahun ini kami pindah rumah dan bukan di Jakarta. Rumah kami rumah mungil di Sawangan, Depok. Rumah yang cukup nyaman untuk kami berdua. 

Butuh waktu cukup lama untuk akhirnya mengambil keputusan pindah ke Sawangan. Jauh, ya? Begitu kata orang-orang. Memang jauh. Itu juga yang membuat kami berpikir panjang sebelum pindah. Tapi kemudian kami menghitung. Jarak ini dibadingkan dengan udara bersih di lingkungan tempat tinggal kami, lebih sedikit debu, polusi dan tentu saja jauh lebih tenang dibanding tempat tinggal kami sebelumnya. Tidak ada suara bajai tengah malam, atau balap motor di setiap malam minggu. Baiklah, kami pindah!

Dan menjadi commuter. Dan akhirnya aku paham kenapa sekumpulan perempuan itu begitu gigih berjuang untuk bisa lebih cepat sampai ke rumah. 

Satu kali aku mencoba naik bis kota, dan itu sangat melelahkan. Aku lebih memilih KRL sekalipun histeria dan agresivitas penggunanya tidak kalah heboh. Beberapa hari pertama menggunakan KRL, aku masih shock ketika melihat seorang perempuan jatuh saat mengejar kereta, ketika penumpang-penumpan commuter line nemplok di pintu seperti ikan sapu-sapu dan walaupun sepertinya tidak ada ruang untuk dimasuki orang lagi, tetap saja ada orang yang berhasil masuk ke dalam gerbong. Sering aku melewatkan 1-2 kereta karena merasa tidak mungkin bisa masuk ke dalamnya. Sesekali nekat masuk dan tiba-tiba badan terdorong orang dari belakang. Rasanya packing kalau mau traveling, semuanya harus bisa masuk ke tas. Tapi ini orang yang dipacking, dijejel-jejelin masuk dan empet-empetan. Sungguh.

Tapi sejauh ini, aku bisa menikmati ; )


Sunday, November 20, 2011

berkereta di Paris

Desember tahun lalu, untuk pertama kalinya aku ke Paris. Sebuah konferensi internasional di Paris meminta aku mempresentasikan Sokola Rimba di sana, tentu saja mereka menanggung biaya perjalanan dan akomodasi. Dan kesempatan langka ini kumanfaatkan sekalian untuk berjalan-jalan di Paris dan kota-kota negara lain di Eropa. Kapan lagi? ; )

Panitia menginapkan aku di hotel tempat acara yang berlokasi di Disneyland. Tempat ini sudah berada di luar kota Paris, tapi masih terjangkau dengan Metro (line kreta MRT di Paris). Kurang lebih seperti Bogor dan Jakarta. Kebetulan juga, rumah teman yang aku tuju untuk menginap setelah konferensi itu juga tidak jauh dari Disneyland. Hanya beberapa stasiun saja dari Disney, masih di luar kota Paris.

Gracia, temanku itu, memberikan informasi yang sangat detail tentang bagaimana aku mencapai apartemen mungilnya. Dia wanti-wanti agar aku melihat papan rute dan memastikan lampu kecil di bawah nama stasiun yang aku tuju menyala. Baiklah, dengan ransel besar di belakang dan ransel kecil di depan, pelan-pelan aku beranjak dari hotel.


Stasiunnya tak seramai yang aku bayangkan, mungkin karena di pinggir kota. Setelah membeli tiket, aku pun naik ke peron. Sepi. Ada satu kereta menunggu di sana. Aku tidak tahu apakah itu kereta yang dimaksud atau bukan. Aku belum cukup familiar dengan rambu-rambu berbahasa Prancis karena itu perjalanan pertamaku.

Tiba-tiba ada seorang anak muda, mungkin usianya sekitar 14 tahun. Dia mendekati lalu bertanya dengan bahasa Prancis. Aku tidak paham, tapi aku memperlihatkan tiketku padanya. Dia langsung menyuruhku masuk kereta yang berhenti. Lagi-lagi sepi dalam gerbong itu. Cuma ada dua orang termasuk aku. Ada papan rute di atas pintu, tapi karena dalam keadaan berhenti, lampunya pun tidak menyala. Untuk meyakinkan lagi, aku bertanya pada anak tadi dengan bahasa Inggris. Dia cuma yes yes aja. Harusnya dia mengerti, karena aku memperlihatkan tiketku.

Anak itu sempat pergi, lalu kembali lagi dan memberikan secarik kertas kepada penumpang-penumpang Metro. Aku sudah lupa tepatnya, ditulis dalam bahasa Inggris kurang lebih isinya bahwa dia adalah imigran dan tidak punya uang. Whoa, sama dengan yang sering kualami di Metromini di Jakarta. Karena aku tidak tahu berapa biasanya orang memberi, aku putuskan untuk tidak memberi. Maaf ya... Hehehe... Backpaker kan harus irit...

Untung tidak memberi. Karena begitu lampu dinyalakan dan kereta berjalan, ternyata lampu di bawah tulisan stasiun tujuanku tidak menyala. Aku tertipu! Hmmmfff... Masalah selesai dengan berhenti di stasiun lain dan menunggu kereta berikutnya, tentu saja setelah memastikan bahwa keretanya berhenti di stasiun tujuan.


Pengalaman buruk bermetro tak hanya sekali itu. Pada perjalanan ke Bandara di hari terakhirku di Paris, ada kejadian lain yang cukup mengganggu dan membuat tak nyaman orang asing sepertiku. Kereta tiba-tiba berhenti di sebuah stasiun kecil. Tak ada keterangan resmi berbahasa Inggris tentang penyebab dan bagaimana kami harus meneruskan perjalanan ke bandara.

Dalam kebingungan, aku berkelompok dengan dua perempuan setengah baya dari Belanda dan perempuan muda dari Amerika yang sama-sama orang asing dan menuju bandara. Kami sama-sama tidak mengerti pengumuman bahasa Prancis tentang situasi itu dan memutuskan mencari taksi di luar. Biayanya dibagi empat. Tidak mudah mencapai pintu keluar, apalagi mereka bertiga masing-masing membawa koper besar menuruni tangga dan menghindari genangan air di stasiun yang tampaknya sedang direnovasi itu. Karenanya pula kami melewati lorong-lorong darurat yang mungkin untuk menghindari bagian yang direnovasi. Dan aku juga tidak ingat mengapa kami harus menerobos palang otomatis. Mungkin karena itu bukan stasiun tujuan kami. entahlah, aku sudah lupa.

Belum sempat semua orang menerobos palang otomatis, petugas menyuruh kami kembali ke atas karena jalur kereta sudah pulih kembali dan dalam 15 menit akan ada kereta yang lewat. Hmm, baiklah. Kami naik kembali ke peron dengan sama susahnya saat turun tadi.

Begitulah. Aku tidak langsung naik kereta pertama yang lewat karena sangat penuh lebih dari 30 menit kemudian . Toh pesawatku masih cukup lama. Sengaja aku sisakan waktu panjang agar sempat mengurus ransel besarku yang dititip di loker bandara.

Begitulah. Berkereta di Paris tak lebih baik dari Jakarta. Maksudku, Paris dan Jakarta sama-sama kota besar. Pasti punya persoalan urban yang kurang lebih sama juga. Di beberapa stasiunnya aku juga menemukan sudut-sudut gelap dan berbau pesing. Ngga beda kan, sama di Jakarta.. hehehe...


Tapi kesempatan menelusuri jalanan Paris, menuju berbagai tempat dengan Metro, menghirup dingin dan basah oleh salju bulan Desember di sana, ah, aku sungguh beruntung ; )


Wednesday, October 19, 2011

tragedi E-KTP

Aku officially menjadi penduduk Jakarta sejak Juni 2009. Tepatnya setelah menikah, kami memutuskan membuat KK di Jakarta. Pertimbangannya, kalau nanti pindah rumah akan lebih mudah mengurusnya. Ngga perlu ke Jogja, atau Bandung tempat Dodi.

E-KTP adalah salah satu konsekuensi menjadi penduduk Jakarta. Datanglah undangan itu ke rumah, di antar oleh Pak RT yang sempat mengeluh, "Banyak warga yang saya ngga kenal. Cuma baca namanya di KK aja, tapi ngga tau orangnya yang mana." Hehehe... Maaf ya Pak RT...

Lalu kami ke kelurahan hari Senin, hari yang dijanjikan dalam surat undangan: bahwa hari itu kelurahan khusus melayani RW 004. Pukul dua kami mengambil nomer antrean untuk foto dan lain-lain, dapat nomer cantik 131. Saat itu, yang sedang diproses adalah nomer antrean 60-an. Katanya paling baru jam empat dipanggil. Oke deh, kami pulang dulu.

Pukul empat, kami kembali lagi. Kelurahan masih penuh dengan orang. Beberapa duduk di depan ruang foto, ada juga yang di teras kelurahan, juga di sekitar parkiran motor. Mungkin banyak juga yang pulang dan menunggu di rumah sepertiku. Antrean yang masuk baru nomer 90-an. Ini nomer keluarga Risma yang mengambil antrean sejak pukul sebelas. Kami memutuskan pulang lagi, dan kembali nanti setelah magrib.

Pukul tujuh malam. Untuk ke-tiga kalinya dalam hari ini kami ke kelurahan. Pas sekali nomor antrean kami yang seharusnya dipanggil masuk ruang foto. Seharusnya. Karena kemudian ibu kelurahan mengumumkan komputer error. Katanya hang. Selain itu karena tadi siang tiga kali mati lampu. Tapi mungkin juga ada alasan lain. Hari sudah malam, dan antrean masih lumayan (setahuku masih ada sampai 150-an), selain itu tampang mas operator komputernya juga udah kucel, mungkin juga bau ketek sedikit karena AC ruangan ngga dingin. Orang-orang kelurahan itu tampak berunding sebentar sebelum mengumumkan bahwa kami bisa kembali lagi besok, dan dijanjikan tanpa antrean.

Besok. Bagaimana dengan yang udah susah-susah cuti hari ini cuma untuk nongkrongin kelurahan seharian? Sabtu dan minggu tetap dilayani kok, demikian ibu kelurahan berdalih lagi. Gimana yang kerja seharian? Kami buka sampai malam, ini aja karena komputernya rusak, katanya.

Aku pulang terakhir, cuma untuk tanya, sampai kapan pemotretan akan berlangsung karena kami sering keluar kota. "Oh, lama kok. Sampai Desember," katanya seolah-olah sudah memberikan solusi terbaik hari ini.

Gubrak!!! Waktu masih lama, kenapa hari ini kita harus empet-empetan antre seharian. Aku sama sekali ngga habis pikir. Oke then, sampai jumpa lagi -- kalau jumpa lagi. Aku ngga tau apa masih pengen dateng lagi untuk foto E-KTP. Ilfil.

Rumit ya, mau ganti KTP aja. Ada aja yang bikin susah, ya birokrasi lah, ya komputer rusak lah. Padahal ini Jakarta. Gimana di luar kota, luar pulau?

Tiba-tiba aku teringat pengalaman delapan tahun lalu saat masih bekerja pendampingan di desa-desa di Jambi. Di desa Jernih yang sungainya cantik, sedikit sekali warga yang memiliki KTP. Bisa dibilang, KTP adalah barang mewah untuk dimiliki sementara kebutuhan primer mereka masih sulit untuk dipenuhi. Sementara untuk membuat KTP mereka harus ke kecamatan yang berjarak lebih dari 20 km.

Tanpa kendaraan sendiri, jarak ini bisa diatasi dengan membayar ojek sebesar 25-30 ribu rupiah atau naik mobil tambang untuk ongkos lebih murah. Tapi mobil tambang hanya lewat satu kali pada pukul 6 pagi untuk ke kota kecamatan, dan akan kembali pada sore harinya. Sudah pasti akan terbuang waktu bekerja satu hari. Belum lagi ongkos yang dibutuhkan untuk membuat pas photo sebagai syarat membuat KTP.

Aku pun coba membayangkan, dengan kondisi mereka dan kerumitan membuat KTP, kira-kira kapan ya warga di sana dibikinin e-KTP? Padahal seharusnya, KTP adalah hak kita yang harus dipenuhi oleh negara. Tapi kenapa jadi susah ya?

Anyway, kami pulang. Dodi kembali mengetik thesis yang hari ini tiga kali ditinggalin untuk ke kelurahan. Aku kembali bersenang-senang dengan mesin jahitku.


Saturday, October 15, 2011

serba besar di Cina

Ini tulisan lama, oleh-oleh perjalanan ke China tahun lalu saat menghadiri UN-NGO-IRENE Asia Pacific 5th Conference. Konfrensi sehari, workshop tiga hari, sisanya adalah fieldtrip alias jalan-jalan. Ini adalah paket liburan yang menyenangkan!

Impresi pertama saat tiba di Cina adalah segala sesuatu yang serba besar. Tak hanya fakta bahwa Cina adalah negara dengan daratan besar dan jumlah penduduk yang juga besar, tapi di Beijing, kota pertama yang aku singgahi, aku banyak melihat hal-hal besar seperti gedung-gedung besar (bukan hanya tinggi), jalan-jalan, ruang terbuka, serta tembok-tembok kota yang juga besar. Dan hari-hari selanjutnya aku melihat hal-hal besar lainnya yang mereka miliki.




Ternyata bukan aku saja yang berpikir demikian. “They always think about big things. They never think small things!” demikian komentar Chalida, aktivis perempuan dari Thailand yang bersamaku dalam 12 hari kunjungan ke Cina pada 28 Maret-8 April 2010 lalu. Kami berada di negeri tirai bambu sepanjang hampir dua minggu itu untuk menghadiri UN-NGO-IRENE Asia Pacific 5th Conference yang diselenggarakan di Kota Xining, Provinsi Qinghai, pada tanggal 2 April 2010. Meski konferensi hanya memakan waktu satu hari, namun China NGO Network for International Exchanges (CNIE) selaku organisasi tuan rumah menjamu 11 peserta konferensi yang berasal dari  9 negara asing yang diundang untuk mengikuti serangkaian workshop, kunjungan lapangan, serta kunjungan ke obyek-obyek wisata bersejarah di Beijing, Xining dan Shanghai.

Cina memasuki musim semi saat kami tiba. Salju sudah tidak lagi turun dan bunga mulai mekar namun cuaca tetap saja terasa dingin. Temperatur udara berkisar antara 10°C di Beijing dan Shanghai serta 5°C di Xining, bahkan lebih dingin lagi di daerah pegunungan Tibet-Qining yang sempat kami kunjungi. Menurut seorang panitia, memasuki bulan Maret biasanya cuaca sudah mulai hangat, namun karena tahun ini musim dingin lebih panjang maka suhu udara pun lebih sejuk. Selain Indonesia, Thailand serta dari China sendiri, peserta lain berasal dari Filipina, India, Banglades, Pakistan, Turki, Uzbekistan dan Kazakstan. Mereka adalah pegiat-pegiat NGO. 

Kegiatan ini diawali dengan tiga hari workshop di Beijing dengan topik “Sustainable Development and Harmonious Social Progress in Outlying Regions” dengan pembicara dari beberapa NGO di China di bidang pemberdayaan perempuan, orang muda, serta etnik minoritas. Berbicara mengenai NGO di Cina berbeda dengan tipikal NGO di Indonesia maupun beberapa negara lain. NGO Cina bergerak di bawah koordinasi pemerintah dan  karenanya menjadi partner pemerintah dalam menjalankan program-program pembangunan dan pemberdayaan, serta peran serta politik bagi warganya. Ini tentu saja dipengaruhi sistem politik di Cina. Untuk bebebrapa hal, kita bisa menjustifikasinya sebagai kontrol negara yang amat kuat, namun di sisi lain bisa juga diartikan bahwa pemerintah Cina ingin mengurusi segala sesuatu yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyatnya. Hal ini aku simpulkan dari pengalaman kunjungan lapangan.

Di Shanghai misalnya, kami mengunjungi sebuah Community Service Center yang dikelola oleh suatu komunitas – kelompok pemukiman, satu komunitas bisa meliputi 100 blok rumah susun atau lebih – dengan pendanaan dari pemerintah. Service Center ini mengurusi berbagai keperluan kependudukan dalam satu atap seperti pengurusan kartu identitas, registrasi pernikahan, asuransi kesehatan, asuransi manula, subsidi orang miskin, pelatihan tenaga kerja, konsultasi usaha kecil, dan lain-lain. Negara kita sebetulnya juga memiliki jenis-jenis pelayanan tersebut namun masing-masing punya ‘kantornya’ sendiri dan bahkan saling berjauhan.

Bagian paling serius dalam perjalanan ini adalah konferensi UN-NGO-IRENE yang diselenggarakan di Kota Xining, ibukota Provinsi Qinghai. Masing-masing peserta mempresentasikan makalah yang telah disiapkan sebelumnya. Di bawah tema besar “Women Empowerment in Development of Oultying Regions”, peserta dibagi ke dalam tiga sesi dengan tiga tema berbeda yaitu Present Situation of Women in the Outlying Region, Empowering Woman for Economic and Social Development in the Outlying Region, serta Tapping the NGO Resource for Women Development in the Outlying Regions. Tema ini menjadi kaya dengan presentasi peserta dari organisasi yang bergerak di tingkat grass root seperti kondisi perempuan di daerah rural yang terpaksa berjalan dua sampai tujuh jam setiap hari untuk mengambil air bagi keluarganya sebagaimana diceritakan oleh Joe Madiath dari India; perempuan di tengah konflik agama di Thailand selatan yang didampingi oleh Chalida, dan aku sendiri bercerita tentang perempuan suku Orang Rimba yang tengah menghadapi berbagai persoalan berkaitan dengan perubahan lingkungan tempat hidupnya. Sementara beberapa organisasi lain bercerita tentang program pemberdayaan perempuan yang dilakukan seperti pemberdayaan perempuan di Tibet, keterlibatan politik perempuan di Uzbekistan, dan lain-lain. Konferensi diakhiri dengan membuat rekomendasi untuk dibawa ke forum UN ECOSOC.

Impresi mengenai ‘kebesaran’ Cina kembali muncul dalam kunjungan-kunjungan ke beberapa obyek wisata. The Great Wall dan Forbiden City misalnya, mengingatkan aku pada komik Chinmi dan Mu Lan di mana kerajaan selalu digambarkan berada dalam tembok benteng yang kokoh. Sementara kunjungan ke beberapa museum memberikan gambaran kontekstual dari banyak pertanyaan mengenai Cina dan kebijakannya, serta kekayaan intelektual yang telah mereka miliki sejak berabad lampau dan terdokumentasi dengan baik sampai kini. Aku juga membaca rencana-rencana masa depan Cina melalui truk-truk dan proyek-proyek konstruksi yang mendominasi pemandangan di Kota Xining setiap hari atau display rencana penyelenggaraan World Expo di Shanghai tahun ini. Dengan besaran sumber daya yang dimiliki tersebut, Cina dan NGO-nya sangat bisa berperan lebih banyak dalam menyuarakan persoalan-persoalan yang dihadapi warga Asia di negara lain di forum internasional, demikianlah yang kami simpulkan dalam diskusi informaal di hari terakhir kami di Cina.



Pada akhirnya aku tidak ingin menyatakan bahwa Cina lebih baik dan Indonesia ketinggalan. Justru dari perjalanan ini aku merefleksikan kembali negeriku. Bahwa Indonesia sebetulnya tak kalah kaya dengan Cina. Kita punya daratan dan lautan, suku-suku dan tradisi yang jauh lebih beragam, alam yang tak kalah indahnya. Tak harus bisa menjadi seperti Cina karena kita punya konteks sejarah dan sistem pemerintahan yang berbeda, tapi kita bisa mempelajari bagaimana mereka mendokumentasikan kekayaan tradisinya, mengelola penduduknya yang besar, dan berusaha melibatkan kelompok-kelompok perempuan, orang muda dan etnik minoritas dalam pengambilan keputusan politik. Dan pada akhirnya kita harus percaya bahwa Indonesia tak kalah besar!

Saturday, September 24, 2011

mencari rumah di jakarta?

Sudah hampir setahun aku mencari rumah. Dengan budget yang amat terbatas, tentu ini tidaklah mudah. Hampir tidak ada pilihan, dan aku sedang menyiapkam mental untuk suatu hari nanti memulai rutinitas perjalanan panjang dari dan pulang ke rumah. Seperti yang sering kutemui sedang tertidur di bis kota setiap pagi, atau berboncengan pulang saat malam sambil saling diam karena kelelahan. Mungkin juga akan sulit bagi orang-orang yang akan mengunjungi kami.

Aku cuma ingin rumah kecil dengan sisa halaman yang cukup untuk satu-dua pohon besar untuk tenda dan hammock, dapur modern kalau bisa dengan pantry kecil, ruang makan dengan meja besar yang akan menjadi fokus aktivitas di rumah dengan televisi flat di dinding, sudut untuk studio jahitku, kamar tidur yang nyaman dan lega, kaca-kaca besar untuk masuk cahaya dan udara ke dalam rumah, temat cuci dan jemur yang kering saat tidak dipakai, tidak bising dan berdebu, bercat putih, abu-abu, dan aksen merah.

Apakah aku minta terlalu banyak?

Sunday, August 21, 2011

kapan ya, Jakarta?

Beberapa kali aku menemukan komentar, "Kapan ya, Jakarta bisa seperti ini?" sebagai status atau keterangan foto di facebook milik teman-teman yang sedang jalan-jalan ke luar negeri. Sungguh tidak adil rasanya membandingkan Jakarta dengan kota-kota yang umumnya negara maju. Walaupun rasanya harus jujur kalau kota-kota itu punya kelebihan yang Jakarta tidak (atau kurang) punya, seperti:

1. disiplin


2. informatif

3. jalur pedestrian yang nyaman
4. jalur sepeda yang aman
5. memberi alternatif transportasi bebas polusi
6. modern
7. tersedianya mass rapid transportation yang nyaman
8. ruang terbuka yang ramah pada warganya


9. sungai kota yang bersih dan terawat
10. tertib.
Foto-foto tadi diambil dalam berbagai perjalananku. Dalam perjalanan itu pula aku menyadari bahwa tiap kota (seharusnya) punya karakter sendiri termasuk Jakarta. Siapa bilang kita tidak butuh 10 hal di atas tadi. Tapi kubilang, Jakarta pun perlu punya karakternya sendiri. Tidak perlu menjadi semodern Sanghai atau penuh aturan seperti Singapore. Aku tidak ingin Jakarta menjadi seragam dengan kota-kota lain. Satu contoh terbaik, aku sangat suka pada karakter Bandara Soekarno-Hatta yang mewakili Indonesia dengan ornamen-ornamen etnik, karakter bangunan batu bata, dan juga taman-taman tropisnya. Dibandingkan dengan bandara Singapore, Bangkok, Frankfurt, atau Shanghai, yang didominasi warna metalik yang dingin dan membosankan. Seragam.

Menurutku, Jakarta cuma perlu ramah pada penghuninya, mendengar keluh kesah dalam keseharian mereka dan memfasilitasi tiap warga dengan adil baik itu miskin atau kaya. Selain itu, aku percaya Jakarta punya ceritanya sendiri.

Tuesday, August 16, 2011

unpredictable but fun

Aku menguping pembicaraan seorang teman yang ditanya, menyenangkankah tinggal di Australia? Ia memang baru saja meninggalkan Jakarta untuk kuliah di Canberra. Dan jawabannya adalah, "Di sana membosankan sekali." Bukan, bukan karena Canberra kota kecil yang sangat sepi apalagi jika dibandingkan dengan Jakarta. Melainkan karena, "Semua di sana bisa diprediksi. Kita sudah tahu bisnya lewat mana, akan tiba di halte jam berapa, toko tutup jam berapa. Kita sudah bisa menebak apa yang akan terjadi," begitu katanya.

Aku sendiri membuktikannya saat menginjakkan kaki di benua Kangguru itu. Walaupun deg-degan karena ini pengalaman pertama ke luar Asia (well, kita tahu kultur Asia) tapi toh semua lancar saja karena aku sudah (diberi) tahu bagaimana dari Sidney menuju Canberra dan semuanya tepat seperti petunjuk tanpa opsi lain. Semua teratur dan terprediksi.

Memang beda dengan Jakarta atau kota-kota Indonesia lainnya. Damri bandara jurusan Blok M saja kadang nggak lewat Sudirman untuk menghindari macet. Tapi sungguh menyenangkan karena kita bisa menunggu bis di mana saja, tukang gorengan yang selalu ada kalau lapar di perjalanan, tukang sol sepatu, tukang jahit, tukang payung, dan berbagai service lainnya yang lewat di depan rumah. Adakah itu di Australia? Pastinya tidak.

Dan kitapun ngga pernah tahu kapan bis akan lewat atau malah tidak lewat karena jalurnya berubah, nggak pernah tahu tempat mangkal tukang gorengan karena bisa saja dia tiba-tiba dikejar kamtib, juga tidak tahu apakah hari ini tukang sol sepatu, tukang jahit atau tukang payung lewat, kita bisa mengetuk toko yang mau tutup untuk membeli sesuatu sambil pasang tampang agak memelas, bisa juga menawar harga-harga di pasar. Semuanya jadi penuh kejutan dan petualangan.

Well, selamat menikmati Jakarta!

Tuesday, August 11, 2009

mengejar kereta

Jarang-jarang naik KRL. Tapi kalau Jakarta-Depok memang sebaiknya naik KRL. Aku sih seneng-seneng aja karena di kereta - apalagi yang ekonomi, suka banyak orang jualan. Mulai dari iket rambut, tahu, mainan, buah yang sudah dipacking 5.000an dan lain-lain. Aku seneng-seneng aja. Mungkin karena jarang naik KRL dan seringnya melawan arus commuter jadi nggak pernah sampai desak-desakan banget.

So, pagi-pagi aku sudah sampai Cikini. Di loket aku tanya kereta apa yang paling duluan berhubung sedang dikejar waktu. Kata petugasnya, kereta ekonomi. Ya sudahlah, naik ekonomi toh seru juga... Naiklah kita ke peron untuk menunggu kereta.

Semenit... dua menit... lima menit... Mana, ni keretanya? Yang ada malah kereta api lewat lalu berhenti di ujung peron. Lho kok?

Ternyata sedang ada masalah. Ternyata ada kereta yang mogok. Berhubung relnya jadi satu (KA dan KRL), jadi banyak kereta harus mengantre. Satu kereta lewat, dua, lalu tiga... Masih saja bukan KRL yang lewat... Duh, padahal lagi buru-buru...

KRL pertama yang lewat ternyata ekonomi AC Depok. Dipikir-pikir, dari pada ilang waktu mending naik aja. Nanti bayar denda di atas deh, karena toh nggak mungkin turun ke loket untuk beli tiket ekonomi AC. Yang ada, pas naik keretanya udah pergi.

Maka naiklah ke KRL tu. Eh, di kereta nggak ada petugas tiket sampai tiba di stasiun Depok. Kejadian ada di petugas peron stasiun Depok. Dia tanya, kenapa tiketnya ekonomi padahal naiknya AC. Ya aku jelasin aja masalahnya karena bukan mauku juga menipu petugas. Kan di loket tiket tadi sudah minta kereta yang paling cepat. Bayar denda ngga papa sebetulnya, kan udah niat. Tapi, eh, slip denda abis... Nah loh! Akhirnya aku dikasih tiket seharga denda: Rp10.000,- sebagai ganti slip denda.

Hmmm... Mungkin bukan masalah besar. Denda toh tinggal dibayar dan tidak berat. Tapi kepikiran aja, gimana penumpang mau tertib kalau pengelola KA & KRL sendiri masih nggak tertib. Aku cuma berandai-andai, coba ada informasi yang benar tentang jadual kereta, coba ada petugas tiket di atas kereta, coba ada slip denda untuk orang terdenda... Pasti perjalanan kereta jadi lebih asyik. Ayo, siapa hendak turut?

Monday, August 03, 2009

basa-basi untuk pejalan kaki

Sebuah rutinitas baru mengantarku bolak-balik ke Dharmawangsa. Dengan Kopaja 614, aku biasa turun di halte Grand Wijaya. Bis akan berbelok ke kanan, kembali ke Jalan Fatmawati sementara aku berjalan kaki belok ke kiri menuju Dharmawangsa Square. Di sinilah trotoar berbasa-basi.

Basa-basi aku bilang, karena dia menyapaku dengan rambu yang memberi arah bagi pejalan kaki. Tepatnya setelah berbelok ke jalan Dharmawangsa, trotoar tiba-tiba terpagari rantai besi. Ada celah selebar mungkin 40 senti di antara dua tiang warna kuning-hitam. Dua tiang itu dihubungkan dengan besi melintang dengan tinggi sekitar 10-20 senti dari atas tanah. Di sebelahnya terpancang rambu bertuliskan "Pintu Pejalan Kaki".


Basa basi aku bilang, karena kemudian pejalan kaki diharapkan melewati celah itu. Artinya, kita harus melompati palang itu. Artinya, kita diharapkan punya dua kaki yang sehat dan kalau bisa jangan kegendutan kalau tidak ingin kesulitan menempuh 'pintu pejalan kaki' itu. Kalau tidak, kita harus berjalan di atas aspal dengan kendaraan kencang dari arah belakang karena pagar rantai kompleks ruko Dharmawangsa itu memagari sepanjang trotoar, hingga tepat berbatasan dengan aspal. Juga kalau kita hendak menyeberang ke gedung The City Walk di depannya, kita harus melompati rantai besi pagar trotoar itu. Pun kalau menunggu angkutan umum, siap-siap melompat pagar rantai kalau bis yang dinanti sudah tampak dari tikungan.

Trotoar di Jalan Dharmawangsa itu seperti dimonopoli oleh kompleks rukonya. Pagar rantai yang membatasinya dengan jalan, membuat halaman ruko seolah lebih luas dan dimanfaatkan untuk menempatkan pot-pot besar tanaman dan memaksimalkan parkiran mobil di sana. Padahal area itu seharusnya menjadi jalur pedestrian.

Tiba-tiba ingatan kembali di pertengahan tahun 1998, ketika aku dan teman-teman berkampanye 'aksesibilitas for all' di sepanjang Malioboro yang saat itu kami nilai tidak ramah buat pejalan kaki, khususnya bagi difabel, ibu hamil, orang tua, atau anak-anak. Ini kejadian lebih dari sepuluh tahun lalu di Jogja.

Lalu kini di Dharmawangsa, di Jakarta? Hari geenee belum aksesibel? Please, deh...


Tuesday, June 23, 2009

susah-susah Sampah

Bibi di rumah mengeluh. Katanya, buang sampah aja kok susah. Tadinya kita membuang sampah di TPS pasar yang setiap hari diambil oleh dinas kebersihan. Belakangan, TPS pasar dijaga satpam 24 jam. Katanya, yang membuang sampah di situ mesti bayar Rp1.000/hari atau Rp20.000/bulan. Tapi ternyata tidak selesai dengan uang karena tetap saja kami tidak boleh buang sampah di sana. Kata satpam lagi, TPS itu bukan untuk RT kami...

RT kami? Dulunya ada Bapak yang rutin mengutip sampah se-RT. Sebagai gantinya, kami patungan uang kebersihan untuk si Bapak yang diberikan melalui RT. Tapi belakangan si Bapak sakit, dan sampai hari ini belum ada penggantinya. Sementara, sampah terus diproduksi. Setiap hari. Setiap rumah.

Masalah tidak saja bagaimana mengelola sampah sendiri, tapi juga sampah orang. Lagi-lagi, ini keluhan si Bibi. Katanya, sering orang buang sampah di boks semen depan rumah. Memang sih, boks itu dibikin untuk tempat sampah. Tapi sejak Pak Sampah tidak datang, lebih baik sampah tidak dibuang di sana karena toh tidak ada lagi yang mengutipnya. Lalu tempat sampah ditutup dengan papan. Sialnya, papan sempat hilang dan beberapa kali Bibi memergoki orang bermotor yang melemparkan kantong sampahnya ke sana. Itu artinya, Bibi kebagian tugas mengelola lebih banyak sampah, sampah orang.

Akhirnya sampah kering dibakar di halaman rumah. Botol-botol plastik dipisahkan karena bisa dijual. Sisanya, Bibi terpaksa melemparkan sampah ke lahan kosong berpagar seng tak jauh dari rumah. Aku pernah ke sana dan sedih melihat tempat itu ternyata jadi bukit sampah. Lebih sedih lagi melihat got di ujung jalan yang sekarang penuh sampah. Rupanya, orang membuang sampah di got yang tidak sepenuhnya tertutup itu. Pagi dan sore, air got meluap ke jalan karena tidak bisa lagi mengalir. Sungguh, pemandangan yang tidak menyenangkan. Belum lagi tumpukan sampah di sebelah halte. Juga di belakang halte seberangnya.

Aku ingat pesan aktivis lingkungan untuk membuang sampah pada tempatnya. Tapi di mana tempatnya?

Ini Jakarta. Di mana orang punya sejuta cara membuang sampahnya.

Tuesday, September 09, 2008

ini bukan Jakarta

Judul: Alamku Tak Seramah Dulu
Penulis: Dodi Rokhdian, dkk.
Ilustrator: Oceu Apristawijaya
Editor: Aditya Dipta Anindita
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia, Juni 2006

Ini bukan kisah tentang Jakarta: ada Penguwar yang sedang mengendap-endap hendak menombak seekor rusa di tengah kelebatan hutan basah Sumatra, Sipar yang menikmati sejuknya mata air di lereng Merapi, atau Sukenti kecil yang riang menjelajahi kekayaan alam desanya di Deli Serdang.

Seharusnya, Haposan yang tinggal di Sumbul, Sumatra Utara pun punya mata air jernih tempat ia dulu biasa mandi sambil bermain air dengan riang gembira. Seharusnya juga, Qodir yang tinggal di sebuah desa di Jawa Barat tak perlu menghabiskan harinya di liang gelap untuk mencari emas sementara sungai-sungai di desanya mulai tercemar merkuri limbah pemrosesan emas.

Buku ini bercerita tentang perubahan. Bermula dari satu demi satu pohon yang tumbang dan rusa yang mati di hutan Penguwar, lalu satu demi satu sungai yang tak lagi bisa direnangi oleh Sipar, Haposan, Qodir dan Sukenti. Dongeng-dongeng bijak para tetua yang tergantikan oleh cerita televisi, adat tak lagi bisa mengelola kehidupan ketika manusia mulai bergerak dalam naluri dan logika pasar, dan kita kadang tak membayangkan pilihan selain mengikuti saja.

Pembicaraan mengenai globalisasi selama ini lebih banyak terjadi di ruang-ruang akademis sambil beradu kehebatan teori, mulai dari modernisme sampai cultural studies, mulai dari Herbert Marcuse sampai Stuart Hall.

Penguwar, Sipar, Haposan, Qodir dan Sukenti - lima tokoh belia dalam buku ini - mungkin tidak terkenal seperti Stuart Hall dan tak pernah membaca teori tentang globalisasi. Tapi mereka merasakan benar bagaimana alam tempat hidupnya perlahan mulai berubah dan hidup menjadi lebih sulit ketika hutan dan desa mereka telah terlibat dalam jaringan besar koneksitas: globalisasi. Maka, alamku tak seramah dulu!

Ini bukan Jakarta. Tapi sangat layak dan perlu dibaca!

Wednesday, June 18, 2008

busway is not my way!


Sudah lama nggak ke Salemba, sekitar satu setengah tahun sejak aku lulus kuliah S2 di UI. Sekarang, udah ada jalur bis Transjakarta melewati kampus. Bahkan haltenya tepat di depan kampus.

Sebut saja busway dan aku berniat mencobanya. Jam 12.10 pm, selesai sedikit urusan di kampus UI Salemba. Masih ada 50 menit untuk mengejar jam buka kolam renang di Pasar Festival. Kalau masuk jam satu siang, tiketnya hanya Rp 1.600. Makanya dibela-belain. Dan ini kesenangan baruku di Jakarta yang menyehatkan.

Aku masih punya 50 menit. Kupikir cukuplah. Busway kan punya jalur sendiri. Harusnya lancar.
Ternyata aku salah duga.

Dari Salemba ke Kuningan harus tiga kali naik busway. Pertama rute Salemba – Matraman, disambung Matraman – Dukuh Atas dan terakhir baru Dukuh Atas – Kuningan. Halte pertama masih oke. Lima menit menunggu rasanya sangat wajar. Di halte Matraman depan Gramedia, aku turun lalu naik ke jembatan untuk ke halte transit. Walah ya ampun, di pintu Dukuh Atas orang yang antre sudah berjubel. Ada 50an orang. Belum lagi di pintu satunya. Mulailah menit-menit menunggu.

Busway ke-lima, baru aku bisa naik setelah setengah jam menunggu. Jelaslah nggak dapet tempat duduk. 13.08 sampai di halt Dukuh Atas, lalu harus menunggu lagi busway jurusan Ragunan yang lewat Kuningan. Lima menit... sepuluh menit... lima belas menit... Aku udah mulai menyesal. Kebayang kalau tadi naik bemo dari RSCM ke Manggarai, trus nyambung naik Kopaja 66, mungkin aku udah sampe. Toh, lalu lintas jam satu siang nggak terlalu macet. Paling banyak ongkosnya beda dua ribu lebih mahal dibanding busway dan aku mungkin sudah berada di tengah kolam renang Pasar Festival sekarang.

Tapi aku masih di halte Dukuh Atas berdesakan dengan banyak orang. Di punggung, terasa keringatku menitik. Kaki pegel karena lebih dari satu jam berdiri. Baru di menit ke-duapuluh busway-nya dateng. Antreanku bukan di paling depan. Tapi apa boleh buat, harus maksa naik dari pada nunggu lebih lama. Lagi pula, harga kolam renang 1.600 cuma sampai jam tiga.

13.35 akhirnya sampai di Pasar Festival. Satu jam dua puluh menit, Salemba – Kuningan ternyata perjalanan panjang yang harus dibayar dengan keringat, kaki pegal dan perut keroncongan. Nggak mungkin berenang kalau belum makan, sementara waktu berenang murah hampir habis. Satu jam di berenang pasti nggak puas. Kepalang tanggung juga kalau pulang. Akhirnya aku menunggu masuk jam empat untuk harga tiket Rp 10.100, sambil makan dan mengetik ini. Sambil merutuk-rutuk. Gimana enggak, tadi naik busway beralasan lebih murah dari pada naik dua kali angkutan. Ya iya, lebih murah. Tapi jadinya renangku yang harus bayar lebih mahal!

Efektifkah busway? Efisienkah?

Busway-nya emang nggak macet. Tapi haltenya jauh lebih macet. Besok-besok pasti pikir dua kali naik busway model begini. Amannya ya yang satu trip, misalnya Blok M – Kota. Kalau untuk yang transit-transit, sorry deh, kecuali aku punya banyak waktu dan kerelaan untuk menunggu. Aku membuktikan, busway is not my way...

Thursday, May 29, 2008

Jakarta Kelabu

Sudirman 17:54. Empat perempuan duduk di halte dengan aksi yang sama: menutup hidung dengan tisu atau sapu tangan. Udara abu-abu memang tak nyaman untuk bernafas. Apalagi dengan jarak kendaraan yang rapat dan tak kunjung berlalu. Sore ini kelabu.

Sama kelabu dengan wajah-wajah letih sepulang kerja. Sama kelabu ketika menyadari kenyataan bahwa ongkos bis kota naik, dan ada di antaranya naik dengan semena-mena. Aku masih maklum kalau ongkos Kopaja dan Metromini naik dari Rp 2.000 jadi Rp 2.500. Baiklah. Bukan aku mendukung kenaikan harga BBM, tapi menyadari konsekuensi bahwa kehidupan keluarga kernet bis makin sulit setelah naiknya BBM membuatku rela saja membayar kenaikan ongkos bis.

Tapi ada yang menurutku semena-mena: Bis Bianglala 44 Cileduk-Senen. Ini ruteku pada suatu pagi. Dan aku harus cemberut ketika membaca pengumuman tarif baru yang ditempel di dalam bis. Ongkos yang semula Rp 5.000 kini naik jadi Rp 7.000. Artinya kenaikannya Rp 2.000. Artinya mereka menaikkan ongkos 40%. Serombongan ibu yang berdiri di belakangku terdengar mengomel. Katanya, BBM saja naik tidak sampai 15%, kenapa ongkos bis naik semahal itu. Tapi kernet tidak peduli sama sekali.

Aku turun di Ratu Plasa, melanjutkan perjalanan dengan Patas AC Mayasari 05 Blok M – Bekasi. Yang ini naiknya masih wajar, dari Rp 5.500 jadi Rp 6.500. Padahal bis ini lewat tol. Jadi emang keterlaluan Patas AC 44 itu! Aku lebih terkejut lagi sewaktu perjalanan pulang dengan Patas AC Mayasari 35 Senen-Cileduk, aku membayar Rp 1.000 lebih murah dari pada Bianglala 44 padahal rutenya hampir sama.

Jakarta makin kelabu dengan tampang-tampang cemberut di bis kota karena kenaikan ongkos. Mau tidak mau harus berpikir ekonomis. Turun di pintu tol Jati Bening, aku disambut teriakan para tukang ojek yang rupanya sudah mengenaliku, “Kranji, Kraji!” Kujawab saja, “Enggak, Bang, Kali Malang situ!” Tukang ojek ganti yang kelabu... “Habis gimana lagi, BBM naik, ojek pasti naik. Rute rumah-kantor bisa-bisa sampe Rp 40.000 kalau aku sambung pake ojek sampe kantor. Ya sudah, Kali Malang saja lalu sambung pakai Mikrolet yang juga naik ongkosnya... Hiks...

Tuesday, May 20, 2008

work hard play hard

Sabtu sore di foodcourt pasar festival:
“Mbak, suka clubbing nggak?” “Emang kenapa?”
“Mbak bisa jadi member, nanti clubbingnya gratis seumur hidup. Cuma bayar seratus ribu.”
“Oh, saya udah punya member kok...”

Maksudku tentu saja SOKOLA – Alternative Education Club, lembaga tempatku bekerja. Tapi tentu saja tidak kusebut pada si mbak yang menawarkan clubbing, takut dia minder. Hehehe...



Kalau memang asalnya dari kata club, maka demikianlah aku ingin menyebut pekerjaanku. Clubbing. Karena kami memang menyebut diri klub, kumpulan orang sehobi dan sekesenangan. Dan berlangsunglah istilah ‘work hard play hard’ di kami tanpa harus memisahkan waktu kerja dengan waktu bersenang-senang. Di sini, keduanya bisa dilakukan bersama karena kami senang melakukan kerja ini dan kami bekerja karena memang ini cara bersenang-senang.

Bagaimana tidak bersenang-senang, di saat sebagian orang Jakarta bangun dini hari supaya bisa mengejar jam kantornya, kami bisa bangun saat merasa tidurnya sudah cukup bahkan kadang tidak perlu mandi dan berdandan untuk mulai memberi pelajaran pada murid-murid. Pun saat di Jakarta, aku punya kuasa untuk mengatur waktu tidurku, waktu bekerjaku, dan waktu ngantorku yang seminggu sekali. Tidak harus menunggu weekend untuk bisa berenang atau nonton bareng. Namanya juga alternatif, namanya juga clubbing... Jadi nggak perlu lagi clubbing di tempat lain.

Begitulah, pekerjaan ini sudah seharusnya disyukuri. Aku memikirkan ini saat melihat sepasang (sepertinya) suami istri berboncengan motor melewati Kali Malang, Bekasi, dengan tas kerja masing-masing dan raut wajah lelah. Waktu sudah mendekati pukul 18.00, jalan macet dan penuh asap kendaraan bermotor membuatku tergelitik untuk bertanya: “Jam berapa mereka harus bangun tiap pagi supaya tidak terlambat datang ke kantornya di Jakarta? Jam berapa mereka sampai rumah lagi, dan seberapa banyak sisa tenaga mereka untuk mengerjakan hal lain? Apakah mereka punya cukup waktu beristirahat tiap hari? Apakah mereka menikmati pekerjaannya?Apakah mereka bisa menikmati waktu luangnya?

Pertanyaan itu juga menggelitik ketika aku melihat setengah penumpang bis patas AC dari Ciledug tampak tertidur pada sebuah pukul tujuh pagi. Butuh setidaknya satu setengah jam dari terminal Ciledug untuk mencapai jalan utama Sudirman-Thamrin dalam pagi yang macet seperti itu. Bangun kepagian untuk mengejar jam kantor, lalu dibayar dengan tidur sepanjang perjalanan.

Ini Jakarta, di mana setiap orang bekerja keras. Ada yang bekerja untuk bertahan hidup, dan sebagian lainnya bekerja untuk bertahan gaya hidup, termasuk clubbing itu tadi...

Wednesday, April 09, 2008

Hari Hujan di Makekal


Hari hujan,
nggak ada ojek,
jalan becek,
muka lecek…

Sungguh-sungguh terjadi padaku siang itu, dalam perjalanan menuju lokasi Sokola Rimba di tepi Sako Napu, Hutan Makekal, Jambi. Nasib tidak mengijinkan kami menempuh jalan merah berlumpur saat hujan turun karena saat itulah orang kaya si pemilik jalan menutup gerbang di ujung satu-satunya jalan yang menghubungkan desa SPG, Bungo Tanjung ke hutan Makekal.

Sebenarnya bukan satu-satunya. Ada jalan lama, orang kaya itu pula yang punya. Setelah dia membuat jalan baru dengan dua buldosernya menebas rimbunan hutan, jalan lama memang tak lagi ia gerbangi, tapi semua titian kayu yang melintasi sungai-sungai kecil di sepanjang jalan telah diputusnya. Tak ada lagi yang bisa melintas. Mau tak mau harus lewat jalan baru, itupun selalu ditutup saat dan setelah hujan dengan alasan tanah merah yang liat karena hujan akan cepat rusak kalau dilewati kendaraan bermotor. Yang tetap melintas, demikian tertulis di papan dekat gerbannya, akan didenda. Seratus ribu untuk motor.

Ya sudah, berjalan kakilah kami siang itu di bawah titikan hujan. Dalam basah aku mengumpat, “Sialan, jalan tol di Jakarta aja lebih murah!” Tapi percayalah, ini tidak mengurangi kenikmatan berjalan kaki sepanjang 17 kilometer yang tak mungkin aku lakukan di Jakarta. Hujan justru mendinginkan tanah, menyejukkan udara dan mengurangi peluhku.

Sambil berjalan dan sekali-sekali terperosok lumpur tanah merah, aku membayangkan perjalanan Orang Rimba keluar atau masuk hutan. Dulu, sebelum jalan ini dibuat, perjalanan tak semudah ini karena harus menerobos rimbunan hutan hujan: semak, duri, pacet, dan pasti lebih dari yang bisa kubayangkan. Lalu ketika kelebatan hutan berubah jadi kebun-kebun karet, si orang kaya membuat jalan demi memudahkan angkutan penjualan karetnya dan wilayah hidup Orang Rimba semakin mudah diakses.

Jalan menghubungkan Orang Rimba pada dunia terang, dunia yang mendapat lebih banyak asupan sinar matahari karena ketiadaan pepohonan seperti di rimba. Pantesan Jakarta panas minta ampun karena sedikit sekali pepohonan hijau. Di jalan merah yang membelah rimbunan hutan karet ini saja, panas minta ampun rasanya saat berjalan kaki di tengah hari yang terik.

Aku membayangkan Jakarta, yang panas, terik, macet dan berasap yang terus membuatku mual dan terbatuk-batuk. Bagaimanapun, hujan ini, sekalipun becek dan nggak ada ojek, harus disyukuri. Ini saatnya merehabilitasi paru-paru yang terkontaminasi polusi Jakarta. Maka aku tidak berharap ojek di sini, apalagi metromini atau busway!

Monday, February 18, 2008

Why Bangkok?



“Sa wat dii kha …” begitulah kota ini menyapaku. Tak hanya oleh petugas bandara, resepsionis penginapan atau pedagang souvenir di sepanjang Khaosan Road. Melalui berbagai tanda (sign) dan papan informasi, kota ini seakan menyapaku, memudahkan perjalanan pertamaku mengenalinya.
This is ‘a Bangkok birthday trip’ dan aku melakukannya sendirian.

Tebaran tanda dan informasi ini didukung dengan jaringan transportasi yang baik dan nyaman sehingga aku seperti tak dibiarkan kebingungan di dalamnya. Ini bagian yang menyenangkan dari perjalanan, menjadi pejalan di kota asing. Sok keren aja: sepatu sendal teva, daypack, kamera dan peta. Bahkan aku sama sekali tidak ingat untuk membuka Lonely Planet saking mudahnya berjalan di sini.
Aku mencoba hampir semua angkutan umum: ojek, boat, tuk-tuk (seperti bajai), taksi, subway dan sky train. Yang belum adalah kereta disel dan bis kota karena rutenya ditulis hanya dengan huruf Thai. Mungkin angkutan ini tidak diperuntukkan bagi pendatang. Sementara tanda-tanda dan informasi di sarana transportasi lainnya ditulis dalam huruf latin dan Thai dengan sangat komunikatif.

Waktu naik boat lalu nyambung dengan sky train, aku sempet kepikir, mungkin jaringan transportasi seperti ini yang pengen dibangun ama Sutiyoso lewat waterway dan busway. Sungai Chao Phraya adalah bagian penting dari jaringan transportasi kota Bangkok. Ada beberapa jenis boat (dibedakan dengan bendera) yang berhenti di dermaga-dermaga bernomer urut. Dermaga paling ujung menyambung dengan jalur sky train. Ini jalur anti macet.
Perjalanan dengan public boat menyenangkan karena kita bisa liat berbagai landmark kota di kanan kiri sungai di sepanjang perjalanan. Tapi, kebayang nggak kalau angkutan jenis ini dicobakan di Jakarta. Kira-kira pemandangan apa yang kita bakal dapatkan di sepanjang perjalanan? Bedanya adalah pada cara memperlakukan sungai. Mereka menjaga benar Chao Phraya bahkan ikan-ikannya pun dilarang untuk ditangkapi.

Satu lagi hal penting yang dipunyai Bangkok adalah ruang terbuka. Sebuah sore, ketika aku terlalu lelah untuk meneruskan perjalanan, aku menikmati duduk di deretan panjang bangku sambil mengamati air mancur cantik di sebuah plaza terbuka di antara stasiun sky train dan sebuah sentra belanja. Di tempat lain, ada bangku-bangku taman kota yang selalu dipenuhi burung-burung merpati, taman di tepi danau yang menjadi tempat istirahat saat kelelahan belanja di Chatuchak (pasar terbesar di Asia Tenggara yang buka cuma pas weekend) atau menyengaja jogging dan senam di Lumphini.

Aku inget Jakarta. Dulu, gedung Danamon di perempatan Karet yang sekarang dibeli oleh Sampoerna punya plaza dengan bangku-bangku yang selalu ramai terutama saat jam pulang kantor. Terkadang, tak sekadar menunggu bis di sana, tetapi juga sejenak melepas penat atau menjadi titik pertemuan dengan teman. Tapi plaza itu tidak lama, seiring berganti-gantinya kepemilikan gedung itu. Dan sekarang, mungkin kita tidak bisa lagi berharap.

Kalau kita berani capek-capek promosi Visit Indonesia 2008, mestinya jangan biarkan tamu-tamu kita (atau bahkan orang kita sendiri) kebingungan mencari tahu rute bis kota atau kenapa justru penjual teh botol di pinggir jalan lah yang menyediakan bangku-bangku pelepas lelah dalam perjalanan?

Khawp khun kha…

Lebak Bulus Undercover

Sebuah sore di Stadion Lebak Bulus dalam pertandingan Persija melawan Persib. Ini pertandingan bola live pertamaku. Aku bukan penggemar dan sejujurnya tidak tahu apa-apa tentang sepak bola. Tetapi aku bersama seorang teman yang bercerita tentang ketakjubannya menonton pertandingan pertamanya dalam kenangan gandengan tangan ayahnya saat ia duduk di kelas satu SD dan sejak itu pula ia tidak pernah melewatkan pertandingan yang melibatkan tim kotanya, Bandung. Sepak bola dan Persib menjadi bagian dari kesehariannya di gang yang kemudian melahirkan kelompok suporter dengan anggota lebih dari 20.000 orang: Viking.

Masalahnya, Lebak Bulus sama sekali bukan tempat yang aman untuk suporter berseragam selain oranye. Setidaknya untuk sore itu. Tiga kali terjadi tepat di belakangku orang berkelahi. Satu kalimat yang aku ingat dalam perkelahian itu adalah, “Periksa KTP-nya!” Kalau ketahuan orang Bandung, dijamin nggak selamet keluar dari stadion. Ini yang bikin aku ciut selama pertandingan dan nggak berhenti membisikkan doa, sekalipun kami dalam penyamaran kostum oranye di tribun VIP.

Stadion bergemuruh. Lagu-lagu dukungan tim oranye menggema selain makian terhadap tim lawan. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan temanku dalam penyamarannya. Ia harus ekstra hati-hati: tidak boleh kelepasan bicara dengan logat Sundanya atau spontan mengaktualisasikan dukungannya pada Persib. Mungkin ia merasa bersalah harus memakai kaos oranye sore itu. Sementara tak jauh di sebelah kiri kami seorang suporter perempuan memakai kaos yang bertuliskan makian terhadap suporter Persib. Di depan kami, seorang laki-laki mengikatkan kaos biru di sepatunya sehingga selalu terinjak setiap ia melangkah. Sore itu, kiper lawan terkena lemparan batu dan bis berpelat D yang mengangkut timnya rusak berat.

Barangkali ini bukan tentang Persija melawan Persib karena dalam nyanyian mereka jelas-jelas tersebut makian kepada The Jak atau Viking. Barangkali ini bukan lagi memaknai suatu pertandingan karena bahkan di lain hari ketika Persija melawan yang lain, tetap saja nyanyian makiannya ditujukan untuk Viking. Demikian juga sebaliknya, ketika Persib melawan Slemania di Jogja, ritual para suporter dimulai dengan membakar bendera oranye. Barangkali ini bukan tentang sepak bola karena dalam perjalanan wisata di Jogja, seorang beratribut Persib ‘disapa’ oleh anggota The Jak dan dipaksa melepas atribut birunya. Barangkali ini tentang Jakarta dan Bandung.

Tapi yang pasti, The Jak maupun Viking telah memberi identitas kepada orang-orang muda yang selama ini tidak mendapat tempat di ruang formal karena dianggap bandel. Dan stadion, adalah arena aktualisasi diri. I love the game!

Wednesday, December 21, 2005

trotoar musim hujan

Musim hujan di Jakarta selalu punya cerita, seperti sore itu di jalan depan mall Ambasador/ITC Kuningan yang berseberangan dengan kawasan Mega Kuningan. Di tengah-tengah badan jalan, ada saluran air (sungai ungu)* dan boulevard bertanah merah. Tanah merah inilah yang sering jadi masalah.

Aku sering ke kawasan itu. Sering pula melewati tanah basah sisa siraman hujan di sana dan harus kuakui, pengalaman itu cukup menyulitkan. Tanah merah itu menjadi sangat liat setelah basah disiram air hujan. Saat terinjak, tanah akan menggumpal dan terbawa di bagian bawah sepatu kita. Kalau sudah begitu, hati-hati melangkah. Bukan saja telapak kaki jadi terasa berat, tetapi basah di tahan merah itu juga sangat licin saat kaki menapak.

Aku pernah ketemu seorang perempuan yang tampak ragu melewati titian besi untuk menyeberangi sungai ungu menuju Mal Ambasador. Waktu itu, aku berada di sisi seberangnya. Setengah ia berjalan meniti besi, aku mengulurkan tangan memberi bantuan. Ia berterima kasih lalu mengadu, bahwa ia begitu ketakutan melangkah karena baru saja terpeleset. Sewaktu ia sudah lewat, aku meniti besi itu pelan-pelan. Nggak lucu kan kalau setelah nolong orang, aku sendiri yang kepleset! Hehehe…

Sampai di seberang jalan, tapak sepatu kedsku sudah penuh lumpur. Tidak terlalu menyulitkan saat melintas di jalan aspal, tetapi tidak saat aku berjalan di atas trotoar yang berlantai keramik. Aku menjadi mengerti mengapa mbak tadi begitu ketakutan melangkah. Semakin mengerti lagi ketika seorang pemuda terpeleset tepat di depanku. Untung ia segera berpegangan pada sebatang pohon. Lumpur di tapak sepatu dan genangan air di trotoar keramik adalah dua hal berbahaya. Kini keduanya harus dihadapi bersamaan.

Demi menghindari kecelakaan, aku mencoba membersihkan tapak sepatu. Pertama-tama aku mencari sudut semen untuk mengerik lumpur di tapak sepatu. Setelah itu aku memanfaatkan air yang menggenang di trotoar untuk mencuci tapak sepatu. Sedikit berkecipak. Hasilnya memang lumayan, tapi tidak seratus persen nyaman berjalan di trotoar basah itu. Akhirnya, aku memilih berjalan di atas rumput di sisi trotoar, di depan air mancur dan tugu bertuliskan Mega Kuningan. Rumput itu seperti keset. Tanahnya tidak lagi liat dan licin setelah ditutup rumput dan aku tidak takut lagi terpeleset. Selain itu, saat berjalan di atasnya aku bisa sekalian membersihkan sisa tanah di tapak sepatuku.

Harus diakui, lantai keramik bukan gunanya untuk melapisi trotoar apalagi di tempat yang sering mendapat siraman hujan. Keramik tidak mempunyai pori-pori untuk meresapkan air. Akibatnya, air hujan menggenang. Tapak sepatu yang dilekati lumpur menjadi dua kali lebih beresiko terpeleset di atas trotoar.

Aku juga pernah membaca di koran beberapa waktu lalu, jika trotoar terbuat dari bahan yang tidak meresapkan air maka semakin kecil daerah resapan air. Akibatnya air hujan yang tidak tertampung di selokan akan mengalir ke badan jalan yang lebih rendah. Ya udah, banjir deh namanya. Lalu macet. Katanya, konblok adalah bahan yang cukup baik. Tapi rumput juga menyenangkan menurutku…

* Baca “Sungai Ungu Jakarta” di bagian sebelumnya.