<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625</id><updated>2012-02-14T22:19:52.016+07:00</updated><category term='sidney'/><title type='text'>indit di jakarta</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-6416670231284687285</id><published>2011-11-20T17:14:00.005+07:00</published><updated>2011-11-20T18:13:23.220+07:00</updated><title type='text'>berkereta di Paris</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-JROzBIYCdfA/TsjgA_4QkFI/AAAAAAAAAtQ/qRsopAsbwNg/s1600/P1010120.JPG" style="text-align: left; " onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-EHtnshekpOg/TsjgA4lZSVI/AAAAAAAAAtE/0Ggagi-rVRE/s1600/P1010118.JPG" style="text-align: left; " onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Desember tahun lalu, untuk pertama kalinya aku ke Paris. Sebuah konferensi internasional di Paris meminta aku mempresentasikan Sokola Rimba di sana, tentu saja mereka menanggung biaya perjalanan dan akomodasi. Dan kesempatan langka ini kumanfaatkan sekalian untuk berjalan-jalan di Paris dan kota-kota negara lain di Eropa. Kapan lagi? ; )&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Panitia menginapkan aku di hotel tempat acara yang berlokasi di Disneyland. Tempat ini sudah berada di luar kota Paris, tapi masih terjangkau dengan Metro (line kreta MRT di Paris). Kurang lebih seperti Bogor dan Jakarta. Kebetulan juga, rumah teman yang aku tuju untuk menginap setelah konferensi itu juga tidak jauh dari Disneyland. Hanya beberapa stasiun saja dari Disney, masih di luar kota Paris.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Gracia, temanku itu, memberikan informasi yang sangat detail tentang bagaimana aku mencapai apartemen mungilnya. Dia wanti-wanti agar aku melihat papan rute dan memastikan lampu kecil di bawah nama stasiun yang aku tuju menyala. Baiklah, dengan ransel besar di belakang dan ransel kecil di depan, pelan-pelan aku beranjak dari hotel. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-tZRCaSBnyds/TsjgBLNoQDI/AAAAAAAAAtc/pDwHRm84FaA/s1600/P1010121.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-tZRCaSBnyds/TsjgBLNoQDI/AAAAAAAAAtc/pDwHRm84FaA/s400/P1010121.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5677033641094955058" style="display: block; margin-top: 0px; margin-right: auto; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px; " /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Stasiunnya tak seramai yang aku bayangkan, mungkin karena di pinggir kota. Setelah membeli tiket, aku pun naik ke peron. Sepi. Ada satu kereta menunggu di sana. Aku tidak tahu apakah itu kereta yang dimaksud atau bukan. Aku belum cukup familiar dengan rambu-rambu berbahasa Prancis karena itu perjalanan pertamaku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tiba-tiba ada seorang anak muda, mungkin usianya sekitar 14 tahun. Dia mendekati lalu bertanya dengan bahasa Prancis. Aku tidak paham, tapi aku memperlihatkan tiketku padanya. Dia langsung menyuruhku masuk kereta yang berhenti. Lagi-lagi sepi dalam gerbong itu. Cuma ada dua orang termasuk aku. Ada papan rute di atas pintu, tapi karena dalam keadaan berhenti, lampunya pun tidak menyala. Untuk meyakinkan lagi, aku bertanya pada anak tadi dengan bahasa Inggris. Dia cuma yes yes aja. Harusnya dia mengerti, karena aku memperlihatkan tiketku. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Anak itu sempat pergi, lalu kembali lagi dan memberikan secarik kertas kepada penumpang-penumpang Metro. Aku sudah lupa tepatnya, ditulis dalam bahasa Inggris kurang lebih isinya bahwa dia adalah imigran dan tidak punya uang. Whoa, sama dengan yang sering kualami di Metromini di Jakarta. Karena aku tidak tahu berapa biasanya orang memberi, aku putuskan untuk tidak memberi. Maaf ya... Hehehe... Backpaker kan harus irit...&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Untung tidak memberi. Karena begitu lampu dinyalakan dan kereta berjalan, ternyata lampu di bawah tulisan stasiun tujuanku tidak menyala. Aku tertipu! Hmmmfff... Masalah selesai dengan berhenti di stasiun lain dan menunggu kereta berikutnya, tentu saja setelah memastikan bahwa keretanya berhenti di stasiun tujuan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-JROzBIYCdfA/TsjgA_4QkFI/AAAAAAAAAtQ/qRsopAsbwNg/s400/P1010120.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5677033638052532306" style="color: rgb(0, 0, 238); text-decoration: underline; display: block; margin-top: 0px; margin-right: auto; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px; " /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pengalaman buruk bermetro tak hanya sekali itu. Pada perjalanan ke Bandara di hari terakhirku di Paris, ada kejadian lain yang cukup mengganggu dan membuat tak nyaman orang asing sepertiku. Kereta tiba-tiba berhenti di sebuah stasiun kecil. Tak ada keterangan resmi berbahasa Inggris tentang penyebab dan bagaimana kami harus meneruskan perjalanan ke bandara.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dalam kebingungan, aku berkelompok dengan dua perempuan setengah baya dari Belanda dan perempuan muda dari Amerika yang sama-sama orang asing dan menuju bandara. Kami sama-sama tidak mengerti pengumuman bahasa Prancis tentang situasi itu dan memutuskan mencari taksi di luar. Biayanya dibagi empat. Tidak mudah mencapai pintu keluar, apalagi mereka bertiga masing-masing membawa koper besar menuruni tangga dan menghindari genangan air di stasiun yang tampaknya sedang direnovasi itu. Karenanya pula kami melewati lorong-lorong darurat yang mungkin untuk menghindari bagian yang direnovasi. Dan aku juga tidak ingat mengapa kami harus menerobos palang otomatis. Mungkin karena itu bukan stasiun tujuan kami. entahlah, aku sudah lupa. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Belum sempat semua orang menerobos palang otomoats, petugas menyuruh kami kembali ke atas karena jalur kereta sudah pulih kembali dan dalam 15 menit akan ada kereta yang lewat. Hmm, baiklah. Kami naik kembali ke peron dengan sama susahnya saat turun tadi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Begitulah. Aku tidak langsung naik kereta pertama yang lewat karena sangat penuh lebih dari 30 menit kemudian . Toh pesawatku masih cukup lama. Sengaja aku sisakan waktu panjang agar sempat mengurus ransel besarku yang dititip di loker bandara. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Begitulah. Berkereta di Paris tak lebih baik dari Jakarta. Maksudku, Paris dan Jakarta sama-sama kota besar. Pasti punya persoalan urban yang kurang lebih sama juga. Di beberapa stasiunnya aku juga menemukan sudut-sudut gelap dan berbau pesing. Ngga beda kan, sama di Jakarta.. hehehe...&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center; "&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-EHtnshekpOg/TsjgA4lZSVI/AAAAAAAAAtE/0Ggagi-rVRE/s1600/P1010118.JPG" style="text-align: left; " onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-EHtnshekpOg/TsjgA4lZSVI/AAAAAAAAAtE/0Ggagi-rVRE/s400/P1010118.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5677033636094363986" style="display: block; margin-top: 0px; margin-right: auto; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px; " /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi kesempatan menelusuri jalanan Paris, menuju berbagai tempat dengan Metro , menghirup dingin dan basah oleh salju bulan Desember di sana, ah, aku sungguh beruntung ; )&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-6416670231284687285?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/6416670231284687285/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=6416670231284687285' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/6416670231284687285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/6416670231284687285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2011/11/berkereta-di-paris.html' title='berkereta di Paris'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-tZRCaSBnyds/TsjgBLNoQDI/AAAAAAAAAtc/pDwHRm84FaA/s72-c/P1010121.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-4954826788435808535</id><published>2011-10-19T13:29:00.004+07:00</published><updated>2011-11-22T16:14:57.488+07:00</updated><title type='text'>tragedi E-KTP</title><content type='html'>Aku officially menjadi penduduk Jakarta sejak Juni 2009. Tepatnya setelah menikah, kami memutuskan membuat KK di Jakarta. Pertimbangannya, kalau nanti pindah rumah akan lebih mudah mengurusnya. Ngga perlu ke Jogja, atau Bandung tempat Dodi.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;E-KTP adalah salah satu konsekuensi menjadi penduduk Jakarta. Datanglah undangan itu ke rumah, di antar oleh Pak RT yang sempat mengeluh, "Banyak warga yang saya ngga kenal. Cuma baca namanya di KK aja, tapi ngga tau orangnya yang mana." Hehehe... Maaf ya Pak RT...&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu kami ke kelurahan hari Senin, hari yang dijanjikan dalam surat undangan: bahwa hari itu kelurahan khusus melayani RW 004. Pukul dua kami mengambil nomer antrean untuk foto dan lain-lain, dapat nomer cantik 131. Saat itu, yang sedang diproses adalah nomer antrean 60-an. Katanya paling baru jam empat dipanggil. Oke deh, kami pulang dulu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pukul empat, kami kembali lagi. Kelurahan masih penuh dengan orang. Beberapa duduk di depan ruang foto, ada juga yang di teras kelurahan, juga di sekitar parkiran motor. Mungkin banyak juga yang pulang dan menunggu di rumah sepertiku. Antrean yang masuk baru nomer 90-an. Ini nomer keluarga Risma yang mengambil antrean sejak pukul sebelas. Kami memutuskan pulang lagi, dan kembali nanti setelah magrib.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pukul tujuh malam. Untuk ke-tiga kalinya dalam hari ini kami ke kelurahan. Pas sekali nomor antrean kami yang seharusnya dipanggil masuk ruang foto. Seharusnya. Karena kemudian ibu kelurahan mengumumkan komputer error. Katanya hang. Selain itu karena tadi siang tiga kali mati lampu. Tapi mungkin juga ada alasan lain. Hari sudah malam, dan antrean masih lumayan (setahuku masih ada sampai 150-an), selain itu tampang mas operator komputernya juga udah kucel, mungkin juga bau ketek sedikit karena AC ruangan ngga dingin. Orang-orang kelurahan itu tampak berunding sebentar sebelum mengumumkan bahwa kami bisa kembali lagi besok, dan dijanjikan tanpa antrean.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Besok. Bagaimana dengan yang udah susah-susah cuti hari ini cuma untuk nongkrongin kelurahan seharian? Sabtu dan minggu tetap dilayani kok, demikian ibu kelurahan berdalih lagi. Gimana yang kerja seharian? Kami buka sampai malam, ini aja karena komputernya rusak, katanya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku pulang terakhir, cuma untuk tanya, sampai kapan pemotretan akan berlangsung karena kami sering keluar kota. "Oh, lama kok. Sampai Desember," katanya seolah-olah sudah memberikan solusi terbaik hari ini. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Gubrak!!! Waktu masih lama, kenapa hari ini kita harus empet-empetan antre seharian. Aku sama sekali ngga habis pikir. Oke then, sampai jumpa lagi -- kalau jumpa lagi. Aku ngga tau apa masih pengen dateng lagi untuk foto E-KTP. Ilfil. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Rumit ya, mau ganti KTP aja. Ada aja yang bikin susah, ya birokrasi lah, ya komputer rusak lah. Padahal ini Jakarta. Gimana di luar kota, luar pulau? &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tiba-tiba aku teringat pengalaman delapan tahun lalu saat masih bekerja pendampingan di desa-desa di Jambi. Di desa Jernih yang sungainya cantik, sedikit sekali warga yang memiliki KTP. Bisa dibilang, KTP adalah barang mewah untuk dimiliki sementara kebutuhan primer mereka masih sulit untuk dipenuhi. Sementara untuk membuat KTP mereka harus ke kecamatan yang berjarak lebih dari 20 km. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tanpa kendaraan sendiri, jarak ini bisa diatasi dengan membayar ojek sebesar 25-30 ribu rupiah atau naik mobil tambang untuk ongkos lebih murah. Tapi mobil tambang hanya lewat satu kali pada pukul 6 pagi untuk ke kota kecamatan, dan akan kembali pada sore harinya. Sudah pasti akan terbuang waktu bekerja satu hari. Belum lagi ongkos yang dibutuhkan untuk membuat pas photo sebagai syarat membuat KTP.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku pun coba membayangkan, dengan kondisi mereka dan kerumitan membuat KTP, kira-kira kapan ya warga di sana dibikinin e-KTP? Padahal seharusnya, KTP adalah hak kita yang harus dipenuhi oleh negara. Tapi kenapa jadi susah ya?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Anyway, kami pulang. Dodi kembali mengetik thesis yang hari ini tiga kali ditinggalin untuk ke kelurahan. Aku kembali bersenang-senang dengan mesin jahitku. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-4954826788435808535?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/4954826788435808535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=4954826788435808535' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/4954826788435808535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/4954826788435808535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2011/10/tragedi-e-ktp.html' title='tragedi E-KTP'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-2248324821867510938</id><published>2011-10-15T16:21:00.000+07:00</published><updated>2011-10-15T17:11:27.877+07:00</updated><title type='text'>serba besar di Cina</title><content type='html'>&lt;i&gt;Ini tulisan lama, oleh-oleh perjalanan ke China tahun lalu saat menghadiri&amp;nbsp;UN-NGO-IRENE Asia Pacific 5&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt;&amp;nbsp;Conference. Konfrensi sehari, workshop tiga hari, sisanya adalah fieldtrip alias jalan-jalan. Ini adalah paket liburan&amp;nbsp;yang menyenangkan!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Impresi pertama saat tibadi Cina adalah segala sesuatu &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang serba besar. Tak han&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a fakta bahwa Cina adalah negara dengan daratan besar dan jumlah penduduk &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang juga besar, tapi di Beijing, kota pertama &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang aku singgahi, aku ban&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ak melihat hal-hal besar seperti gedung-gedungbesar (bukan han&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a tinggi),jalan-jalan, ruang terbuka, serta tembok-tembok kota &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang juga besar. Dan hari-hari selanjutn&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a aku melihat hal-hal besar lainn&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang mereka miliki. &lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-pVm6uF8uhM0/TplS67Gv42I/AAAAAAAAAkA/sKGbDpsvKOI/s1600/PICT1709.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://1.bp.blogspot.com/-pVm6uF8uhM0/TplS67Gv42I/AAAAAAAAAkA/sKGbDpsvKOI/s320/PICT1709.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tern&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ata bukan aku saja &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang berpikir demikian. &lt;i&gt;“The&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt; alwa&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;s think about bigthings. The&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt; neverthink small things!”&lt;/i&gt; demikian komentar Chalida, aktivis perempuan dariThailand &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang bersamaku dalam 12hari kunjungan ke Cina pada 28 Maret-8 April 2010 lalu. Kami berada di negeritirai bambu sepanjang hampir dua minggu itu untuk menghadiri UN-NGO-IRENE AsiaPacific 5&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; Conference &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang diselenggarakan di Kota Xining, Provinsi Qinghai, pada tanggal 2 April2010. Meski konferensi han&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a memakan waktu satu hari, namun China NGO Network for InternationalExchanges (CNIE) selaku organisasi tuan rumah menjamu 11 peserta konferensi &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang berasal dari&amp;nbsp;9 negara asing &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang diundang untuk mengikutiserangkaian workshop, kunjungan lapangan, serta kunjungan ke ob&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ek-ob&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ek wisata bersejarah di Beijing, Xining dan Shanghai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Cina memasuki musim semi saat kami tiba. Salju sudah tidak lagi turun danbunga mulai mekar namun cuaca tetap saja terasa dingin. Temperatur udaraberkisar antara 10°C di Beijing dan Shanghai serta 5°C di Xining, bahkan lebihdingin lagi di daerah pegunungan Tibet-Qining &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang sempat kami kunjungi. Menurut seorang panitia,memasuki bulan Maret biasan&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a cuaca sudah mulai hangat, namun karena tahun ini musim dingin lebihpanjang maka suhu udara pun lebih sejuk.&amp;nbsp;Selain Indonesia, Thailand serta dari China sendiri, peserta lain berasaldari Filipina, India, Banglades, Pakistan, Turki, Uzbekistan dan Kazakstan. Merekaadalah pegiat-pegiat NGO.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kegiatan ini diawali dengan tiga hari workshop di Beijing dengan topik &lt;i&gt;“Sustainable Development and HarmoniousSocial Progress in Outl&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;ingRegions”&lt;/i&gt; dengan pembicara dari beberapa NGO di China di bidang pemberda&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;aan perempuan, orang muda, serta etnik minoritas. Berbicaramengenai NGO di Cina berbeda dengan tipikal NGO di Indonesia maupun beberapanegara lain. NGO Cina bergerak di bawah koordinasi pemerintah dan&amp;nbsp; karenan&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a menjadi partner pemerintah dalam menjalankanprogram-program pembangunan dan pemberda&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;aan, serta peran serta politik bagi wargan&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a. Ini tentu saja dipengaruhi sistem politik diCina. Untuk bebebrapa hal, kita bisa menjustifikasin&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a sebagai kontrol negara &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang amat kuat, namun di sisi lain bisa jugadiartikan bahwa pemerintah Cina ingin mengurusi segala sesuatu &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang berkaitan dengan kesejahteraan rak&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;atn&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a. Hal ini aku simpulkan dari pengalaman kunjungan lapangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di Shanghai misaln&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a, kami mengunjungisebuah &lt;i&gt;Communit&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Service Center&lt;/i&gt; &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang dikelola oleh suatu komunitas – kelompokpemukiman, satu komunitas bisa meliputi 100 blok rumah susun atau lebih – denganpendanaan dari pemerintah. Service Center ini mengurusi berbagai keperluankependudukan dalam satu atap seperti pengurusan kartu identitas, registrasipernikahan, asuransi kesehatan, asuransi manula, subsidi orang miskin,pelatihan tenaga kerja, konsultasi usaha kecil, dan lain-lain. Negara kitasebetuln&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a juga memilikijenis-jenis pela&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;anan tersebut namun masing-masingpun&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a ‘kantorn&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a’ sendiri dan bahkan saling berjauhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Bagian paling serius dalam perjalanan ini adalah konferensi UN-NGO-IRENE &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang diselenggarakan di Kota Xining, ibukotaProvinsi Qinghai. Masing-masing peserta mempresentasikan makalah &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang telah disiapkan sebelumn&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a. Di bawah tema besar &lt;i&gt;“Women Empowerment in Development of Oult&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;ing Regions”,&lt;/i&gt; peserta dibagi kedalam tiga sesi dengan tiga tema berbeda &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;aitu &lt;i&gt;PresentSituation of Women in the Outl&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;ingRegion, Empowering Woman for Economic and Social Development in the Outl&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;ing Region,&lt;/i&gt; serta &lt;i&gt;Tapping the NGO Resource for WomenDevelopment in the Outl&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;ingRegions&lt;/i&gt;. Tema ini menjadi ka&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a dengan presentasi peserta dari organisasi &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang bergerak di tingkat grass root seperti kondisiperempuan di daerah rural &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang terpaksa berjalan dua sampai tujuh jam setiap hari untuk mengambil airbagi keluargan&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a sebagaimanadiceritakan oleh Joe Madiath dari India; perempuan di tengah konflik agama diThailand selatan &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang didampingi olehChalida, dan aku sendiri bercerita tentang perempuan suku Orang Rimba &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang tengah menghadapi berbagai persoalan berkaitandengan perubahan lingkungan tempat hidupn&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a. Sementara beberapa organisasi lain berceritatentang program pemberda&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;aan perempuan &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang dilakukan seperti pemberda&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;aan perempuan di Tibet, keterlibatan politik perempuan di Uzbekistan, danlain-lain. Konferensi diakhiri dengan membuat rekomendasi untuk dibawa ke forumUN ECOSOC.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Impresi mengenai ‘kebesaran’ Cina kembali muncul dalam kunjungan-kunjunganke beberapa ob&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ek wisata. &lt;i&gt;The Great Wall&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Forbiden Cit&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;misalny&lt;/span&gt;a, mengingatkan akupada komik Chinmi dan Mu Lan di mana kerajaan selalu digambarkan berada dalamtembok benteng &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang kokoh. Sementarakunjungan ke beberapa museum memberikan gambaran kontekstual dari ban&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ak pertan&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;aan mengenai Cina dan kebijakann&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a, serta keka&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;aan intelektual &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang telah mereka miliki sejak berabad lampau danterdokumentasi dengan baik sampai kini. Aku juga membaca rencana-rencana masadepan Cina melalui truk-truk dan pro&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ek-pro&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ek konstruksi &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang mendominasi pemandangan di Kota Xining setiaphari atau displa&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt; rencana pen&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;elenggaraan World Expo di Shanghai tahun ini. Denganbesaran sumber da&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang dimiliki tersebut, Cina dan NGO-n&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a sangat bisa berperan lebih ban&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ak dalam men&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;uarakan persoalan-persoalan &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang dihadapi warga Asia di negara lain di forum internasional,demikianlah &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang kami simpulkandalam diskusi informaal di hari terakhir kami di Cina. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: -webkit-auto;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-frWBWxaG9Rw/TplTAl9fdRI/AAAAAAAAAkI/OH1XISgU3fo/s1600/PICT1808.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://2.bp.blogspot.com/-frWBWxaG9Rw/TplTAl9fdRI/AAAAAAAAAkI/OH1XISgU3fo/s400/PICT1808.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirn&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a aku tidak ingin men&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;atakan bahwa Cina lebih baik dan Indonesiaketinggalan. Justru dari perjalanan ini aku merefleksikan kembali negeriku.Bahwa Indonesia sebetuln&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a tak kalah ka&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a dengan Cina. Kitapun&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a daratan dan lautan,suku-suku dan tradisi &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang jauh lebihberagam, alam &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang tak kalah indahn&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a. Tak harus bisa menjadi seperti Cina karena kitapun&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a konteks sejarah dansistem pemerintahan &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang berbeda, tapi kitabisa mempelajari bagaimana mereka mendokumentasikan keka&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;aan tradisin&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a, mengelola pendudukn&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a &lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;ang besar, dan berusaha melibatkan kelompok-kelompok perempuan, orang mudadan etnik minoritas dalam pengambilan keputusan politik. Dan pada akhirn&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a kita harus perca&lt;span lang="EN-US"&gt;y&lt;/span&gt;a bahwa Indonesia tak kalah besar!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-2248324821867510938?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/2248324821867510938/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=2248324821867510938' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/2248324821867510938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/2248324821867510938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2011/10/serba-besar-di-cina.html' title='serba besar di Cina'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-pVm6uF8uhM0/TplS67Gv42I/AAAAAAAAAkA/sKGbDpsvKOI/s72-c/PICT1709.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-497154281909152255</id><published>2011-09-24T21:14:00.002+07:00</published><updated>2011-09-24T21:51:49.520+07:00</updated><title type='text'>mencari rumah di jakarta?</title><content type='html'>Sudah hampir setahun aku mencari rumah. Dengan budget yang amat terbatas, tentu ini tidaklah mudah. Hampir tidak ada pilihan, dan aku sedang menyiapkam mental untuk suatu hari nanti memulai rutinitas perjalanan panjang dari dan pulang ke rumah. Seperti yang sering kutemui sedang tertidur di bis kota setiap pagi, atau berboncengan pulang saat malam sambil saling diam karena kelelahan. Mungkin juga akan sulit bagi orang-orang yang akan mengunjungi kami.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku cuma ingin rumah kecil dengan sisa halaman yang cukup untuk satu-dua pohon besar untuk tenda dan hammock, dapur modern kalau bisa dengan pantry kecil, ruang makan dengan meja besar yang akan menjadi fokus aktivitas di rumah dengan televisi flat di dinding, sudut untuk studio jahitku, kamar tidur yang nyaman dan lega, kaca-kaca besar untuk masuk cahaya dan udara ke dalam rumah, temat cuci dan jemur yang kering saat tidak dipakai, tidak bising dan berdebu, bercat putih, abu-abu, dan aksen merah. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Apakah aku minta terlalu banyak?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-497154281909152255?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/497154281909152255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=497154281909152255' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/497154281909152255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/497154281909152255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2011/09/mencari-rumah-di-jakarta.html' title='mencari rumah di jakarta?'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-8041436958659975962</id><published>2011-08-21T14:38:00.002+07:00</published><updated>2011-08-21T15:02:36.572+07:00</updated><title type='text'>kapan ya, Jakarta?</title><content type='html'>&lt;div&gt;Beberapa kali aku menemukan komentar, "Kapan ya, Jakarta bisa seperti ini?" sebagai status atau keterangan foto di facebook milik teman-teman yang sedang jalan-jalan ke luar negeri. Sungguh tidak adil rasanya membandingkan Jakarta dengan kota-kota yang umumnya negara maju. Walaupun rasanya harus jujur kalau kota-kota itu punya kelebihan yang Jakarta tidak (atau kurang) punya, seperti:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;1. disiplin&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-nkoG60rthzQ/TlC29ImMu7I/AAAAAAAAAhA/2XA44exzR8A/s1600/disiplin.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 266px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-nkoG60rthzQ/TlC29ImMu7I/AAAAAAAAAhA/2XA44exzR8A/s400/disiplin.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5643211494491208626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;2. informatif&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-NReaOwhGX-s/TlC286QByRI/AAAAAAAAAg4/ELa85AJt7po/s1600/informatif.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-NReaOwhGX-s/TlC286QByRI/AAAAAAAAAg4/ELa85AJt7po/s400/informatif.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5643211490640120082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;3. jalur pedestrian yang nyaman&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-AhKEYL5xRbk/TlC284S15dI/AAAAAAAAAgw/gXeMDXJBcRU/s1600/jalur%2Bpedestrian.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 265px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-AhKEYL5xRbk/TlC284S15dI/AAAAAAAAAgw/gXeMDXJBcRU/s400/jalur%2Bpedestrian.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5643211490115053010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;4. jalur sepeda yang aman&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-VixFmYqYtzA/TlC28kahZlI/AAAAAAAAAgo/AHXE0-p0wx8/s1600/jalur%2Bsepeda.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 265px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-VixFmYqYtzA/TlC28kahZlI/AAAAAAAAAgo/AHXE0-p0wx8/s400/jalur%2Bsepeda.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5643211484778554962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;5. memberi alternatif transportasi bebas polusi&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-FjeJVB85UvI/TlC28gsF7_I/AAAAAAAAAgg/WHW_-k0KRes/s1600/mengurangi%2Bpolusi.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-FjeJVB85UvI/TlC28gsF7_I/AAAAAAAAAgg/WHW_-k0KRes/s400/mengurangi%2Bpolusi.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5643211483778510834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;6. modern&lt;/div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-leZDagFmdB0/TlC2a-pGbHI/AAAAAAAAAgY/Y2GvmYd8sM0/s1600/modern.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 265px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-leZDagFmdB0/TlC2a-pGbHI/AAAAAAAAAgY/Y2GvmYd8sM0/s400/modern.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5643210907703471218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;7. tersedianya mass rapid transportation yang nyaman&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-PnsUzxWsyU0/TlC2a8Dv9jI/AAAAAAAAAgQ/Lpvcr0jGisE/s1600/mrt.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-PnsUzxWsyU0/TlC2a8Dv9jI/AAAAAAAAAgQ/Lpvcr0jGisE/s400/mrt.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5643210907009938994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;8. ruang terbuka yang ramah pada warganya&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-zLPdkTp7f80/TlC2alaFqxI/AAAAAAAAAgI/CzG_Fjddtfc/s1600/ruang%2Bterbuka.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 265px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-zLPdkTp7f80/TlC2alaFqxI/AAAAAAAAAgI/CzG_Fjddtfc/s400/ruang%2Bterbuka.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5643210900929620754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;9. sungai kota yang bersih dan terawat&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-7b1wPsT-t2g/TlC2apPd4ZI/AAAAAAAAAgA/NWCnm-66Yug/s1600/sungai%2Bbersih.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-7b1wPsT-t2g/TlC2apPd4ZI/AAAAAAAAAgA/NWCnm-66Yug/s400/sungai%2Bbersih.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5643210901958812050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;10. tertib.&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-de3uTqyh6Ks/TlC2aU6-kPI/AAAAAAAAAf4/-LdhDJUTG-w/s1600/tertib.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 265px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-de3uTqyh6Ks/TlC2aU6-kPI/AAAAAAAAAf4/-LdhDJUTG-w/s400/tertib.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5643210896504164594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Foto-foto tadi diambil dalam berbagai perjalananku. Dalam perjalanan itu pula aku menyadari bahwa tiap kota (seharusnya) punya karakter sendiri termasuk Jakarta. Siapa bilang kita tidak butuh 10 hal di atas tadi. Tapi kubilang, Jakarta pun perlu punya karakternya sendiri. Tidak perlu menjadi semodern Sanghai atau penuh aturan seperti Singapore. Aku tidak ingin Jakarta menjadi seragam dengan kota-kota lain. Satu contoh terbaik, aku sangat suka pada karakter Bandara Soekarno-Hatta yang mewakili Indonesia dengan ornamen-ornamen etnik, karakter bangunan batu bata, dan juga taman-taman tropisnya. Dibandingkan dengan bandara Singapore, Bangkok, Frankfurt, atau Shanghai, yang didominasi warna metalik yang dingin dan membosankan. Seragam. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menurutku, Jakarta cuma perlu ramah pada penghuninya, mendengar keluh kesah dalam keseharian mereka dan memfasilitasi tiap warga dengan adil baik itu miskin atau kaya. Selain itu, aku percaya Jakarta punya ceritanya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-8041436958659975962?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/8041436958659975962/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=8041436958659975962' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/8041436958659975962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/8041436958659975962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2011/08/kapan-ya-jakarta.html' title='kapan ya, Jakarta?'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-nkoG60rthzQ/TlC29ImMu7I/AAAAAAAAAhA/2XA44exzR8A/s72-c/disiplin.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-7051178286254676274</id><published>2011-08-16T19:30:00.005+07:00</published><updated>2011-08-16T20:15:26.878+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sidney'/><title type='text'>unpredictable but fun</title><content type='html'>&lt;div&gt;Aku menguping pembicaraan seorang teman yang ditanya, menyenangkankah tinggal di Australia? Ia memang baru saja meninggalkan Jakarta untuk kuliah di Canberra. Dan jawabannya adalah, "Di sana membosankan sekali." Bukan, bukan karena Canberra kota kecil yang sangat sepi apalagi jika dibandingkan dengan Jakarta. Melainkan karena, "Semua di sana bisa diprediksi. Kita sudah tahu bisnya lewat mana, akan tiba di halte jam berapa, toko tutup jam berapa. Kita sudah bisa menebak apa yang akan terjadi," begitu katanya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku sendiri membuktikannya saat menginjakkan kaki di benua Kangguru itu. Walaupun deg-degan karena ini pengalaman pertama ke luar Asia (well, kita tahu kultur Asia) tapi toh semua lancar saja karena aku sudah (diberi) tahu bagaimana dari Sidney menuju Canberra dan semuanya tepat seperti petunjuk tanpa opsi lain. Semua teratur dan terprediksi.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-xXt56vUuMw8/Tkpmo5cbDDI/AAAAAAAAAfI/8OWeSGHzNZs/s1600/IMG_2327.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-xXt56vUuMw8/Tkpmo5cbDDI/AAAAAAAAAfI/8OWeSGHzNZs/s400/IMG_2327.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5641434336035802162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Memang beda dengan Jakarta atau kota-kota Indonesia lainnya. Damri bandara jurusan Blok M saja kadang nggak lewat Sudirman untuk menghindari macet. Tapi sungguh menyenangkan karena kita bisa menunggu bis di mana saja, tukang gorengan yang selalu ada kalau lapar di perjalanan, tukang sol sepatu, tukang jahit, tukang payung, dan berbagai service lainnya yang lewat di depan rumah. Adakah itu di Australia? Pastinya tidak. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dan kitapun ngga pernah tahu kapan bis akan lewat atau malah tidak lewat karena jalurnya berubah, nggak pernah tahu tempat mangkal tukang gorengan karena bisa saja dia tiba-tiba dikejar kamtib, juga tidak tahu apakah hari ini tukang sol sepatu, tukang jahit atau tukang payung lewat, kita bisa mengetuk toko yang mau tutup untuk membeli sesuatu sambil pasang tampang agak memelas, bisa juga menawar harga-harga di pasar. Semuanya jadi penuh kejutan dan petualangan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Well, selamat menikmati Jakarta!&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-7051178286254676274?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/7051178286254676274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=7051178286254676274' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/7051178286254676274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/7051178286254676274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2011/08/unpredictable-but-fun.html' title='unpredictable but fun'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-xXt56vUuMw8/Tkpmo5cbDDI/AAAAAAAAAfI/8OWeSGHzNZs/s72-c/IMG_2327.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-3591992402303123038</id><published>2009-08-11T12:51:00.004+07:00</published><updated>2009-08-11T14:10:10.986+07:00</updated><title type='text'>mengejar kereta</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Jarang-jarang naik KRL. Tapi kalau Jakarta-Depok memang sebaiknya naik KRL. Aku sih seneng-seneng aja karena di kereta - apalagi yang ekonomi, suka banyak orang jualan. Mulai dari iket rambut, tahu, mainan, buah yang sudah dipacking 5.000an dan lain-lain. Aku seneng-seneng aja. Mungkin karena jarang naik KRL dan seringnya melawan arus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;commuter&lt;/span&gt; jadi nggak pernah sampai desak-desakan banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, pagi-pagi aku sudah sampai Cikini. Di loket aku tanya kereta apa yang paling duluan berhubung sedang dikejar waktu. Kata petugasnya, kereta ekonomi. Ya sudahlah, naik ekonomi toh seru juga... Naiklah kita ke peron untuk menunggu kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenit... dua menit... lima menit... Mana, ni keretanya? Yang ada malah kereta api lewat lalu berhenti di ujung peron. Lho kok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata sedang ada masalah. Ternyata ada kereta yang mogok. Berhubung relnya jadi satu (KA dan KRL), jadi banyak kereta harus mengantre. Satu kereta lewat, dua, lalu tiga... Masih saja bukan KRL yang lewat... Duh, padahal lagi buru-buru...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KRL pertama yang lewat ternyata ekonomi AC Depok. Dipikir-pikir, dari pada ilang waktu mending naik aja. Nanti bayar denda di atas deh, karena toh nggak mungkin turun ke loket untuk beli tiket ekonomi AC. Yang ada, pas naik keretanya udah pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka naiklah ke KRL tu. Eh, di kereta nggak ada petugas tiket sampai tiba di stasiun Depok. Kejadian ada di petugas peron stasiun Depok. Dia tanya, kenapa tiketnya ekonomi padahal naiknya AC. Ya aku jelasin aja masalahnya karena bukan mauku juga menipu petugas. Kan di loket tiket tadi sudah minta kereta yang paling cepat. Bayar denda ngga papa sebetulnya, kan udah niat. Tapi, eh, slip denda abis... Nah loh! Akhirnya aku dikasih tiket seharga denda: Rp10.000,- sebagai ganti slip denda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm... Mungkin bukan masalah besar. Denda toh tinggal dibayar dan tidak berat. Tapi kepikiran aja, gimana penumpang mau tertib kalau pengelola KA &amp;amp; KRL sendiri masih nggak tertib. Aku cuma berandai-andai, coba ada informasi yang benar tentang jadual kereta, coba ada petugas tiket di atas kereta, coba ada slip denda untuk orang terdenda... Pasti perjalanan kereta jadi lebih asyik. Ayo, siapa hendak turut?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-3591992402303123038?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/3591992402303123038/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=3591992402303123038' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/3591992402303123038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/3591992402303123038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2009/08/mengejar-kereta.html' title='mengejar kereta'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-5915978772690649626</id><published>2009-08-03T00:41:00.003+07:00</published><updated>2011-03-22T22:00:43.226+07:00</updated><title type='text'>basa-basi untuk pejalan kaki</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; "&gt;Sebuah rutinitas baru mengantarku bolak-balik ke Dharmawangsa. Dengan Kopaja 614, aku biasa turun di halte Grand Wijaya. Bis akan berbelok ke kanan, kembali ke Jalan Fatmawati sementara aku berjalan kaki belok ke kiri menuju Dharmawangsa Square. Di sinilah trotoar berbasa-basi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Basa-basi aku bilang, karena dia menyapaku dengan rambu yang memberi arah bagi pejalan kaki. Tepatnya setelah berbelok ke jalan Dharmawangsa, trotoar tiba-tiba terpagari rantai besi. Ada celah selebar mungkin 40 senti di antara dua tiang warna kuning-hitam. Dua tiang itu dihubungkan dengan besi melintang dengan tinggi sekitar 10-20 senti dari atas tanah. Di sebelahnya terpancang rambu bertuliskan "Pintu Pejalan Kaki".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238); font-family: Georgia, serif; -webkit-text-decorations-in-effect: underline; "&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-hkOOU3Zu22Q/TYi5Te32zLI/AAAAAAAAATA/Lxffx_2G7pg/s320/DSC00148.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5586919082109095090" style="display: block; margin-top: 0px; margin-right: auto; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px; " /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238); font-family: Georgia, serif; -webkit-text-decorations-in-effect: underline; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Basa basi aku bilang, karena kemudian pejalan kaki diharapkan melewati celah itu. Artinya, kita harus melompati palang itu. Artinya, kita diharapkan punya dua kaki yang sehat dan kalau bisa jangan kegendutan kalau tidak ingin kesulitan menempuh 'pintu pejalan kaki' itu. Kalau tidak, kita harus berjalan di atas aspal dengan kendaraan kencang dari arah belakang karena pagar rantai kompleks ruko Dharmawangsa itu memagari sepanjang trotoar, hingga tepat berbatasan dengan aspal. Juga kalau kita hendak menyeberang ke gedung The City Walk di depannya, kita harus melompati rantai besi pagar trotoar itu. Pun kalau menunggu angkutan umum, siap-siap melompat pagar rantai kalau bis yang dinanti sudah tampak dari tikungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238); font-family: Georgia, serif; -webkit-text-decorations-in-effect: underline; "&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-p_iw52pFt3c/TYi5TPPu5KI/AAAAAAAAAS4/u3IMFMGrgqA/s320/DSC00150.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5586919077914272930" style="display: block; margin-top: 0px; margin-right: auto; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px; " /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238); font-family: Georgia, serif; -webkit-text-decorations-in-effect: underline; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Trotoar di Jalan Dharmawangsa itu seperti dimonopoli oleh kompleks rukonya. Pagar rantai yang membatasinya dengan jalan, membuat halaman ruko seolah lebih luas dan dimanfaatkan untuk menempatkan pot-pot besar tanaman dan memaksimalkan parkiran mobil di sana. Padahal area itu seharusnya menjadi jalur pedestrian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ingatan kembali di pertengahan tahun 1998, ketika aku dan teman-teman berkampanye 'aksesibilitas for all' di sepanjang Malioboro yang saat itu kami nilai tidak ramah buat pejalan kaki, khususnya bagi difabel, ibu hamil, orang tua, atau anak-anak. Ini kejadian lebih dari sepuluh tahun lalu di Jogja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kini di Dharmawangsa, di Jakarta? Hari geenee belum aksesibel? Please, deh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-5915978772690649626?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/5915978772690649626/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=5915978772690649626' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/5915978772690649626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/5915978772690649626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2009/08/basa-basi-untuk-pejalan-kaki.html' title='basa-basi untuk pejalan kaki'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-hkOOU3Zu22Q/TYi5Te32zLI/AAAAAAAAATA/Lxffx_2G7pg/s72-c/DSC00148.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-7180855555645823892</id><published>2009-06-23T22:31:00.002+07:00</published><updated>2009-06-23T22:43:30.992+07:00</updated><title type='text'>susah-susah Sampah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bibi di rumah mengeluh. Katanya, buang sampah aja kok susah. Tadinya kita membuang sampah di TPS pasar yang setiap hari diambil oleh dinas kebersihan. Belakangan, TPS pasar dijaga satpam 24 jam. Katanya, yang membuang sampah di situ mesti bayar Rp1.000/hari atau Rp20.000/bulan. Tapi ternyata tidak selesai dengan uang karena tetap saja kami tidak boleh buang sampah di sana. Kata satpam lagi, TPS itu bukan untuk RT kami...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RT kami? Dulunya ada Bapak yang rutin mengutip sampah se-RT. Sebagai gantinya, kami patungan uang kebersihan untuk si Bapak yang diberikan melalui RT. Tapi belakangan si Bapak sakit, dan sampai hari ini belum ada penggantinya. Sementara, sampah terus diproduksi. Setiap hari. Setiap rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah tidak saja bagaimana mengelola sampah sendiri, tapi juga sampah orang. Lagi-lagi, ini keluhan si Bibi. Katanya, sering orang buang sampah di boks semen depan rumah. Memang sih, boks itu dibikin untuk tempat sampah. Tapi sejak Pak Sampah tidak datang, lebih baik sampah tidak dibuang di sana karena toh tidak ada lagi yang mengutipnya. Lalu tempat sampah ditutup dengan papan. Sialnya, papan sempat hilang dan beberapa kali Bibi memergoki orang bermotor yang melemparkan kantong sampahnya ke sana. Itu artinya, Bibi kebagian tugas mengelola lebih banyak sampah, sampah orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sampah kering dibakar di halaman rumah. Botol-botol plastik dipisahkan karena bisa dijual. Sisanya, Bibi terpaksa melemparkan sampah ke lahan kosong berpagar seng tak jauh dari rumah. Aku pernah ke sana dan sedih melihat tempat itu ternyata jadi bukit sampah. Lebih sedih lagi melihat got di ujung jalan yang sekarang penuh sampah. Rupanya, orang membuang sampah di got yang tidak sepenuhnya tertutup itu. Pagi dan sore, air got meluap ke jalan karena tidak bisa lagi mengalir. Sungguh, pemandangan yang tidak menyenangkan. Belum lagi tumpukan sampah di sebelah halte. Juga di belakang halte seberangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat pesan aktivis lingkungan untuk membuang sampah pada tempatnya. Tapi di mana tempatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini Jakarta. Di mana orang punya sejuta cara membuang sampahnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-7180855555645823892?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/7180855555645823892/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=7180855555645823892' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/7180855555645823892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/7180855555645823892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2009/06/susah-susah-sampah.html' title='susah-susah Sampah'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-5915110203160686097</id><published>2008-09-09T13:41:00.007+07:00</published><updated>2008-09-10T10:32:26.208+07:00</updated><title type='text'>ini bukan Jakarta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_NSrjW6G6BgM/SMYdo83qYKI/AAAAAAAAACU/hQw3LtF0uSQ/s1600-h/alamku.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_NSrjW6G6BgM/SMYdo83qYKI/AAAAAAAAACU/hQw3LtF0uSQ/s400/alamku.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243911405491085474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Judul: Alamku Tak Seramah Dulu&lt;br /&gt;Penulis: Dodi Rokhdian, dkk.&lt;br /&gt;Ilustrator: Oceu Apristawijaya&lt;br /&gt;Editor: Aditya Dipta Anindita&lt;br /&gt;Penerbit: Yayasan Obor Indonesia, Juni 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan kisah tentang Jakarta: ada Penguwar yang sedang mengendap-endap hendak menombak seekor rusa di tengah kelebatan hutan basah Sumatra, Sipar yang menikmati sejuknya mata air di lereng Merapi, atau Sukenti kecil yang riang menjelajahi kekayaan alam desanya di Deli Serdang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, Haposan yang tinggal di Sumbul, Sumatra Utara pun punya mata air jernih tempat ia dulu biasa mandi sambil bermain air dengan riang gembira. Seharusnya juga, Qodir yang tinggal di sebuah desa di Jawa Barat tak perlu menghabiskan harinya di liang gelap untuk mencari emas sementara sungai-sungai di desanya mulai tercemar merkuri limbah pemrosesan emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini bercerita tentang perubahan. Bermula dari satu demi satu pohon yang tumbang dan rusa yang mati di hutan Penguwar, lalu satu demi satu sungai yang tak lagi bisa direnangi oleh Sipar, Haposan, Qodir dan Sukenti. Dongeng-dongeng bijak para tetua yang tergantikan oleh cerita televisi, adat tak lagi bisa mengelola kehidupan ketika manusia mulai bergerak dalam naluri dan logika pasar, dan kita kadang tak membayangkan pilihan selain mengikuti saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan mengenai globalisasi selama ini lebih banyak terjadi di ruang-ruang akademis sambil beradu kehebatan teori, mulai dari modernisme sampai cultural studies, mulai dari Herbert Marcuse sampai Stuart Hall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguwar, Sipar, Haposan, Qodir dan Sukenti - lima tokoh belia dalam buku ini - mungkin tidak terkenal seperti Stuart Hall dan tak pernah membaca teori tentang globalisasi. Tapi mereka merasakan benar bagaimana alam tempat hidupnya perlahan mulai  berubah dan hidup menjadi lebih sulit ketika hutan dan desa mereka telah terlibat dalam jaringan besar koneksitas: globalisasi. Maka, alamku tak seramah dulu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ini bukan Jakarta. Tapi sangat layak dan perlu dibaca!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-5915110203160686097?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/5915110203160686097/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=5915110203160686097' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/5915110203160686097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/5915110203160686097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2008/09/ini-bukan-jakarta.html' title='ini bukan Jakarta'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_NSrjW6G6BgM/SMYdo83qYKI/AAAAAAAAACU/hQw3LtF0uSQ/s72-c/alamku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-7177954673314141968</id><published>2008-06-18T07:27:00.003+07:00</published><updated>2008-06-18T07:45:24.268+07:00</updated><title type='text'>busway is not my way!</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/SFhZm8WcmtI/AAAAAAAAABg/NQSjXQTaGqU/s1600-h/jembatan+busway.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5213015094251526866" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/SFhZm8WcmtI/AAAAAAAAABg/NQSjXQTaGqU/s400/jembatan+busway.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sudah lama nggak ke Salemba, sekitar satu setengah tahun sejak aku lulus kuliah S2 di UI. Sekarang, udah ada jalur bis Transjakarta melewati kampus. Bahkan haltenya tepat di depan kampus. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebut saja busway dan aku berniat mencobanya. Jam 12.10 pm, selesai sedikit urusan di kampus UI Salemba. Masih ada 50 menit untuk mengejar jam buka kolam renang di Pasar Festival. Kalau masuk jam satu siang, tiketnya hanya Rp 1.600. Makanya dibela-belain. Dan ini kesenangan baruku di Jakarta yang menyehatkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Aku masih punya 50 menit. Kupikir cukuplah. Busway kan punya jalur sendiri. Harusnya lancar.&lt;br /&gt;Ternyata aku salah duga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dari Salemba ke Kuningan harus tiga kali naik busway. Pertama rute Salemba – Matraman, disambung Matraman – Dukuh Atas dan terakhir baru Dukuh Atas – Kuningan. Halte pertama masih oke. Lima menit menunggu rasanya sangat wajar. Di halte Matraman depan Gramedia, aku turun lalu naik ke jembatan untuk ke halte transit. Walah ya ampun, di pintu Dukuh Atas orang yang antre sudah berjubel. Ada 50an orang. Belum lagi di pintu satunya. Mulailah menit-menit menunggu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Busway ke-lima, baru aku bisa naik setelah setengah jam menunggu. Jelaslah nggak dapet tempat duduk. 13.08 sampai di halt Dukuh Atas, lalu harus menunggu lagi busway jurusan Ragunan yang lewat Kuningan. Lima menit... sepuluh menit... lima belas menit... Aku udah mulai menyesal. Kebayang kalau tadi naik bemo dari RSCM ke Manggarai, trus nyambung naik Kopaja 66, mungkin aku udah sampe. Toh, lalu lintas jam satu siang nggak terlalu macet. Paling banyak ongkosnya beda dua ribu lebih mahal dibanding busway dan aku mungkin sudah berada di tengah kolam renang Pasar Festival sekarang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tapi aku masih di halte Dukuh Atas berdesakan dengan banyak orang. Di punggung, terasa keringatku menitik. Kaki pegel karena lebih dari satu jam berdiri. Baru di menit ke-duapuluh busway-nya dateng. Antreanku bukan di paling depan. Tapi apa boleh buat, harus maksa naik dari pada nunggu lebih lama. Lagi pula, harga kolam renang 1.600 cuma sampai jam tiga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;13.35 akhirnya sampai di Pasar Festival. Satu jam dua puluh menit, Salemba – Kuningan ternyata perjalanan panjang yang harus dibayar dengan keringat, kaki pegal dan perut keroncongan. Nggak mungkin berenang kalau belum makan, sementara waktu berenang murah hampir habis. Satu jam di berenang pasti nggak puas. Kepalang tanggung juga kalau pulang. Akhirnya aku menunggu masuk jam empat untuk harga tiket Rp 10.100, sambil makan dan mengetik ini. Sambil merutuk-rutuk. Gimana enggak, tadi naik busway beralasan lebih murah dari pada naik dua kali angkutan. Ya iya, lebih murah. Tapi jadinya renangku yang harus bayar lebih mahal!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Efektifkah busway? Efisienkah?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Busway-nya emang nggak macet. Tapi haltenya jauh lebih macet. Besok-besok pasti pikir dua kali naik busway model begini. Amannya ya yang satu trip, misalnya Blok M – Kota. Kalau untuk yang transit-transit, sorry deh, kecuali aku punya banyak waktu dan kerelaan untuk menunggu. Aku membuktikan, busway is not my way...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-7177954673314141968?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/7177954673314141968/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=7177954673314141968' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/7177954673314141968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/7177954673314141968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2008/06/busway-is-not-my-way.html' title='busway is not my way!'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/SFhZm8WcmtI/AAAAAAAAABg/NQSjXQTaGqU/s72-c/jembatan+busway.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-3599192890210851199</id><published>2008-05-29T04:51:00.001+07:00</published><updated>2008-05-29T04:53:29.589+07:00</updated><title type='text'>Jakarta Kelabu</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sudirman 17:54. Empat perempuan duduk di halte dengan aksi yang sama: menutup hidung dengan tisu atau sapu tangan.  Udara abu-abu memang tak nyaman untuk bernafas. Apalagi dengan jarak kendaraan yang rapat dan tak kunjung berlalu. Sore ini kelabu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Sama kelabu dengan wajah-wajah letih sepulang kerja. Sama kelabu ketika menyadari kenyataan bahwa ongkos bis kota naik, dan ada di antaranya naik dengan semena-mena. Aku masih maklum kalau ongkos Kopaja dan Metromini naik dari Rp 2.000 jadi Rp 2.500. Baiklah. Bukan aku mendukung kenaikan harga BBM, tapi menyadari konsekuensi bahwa kehidupan keluarga kernet bis makin sulit setelah naiknya BBM membuatku rela saja membayar kenaikan ongkos bis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada yang menurutku semena-mena: Bis Bianglala 44 Cileduk-Senen. Ini ruteku pada suatu pagi. Dan aku harus cemberut ketika membaca pengumuman tarif baru yang ditempel di dalam bis. Ongkos yang semula Rp 5.000 kini naik jadi Rp 7.000. Artinya kenaikannya Rp 2.000. Artinya mereka menaikkan ongkos 40%. Serombongan ibu yang berdiri di belakangku terdengar mengomel. Katanya, BBM saja naik tidak sampai 15%, kenapa ongkos bis naik semahal itu. Tapi kernet tidak peduli sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku turun di Ratu Plasa, melanjutkan perjalanan dengan Patas AC Mayasari 05 Blok M – Bekasi. Yang ini naiknya masih wajar, dari Rp 5.500 jadi Rp 6.500. Padahal bis ini lewat tol. Jadi emang keterlaluan Patas AC 44 itu! Aku lebih terkejut lagi sewaktu perjalanan pulang dengan Patas AC Mayasari 35 Senen-Cileduk, aku membayar Rp 1.000 lebih murah dari pada Bianglala 44 padahal rutenya hampir sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta makin kelabu dengan tampang-tampang cemberut di bis kota karena kenaikan ongkos. Mau tidak mau harus berpikir ekonomis. Turun di pintu tol Jati Bening, aku disambut teriakan para tukang ojek yang rupanya sudah mengenaliku, “Kranji, Kraji!” Kujawab saja, “Enggak, Bang, Kali Malang situ!” Tukang ojek ganti yang kelabu... “Habis gimana lagi, BBM naik, ojek pasti naik. Rute rumah-kantor bisa-bisa sampe Rp 40.000 kalau aku sambung pake ojek sampe kantor. Ya sudah, Kali Malang saja lalu sambung pakai Mikrolet yang juga naik ongkosnya... Hiks...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-3599192890210851199?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/3599192890210851199/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=3599192890210851199' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/3599192890210851199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/3599192890210851199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2008/05/jakarta-kelabu.html' title='Jakarta Kelabu'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-689639621206842527</id><published>2008-05-20T12:43:00.004+07:00</published><updated>2008-05-20T13:11:36.069+07:00</updated><title type='text'>work hard play hard</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Sabtu sore di foodcourt pasar festival:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;“Mbak, suka clubbing nggak?” “Emang kenapa?” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;“Mbak bisa jadi member, nanti clubbingnya gratis seumur hidup. Cuma bayar seratus ribu.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;“Oh, saya udah punya member kok...” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Maksudku tentu saja SOKOLA – Alternative Education Club, lembaga tempatku bekerja. Tapi tentu saja tidak kusebut pada si mbak yang menawarkan clubbing, takut dia minder. Hehehe... &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/SDJq7XkodTI/AAAAAAAAABY/rw5lGJbFgBs/s1600-h/PICT8271.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202338087738832178" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/SDJq7XkodTI/AAAAAAAAABY/rw5lGJbFgBs/s400/PICT8271.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;div&gt;Kalau memang asalnya dari kata club, maka demikianlah aku ingin menyebut pekerjaanku. Clubbing. Karena kami memang menyebut diri klub, kumpulan orang sehobi dan sekesenangan. Dan berlangsunglah istilah ‘work hard play hard’ di kami tanpa harus memisahkan waktu kerja dengan waktu bersenang-senang. Di sini, keduanya bisa dilakukan bersama karena kami senang melakukan kerja ini dan kami bekerja karena memang ini cara bersenang-senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak bersenang-senang, di saat sebagian orang Jakarta bangun dini hari supaya bisa mengejar jam kantornya, kami bisa bangun saat merasa tidurnya sudah cukup bahkan kadang tidak perlu mandi dan berdandan untuk mulai memberi pelajaran pada murid-murid. Pun saat di Jakarta, aku punya kuasa untuk mengatur waktu tidurku, waktu bekerjaku, dan waktu ngantorku yang seminggu sekali. Tidak harus menunggu weekend untuk bisa berenang atau nonton bareng. Namanya juga alternatif, namanya juga clubbing... Jadi nggak perlu lagi clubbing di tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, pekerjaan ini sudah seharusnya disyukuri. Aku memikirkan ini saat melihat sepasang (sepertinya) suami istri berboncengan motor melewati Kali Malang, Bekasi, dengan tas kerja masing-masing dan raut wajah lelah. Waktu sudah mendekati pukul 18.00, jalan macet dan penuh asap kendaraan bermotor membuatku tergelitik untuk bertanya: “Jam berapa mereka harus bangun tiap pagi supaya tidak terlambat datang ke kantornya di Jakarta? Jam berapa mereka sampai rumah lagi, dan seberapa banyak sisa tenaga mereka untuk mengerjakan hal lain? Apakah mereka punya cukup waktu beristirahat tiap hari? Apakah mereka menikmati pekerjaannya?Apakah mereka bisa menikmati waktu luangnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu juga menggelitik ketika aku melihat setengah penumpang bis patas AC dari Ciledug tampak tertidur pada sebuah pukul tujuh pagi. Butuh setidaknya satu setengah jam dari terminal Ciledug untuk mencapai jalan utama Sudirman-Thamrin dalam pagi yang macet seperti itu. Bangun kepagian untuk mengejar jam kantor, lalu dibayar dengan tidur sepanjang perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini Jakarta, di mana setiap orang bekerja keras. Ada yang bekerja untuk bertahan hidup, dan sebagian lainnya bekerja untuk bertahan gaya hidup, termasuk clubbing itu tadi... &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-689639621206842527?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/689639621206842527/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=689639621206842527' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/689639621206842527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/689639621206842527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2008/05/work-hard-play-hard.html' title='work hard play hard'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/SDJq7XkodTI/AAAAAAAAABY/rw5lGJbFgBs/s72-c/PICT8271.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-5039783384778324010</id><published>2008-04-09T00:57:00.002+07:00</published><updated>2008-04-14T23:56:17.150+07:00</updated><title type='text'>Hari Hujan di Makekal</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/SAOMeG6Nh1I/AAAAAAAAABQ/gIPYhbBZpxQ/s1600-h/inditdimakekal.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5189145644539676498" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/SAOMeG6Nh1I/AAAAAAAAABQ/gIPYhbBZpxQ/s400/inditdimakekal.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hari hujan,&lt;br /&gt;nggak ada ojek,&lt;br /&gt;jalan becek,&lt;br /&gt;muka lecek…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh-sungguh terjadi padaku siang itu, dalam perjalanan menuju lokasi Sokola Rimba di tepi Sako Napu, Hutan Makekal, Jambi. Nasib tidak mengijinkan kami menempuh jalan merah berlumpur saat hujan turun karena saat itulah orang kaya si pemilik jalan menutup gerbang di ujung satu-satunya jalan yang menghubungkan desa SPG, Bungo Tanjung ke hutan Makekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya bukan satu-satunya. Ada jalan lama, orang kaya itu pula yang punya. Setelah dia membuat jalan baru dengan dua buldosernya menebas rimbunan hutan, jalan lama memang tak lagi ia gerbangi, tapi semua titian kayu yang melintasi sungai-sungai kecil di sepanjang jalan telah diputusnya. Tak ada lagi yang bisa melintas. Mau tak mau harus lewat jalan baru, itupun selalu ditutup saat dan setelah hujan dengan alasan tanah merah yang liat karena hujan akan cepat rusak kalau dilewati kendaraan bermotor. Yang tetap melintas, demikian tertulis di papan dekat gerbannya, akan didenda. Seratus ribu untuk motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudah, berjalan kakilah kami siang itu di bawah titikan hujan. Dalam basah aku mengumpat, “Sialan, jalan tol di Jakarta aja lebih murah!” Tapi percayalah, ini tidak mengurangi kenikmatan berjalan kaki sepanjang 17 kilometer yang tak mungkin aku lakukan di Jakarta. Hujan justru mendinginkan tanah, menyejukkan udara dan mengurangi peluhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berjalan dan sekali-sekali terperosok lumpur tanah merah, aku membayangkan perjalanan Orang Rimba keluar atau masuk hutan. Dulu, sebelum jalan ini dibuat, perjalanan tak semudah ini karena harus menerobos rimbunan hutan hujan: semak, duri, pacet, dan pasti lebih dari yang bisa kubayangkan. Lalu ketika kelebatan hutan berubah jadi kebun-kebun karet, si orang kaya membuat jalan demi memudahkan angkutan penjualan karetnya dan wilayah hidup Orang Rimba semakin mudah diakses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan menghubungkan Orang Rimba pada dunia terang, dunia yang mendapat lebih banyak asupan sinar matahari karena ketiadaan pepohonan seperti di rimba. Pantesan Jakarta panas minta ampun karena sedikit sekali pepohonan hijau. Di jalan merah yang membelah rimbunan hutan karet ini saja, panas minta ampun rasanya saat berjalan kaki di tengah hari yang terik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membayangkan Jakarta, yang panas, terik, macet dan berasap yang terus membuatku mual dan terbatuk-batuk. Bagaimanapun, hujan ini, sekalipun becek dan nggak ada ojek, harus disyukuri. Ini saatnya merehabilitasi paru-paru yang terkontaminasi polusi Jakarta. Maka aku tidak berharap ojek di sini, apalagi metromini atau busway!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-5039783384778324010?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/5039783384778324010/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=5039783384778324010' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/5039783384778324010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/5039783384778324010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2008/04/hari-hujan-di-makekal.html' title='Hari Hujan di Makekal'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/SAOMeG6Nh1I/AAAAAAAAABQ/gIPYhbBZpxQ/s72-c/inditdimakekal.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-1167327214440627881</id><published>2008-02-18T23:31:00.009+07:00</published><updated>2009-06-18T23:56:03.259+07:00</updated><title type='text'>Why Bangkok?</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/R7uXG9XvG7I/AAAAAAAAAAU/rf1zb9b7W4g/s1600-h/chatuchak+subway.JPG"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168891143146904498" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/R7uXG9XvG7I/AAAAAAAAAAU/rf1zb9b7W4g/s320/chatuchak+subway.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;“Sa wat dii kha …” &lt;/em&gt;begitulah kota ini menyapaku. Tak hanya oleh petugas bandara, resepsionis penginapan atau pedagang souvenir di sepanjang Khaosan Road. Melalui berbagai tanda (sign) dan papan informasi, kota ini seakan menyapaku, memudahkan perjalanan pertamaku mengenalinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;This is ‘a Bangkok birthday trip’ dan aku melakukannya sendirian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tebaran tanda dan informasi ini didukung dengan jaringan transportasi yang baik dan nyaman sehingga aku seperti tak dibiarkan kebingungan di dalamnya. Ini bagian yang menyenangkan dari perjalanan, menjadi pejalan di kota asing. Sok keren aja: sepatu sendal teva, daypack, kamera dan peta. Bahkan aku sama sekali tidak ingat untuk membuka Lonely Planet saking mudahnya berjalan di sini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Aku mencoba hampir semua angkutan umum: ojek, boat, tuk-tuk (seperti bajai), taksi, subway dan sky train. Yang belum adalah kereta disel dan bis kota karena rutenya ditulis hanya dengan huruf Thai. Mungkin angkutan ini tidak diperuntukkan bagi pendatang. Sementara tanda-tanda dan informasi di sarana transportasi lainnya ditulis dalam huruf latin dan Thai dengan sangat komunikatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu naik boat lalu nyambung dengan sky train, aku sempet kepikir, mungkin jaringan transportasi seperti ini yang pengen dibangun ama Sutiyoso lewat waterway dan busway. Sungai Chao Phraya adalah bagian penting dari jaringan transportasi kota Bangkok. Ada beberapa jenis boat (dibedakan dengan bendera) yang berhenti di dermaga-dermaga bernomer urut. Dermaga paling ujung menyambung dengan jalur sky train. Ini jalur anti macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Perjalanan dengan public boat menyenangkan karena kita bisa liat berbagai landmark kota di kanan kiri sungai di sepanjang perjalanan. Tapi, kebayang nggak kalau angkutan jenis ini dicobakan di Jakarta. Kira-kira pemandangan apa yang kita bakal dapatkan di sepanjang perjalanan? Bedanya adalah pada cara memperlakukan sungai. Mereka menjaga benar Chao Phraya bahkan ikan-ikannya pun dilarang untuk ditangkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi hal penting yang dipunyai Bangkok adalah ruang terbuka. Sebuah sore, ketika aku terlalu lelah untuk meneruskan perjalanan, aku menikmati duduk di deretan panjang bangku sambil mengamati air mancur cantik di sebuah plaza terbuka di antara stasiun sky train dan sebuah sentra belanja. Di tempat lain, ada bangku-bangku taman kota yang selalu dipenuhi burung-burung merpati, taman di tepi danau yang menjadi tempat istirahat saat kelelahan belanja di Chatuchak (pasar terbesar di Asia Tenggara yang buka cuma pas weekend) atau menyengaja jogging dan senam di Lumphini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku inget Jakarta. Dulu, gedung Danamon di perempatan Karet yang sekarang dibeli oleh Sampoerna punya plaza dengan bangku-bangku yang selalu ramai terutama saat jam pulang kantor. Terkadang, tak sekadar menunggu bis di sana, tetapi juga sejenak melepas penat atau menjadi titik pertemuan dengan teman. Tapi plaza itu tidak lama, seiring berganti-gantinya kepemilikan gedung itu. Dan sekarang, mungkin kita tidak bisa lagi berharap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita berani capek-capek promosi Visit Indonesia 2008, mestinya jangan biarkan tamu-tamu kita (atau bahkan orang kita sendiri) kebingungan mencari tahu rute bis kota atau kenapa justru penjual teh botol di pinggir jalan lah yang menyediakan bangku-bangku pelepas lelah dalam perjalanan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Khawp khun kha…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-1167327214440627881?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/1167327214440627881/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=1167327214440627881' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/1167327214440627881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/1167327214440627881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2008/02/why-bangkok.html' title='Why Bangkok?'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/R7uXG9XvG7I/AAAAAAAAAAU/rf1zb9b7W4g/s72-c/chatuchak+subway.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-7296326815262330239</id><published>2008-02-18T23:26:00.004+07:00</published><updated>2008-03-22T20:09:53.813+07:00</updated><title type='text'>Lebak Bulus Undercover</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebuah sore di Stadion Lebak Bulus dalam pertandingan Persija melawan Persib. Ini pertandingan bola live pertamaku. Aku bukan penggemar dan sejujurnya tidak tahu apa-apa tentang sepak bola. Tetapi aku bersama seorang teman yang bercerita tentang ketakjubannya menonton pertandingan pertamanya dalam kenangan gandengan tangan ayahnya saat ia duduk di kelas satu SD dan sejak itu pula ia tidak pernah melewatkan pertandingan yang melibatkan tim kotanya, Bandung. Sepak bola dan Persib menjadi bagian dari kesehariannya di gang yang kemudian melahirkan kelompok suporter dengan anggota lebih dari 20.000 orang: &lt;em&gt;Viking&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, Lebak Bulus sama sekali bukan tempat yang aman untuk suporter berseragam selain oranye. Setidaknya untuk sore itu. Tiga kali terjadi tepat di belakangku orang berkelahi. Satu kalimat yang aku ingat dalam perkelahian itu adalah, “Periksa KTP-nya!” Kalau ketahuan orang Bandung, dijamin nggak selamet keluar dari stadion. Ini yang bikin aku ciut selama pertandingan dan nggak berhenti membisikkan doa, sekalipun kami dalam penyamaran kostum oranye di tribun VIP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stadion bergemuruh. Lagu-lagu dukungan tim oranye menggema selain makian terhadap tim lawan. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan temanku dalam penyamarannya. Ia harus ekstra hati-hati: tidak boleh kelepasan bicara dengan logat Sundanya atau spontan mengaktualisasikan dukungannya pada Persib. Mungkin ia merasa bersalah harus memakai kaos oranye sore itu. Sementara tak jauh di sebelah kiri kami seorang suporter perempuan memakai kaos yang bertuliskan makian terhadap suporter Persib. Di depan kami, seorang laki-laki mengikatkan kaos biru di sepatunya sehingga selalu terinjak setiap ia melangkah. Sore itu, kiper lawan terkena lemparan batu dan bis berpelat D yang mengangkut timnya rusak berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ini bukan tentang Persija melawan Persib karena dalam nyanyian mereka jelas-jelas tersebut makian kepada The Jak atau Viking. Barangkali ini bukan lagi memaknai suatu pertandingan karena bahkan di lain hari ketika Persija melawan yang lain, tetap saja nyanyian makiannya ditujukan untuk Viking. Demikian juga sebaliknya, ketika Persib melawan Slemania di Jogja, ritual para suporter dimulai dengan membakar bendera oranye. Barangkali ini bukan tentang sepak bola karena dalam perjalanan wisata di Jogja, seorang beratribut Persib ‘disapa’ oleh anggota The Jak dan dipaksa melepas atribut birunya. Barangkali ini tentang Jakarta dan Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang pasti, The Jak maupun Viking telah memberi identitas kepada orang-orang muda yang selama ini tidak mendapat tempat di ruang formal karena dianggap bandel. Dan stadion, adalah arena aktualisasi diri. I love the game!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-7296326815262330239?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/7296326815262330239/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=7296326815262330239' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/7296326815262330239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/7296326815262330239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2008/02/lebak-bulus-undercover.html' title='Lebak Bulus Undercover'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-113512835397416723</id><published>2005-12-21T08:19:00.002+07:00</published><updated>2008-03-22T20:11:16.494+07:00</updated><title type='text'>trotoar musim hujan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Musim hujan di Jakarta selalu punya cerita, seperti sore itu di jalan depan mall Ambasador/ITC Kuningan yang berseberangan dengan kawasan Mega Kuningan. Di tengah-tengah badan jalan, ada saluran air (sungai ungu)* dan boulevard bertanah merah. Tanah merah inilah yang sering jadi masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering ke kawasan itu. Sering pula melewati tanah basah sisa siraman hujan di sana dan harus kuakui, pengalaman itu cukup menyulitkan. Tanah merah itu menjadi sangat liat setelah basah disiram air hujan. Saat terinjak, tanah akan menggumpal dan terbawa di bagian bawah sepatu kita. Kalau sudah begitu, hati-hati melangkah. Bukan saja telapak kaki jadi terasa berat, tetapi basah di tahan merah itu juga sangat licin saat kaki menapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah ketemu seorang perempuan yang tampak ragu melewati titian besi untuk menyeberangi sungai ungu menuju Mal Ambasador. Waktu itu, aku berada di sisi seberangnya. Setengah ia berjalan meniti besi, aku mengulurkan tangan memberi bantuan. Ia berterima kasih lalu mengadu, bahwa ia begitu ketakutan melangkah karena baru saja terpeleset. Sewaktu ia sudah lewat, aku meniti besi itu pelan-pelan. Nggak lucu kan kalau setelah nolong orang, aku sendiri yang kepleset! Hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di seberang jalan, tapak sepatu kedsku sudah penuh lumpur. Tidak terlalu menyulitkan saat melintas di jalan aspal, tetapi tidak saat aku berjalan di atas trotoar yang berlantai keramik. Aku menjadi mengerti mengapa mbak tadi begitu ketakutan melangkah. Semakin mengerti lagi ketika seorang pemuda terpeleset tepat di depanku. Untung ia segera berpegangan pada sebatang pohon. Lumpur di tapak sepatu dan genangan air di trotoar keramik adalah dua hal berbahaya. Kini keduanya harus dihadapi bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi menghindari kecelakaan, aku mencoba membersihkan tapak sepatu. Pertama-tama aku mencari sudut semen untuk mengerik lumpur di tapak sepatu. Setelah itu aku memanfaatkan air yang menggenang di trotoar untuk mencuci tapak sepatu. Sedikit berkecipak. Hasilnya memang lumayan, tapi tidak seratus persen nyaman berjalan di trotoar basah itu. Akhirnya, aku memilih berjalan di atas rumput di sisi trotoar, di depan air mancur dan tugu bertuliskan Mega Kuningan. Rumput itu seperti keset. Tanahnya tidak lagi liat dan licin setelah ditutup rumput dan aku tidak takut lagi terpeleset. Selain itu, saat berjalan di atasnya aku bisa sekalian membersihkan sisa tanah di tapak sepatuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, lantai keramik bukan gunanya untuk melapisi trotoar apalagi di tempat yang sering mendapat siraman hujan. Keramik tidak mempunyai pori-pori untuk meresapkan air. Akibatnya, air hujan menggenang. Tapak sepatu yang dilekati lumpur menjadi dua kali lebih beresiko terpeleset di atas trotoar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga pernah membaca di koran beberapa waktu lalu, jika trotoar terbuat dari bahan yang tidak meresapkan air maka semakin kecil daerah resapan air. Akibatnya air hujan yang tidak tertampung di selokan akan mengalir ke badan jalan yang lebih rendah. Ya udah, banjir deh namanya. Lalu macet. Katanya, konblok adalah bahan yang cukup baik. Tapi rumput juga menyenangkan menurutku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Baca “Sungai Ungu Jakarta” di bagian sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-113512835397416723?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/113512835397416723/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=113512835397416723' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/113512835397416723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/113512835397416723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2005/12/trotoar-musim-hujan.html' title='trotoar musim hujan'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-113343040909997349</id><published>2005-12-01T16:40:00.002+07:00</published><updated>2008-03-22T20:16:48.158+07:00</updated><title type='text'>siasat botol air</title><content type='html'>&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0in"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kemarin aku kehilangan botol air: wadah transparan, warna biru, merek nalgene. Sepertinya ketinggalan di kantin belakang kampus. Anehnya, hari itu aku beberapa kali menimang dan merasa bahwa aku melakukan sesuatu yang tepat dengan membeli botol itu dan membawa air dari rumah setiap hari.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0in"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ada banyak alasan untuk membawa air sendiri. Yang pertama jelas penghematan. Setidaknya aku bisa menyimpan dua ribu rupiah setiap hari, itu pun hanya untuk sebotol aqua atau teh botol sekali minum. Lebih dari itu, aku bisa minum setiap saat aku haus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0in"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Lalu aku baru denger ada cerita tentang aqua isi ulang. Ini cerita dari Ige, temen di kampus. Dia cerita kalau sodaranya ngeliat ada orang yang lagi ngisiin gelas-gelas aqua di kamar mandi terminal! Oops! Udahnya air ledeng, di kamar mandi terminal lagi! Yang aku bayangin, kamar mandi itu bukan tempat yang menyenangkan sama sekali. Aqua-aqua itu lalu ditutup lagi dengan plastik segelnya, dilem, lalu dijual seperti biasa, tanpa rasa bersalah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0in"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Masih berpikir untuk beli aqua sembarangan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0in"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Anyway, ini Jakarta. Ada banyak artificial di sana. Tak hanya sikap, basa-basi, atau gaya hidup. Tapi juga pewarna pada lontong, terasi, sampai kerang laut. Formalin pada tahu, bakso, ikan asin, bahkan ikan laut segar. Juga campuran – entah apa namanya – untuk ketupat, bubur ayam, sampai daun singkong di warung padang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0in"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mungkin karena orang lebih mementingkan bungkus dari pada isinya. Kalau baca artikelnya Samuel Mulia, orang bisa bersiasat segala macem untuk bisa pake tas Louis Vitton. Di bagian lain Jakarta, orang menyiasati penampilan makanan dengan pewarna atau campuran kimia lainnya. Masih pengen beli makanan di jalan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0in"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Udah deh, mending bawa botol air kemana-mana. Kalau perlu sama paket makan siang nasi dari rumah… Irit dan lebih aman. Hehehe…&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-113343040909997349?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/113343040909997349/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=113343040909997349' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/113343040909997349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/113343040909997349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2005/12/siasat-botol-air.html' title='siasat botol air'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-112659382952526631</id><published>2005-09-13T13:40:00.001+07:00</published><updated>2008-03-22T20:21:24.110+07:00</updated><title type='text'>lintas melawai</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Aku suka sekali baju berbahan linen. Pada awal masa kuliahku, di akhir 90-an, sama sekali tidak mudah menemukan baju linen di pasaran. Sekalinya ketemu, aku pasti bisa bela-belain membelinya. Kadang aku pun bela-belain mengusahakannya sendiri dengan beli kain dan pergi ke penjahit. Aku tidak menunggu pasar menyediakan gayaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pokoknya mah, linen itu aku banget…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tapi belakangan aku keteteran juga ketika toko-toko sudah menjual apa saja. Semua gaya ada, termasuk linen favoritku. Awalnya senang-senang aja ketika dengan mudah menemukan sesuatu yang bisa bikin aku mengguman gue banget. Tapi lama-kelamaan, aku jadi kehilangan sensasi being different. Apalagi ketika baju-baju berbahan looks-like-linen mulai masuk di toko-toko Melawai atau Mangga Dua. Walah, pasaran banget!&lt;br /&gt;Memang begitulah, barang-barang yang dijual di Melawai kebanyakan looks-like-something. Saat trend pasmina yang kalau di Mall berharga sampai ratusan ribu, kamu bisa dapet barang yang sekilas sama dengan harga hanya 25.000 di Melawai. Lalu ketika trend orang pake blazer. Mau warna merah, kuning, ijo, atau pink, semua ada di Melawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangankan baju berbahan linen kesukaanku, bahkan waktu jamannya baju distro yang dulunya muncul dengan semangat indie (yang pengen keluar dari sistem pasar) sekarang bisa ditemukan di Melawai. Entah indie beneran atau cuma looks-like-distro. Yang jelas beberapa kaos dengan disain ala distro itu juga mencantumkan mereknya besar-besar: distro. Jadi pasti benar ini baju distro :)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tapi bagaimanapun juga, Melawai – seperti juga distro – menjadi counter bagi mal-mal dengan kapital dan jaringan konglomerasi yang hebat. Satu hal yang menyenangkan, kadang kala Melawai menyediakan trendnya sendiri yang tidak dapat dikejar oleh mall. Misalnya, sandal plastik berwarna-warni, justru sangat mudah didapatkan di Melawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tentang baju linen yang jadi pasaran, tetap saja membuatku gelisah. Mungkin aku harus mencari sesuatu yang baru, sesuatu yang benar-benar independent dan individually. Jika bukan lagi baju berbahan linen, atau kaos produk distro yang sekarang dipakai banyak orang, mungkin saya harus menjadi anti-trend karena justru lebih banyak orang merasa nyaman dengan memakai produk yang juga dipakai banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Beberapa hari yang lalu, pasar melawai kebakaran. aku melihat kepanikan para pedagang pagi itu. Jangan, jangan menyerah, karena gaya orang satu Jakarta ada di sana… &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-112659382952526631?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/112659382952526631/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=112659382952526631' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/112659382952526631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/112659382952526631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2005/09/lintas-melawai.html' title='lintas melawai'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-112659361558943310</id><published>2005-09-13T13:33:00.001+07:00</published><updated>2008-03-22T20:23:21.996+07:00</updated><title type='text'>bis kota keliling jakarta</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kemarin agak kaget ketika kenek bis patas Mayasari minta ongkos enam ribu satu orang. Katanya, emang gitu kalau rute Blok M – Cikarang. Tapi aku kan turun di Jatibening? Sama aja, katanya. Kecuali kalau naik dari Jatibening ke Blok M.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebenernya berapa sih ongkos resmi bis kota?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau naik patas AC Cileduk-Senen, aku biasa bayar Rp. 3.500,00. Ini udah naik. Dulu sebelum BBM naik, ongkosnya Rp. 3.300,00. Kalau naik yang jurusan Pulau Gadung, kernetnya suka minta Rp. 4.000,00, tapi kalau aku bilang bahwa aku turun di Sudirman, tarifnya jadi tiga setengah lagi. Sekali waktu aku naik bis AC Blok M – Rawamangun. Kernetnya aku kasih duit lima ribuan. Eh, kembaliannya Rp. 1.700,00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang aku agak bingung, apakah tarif bis Patas AC memang berlainan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi kalau naik Metromini 69 yang harusnya bayar Rp. 1.400,00. Setiap kali kasih 1.500,00 nyaris nggak pernah dapet kembalian. Emang sih, uang 100 buat satu orang mungkin kecil sekali artinya. Buatku, itu jatah untuk pengamen di bis. Tapi coba dihitung, kalau setiap penumpang satu bis, dalam sehari, menyumbang 100 rupiah! Pasti nominalnya gede juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma, aku selalu inget mama pernah pesen. Kasusnya di Jogja sih, yang keneknya selalu ribut minta ongkos umum ke mahasiswa atau pelajar yang nggak pake seragam. Kata mama, mahasiswa memang miskin, tapi kok yang disuruh mensubsidi kernet bis. Artinya, orang miskin membantu orang miskin. Intinya jangan pelit ama kernet bis.&lt;br /&gt;Makanya, aku kadang feel guilty juga kalau naik PPD 67 Senen – Blok M yang lewat Salemba. Soalnya, meskipun kasih duit dua ribu, pasti kembaliannya lima ratus. Padahal ongkos resminya Rp. 1.600,00. Viva 67, deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-112659361558943310?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/112659361558943310/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=112659361558943310' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/112659361558943310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/112659361558943310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2005/09/bis-kota-keliling-jakarta.html' title='bis kota keliling jakarta'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-112477255970846868</id><published>2005-08-23T11:41:00.001+07:00</published><updated>2008-03-22T20:24:11.904+07:00</updated><title type='text'>sungai ungu jakarta</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Temanku bercerita, keponakannya yang datang dari Jogja terpesona melihat Jakarta yang apa-apa ada. Salah satunya adalah sungai ungu yang diseberanginya di depan Mal Ambasador.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia benar juga, air yang mengalir di saluran kota itu berwarna keunguan. Tetapi aktivis lingkungan pasti sama sekali tidak menganggapnya ajaib seperti ponakan temanku yang memang suka warna ungu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Inilah Jakarta yang sungainya berwarna-warni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dekat rumahku juga ada got yang airnya ungu di suatu titik. Lalu biru. Lalu hijau. Aku melewatinya tiap pergi dan pulang ke rumah. Sampai di ujung jalan, tempat aku biasa nunggu bis, kondisi saluran amat sangat menyebalkan. Sampah-sampah terlihat menumpuk di saluran itu. Sedikit-sedikit air mengalir, warnanya kehitaman. Seperti ada lender atau lumut kehijauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah mengalami mandi di Batang Hari atau Tembesi di Jambi yang airnya coklat. Meski nggak dijamin sungai itu bersih, tapi aku yakin yang di buang ke sana adalah benda-benda organik. Tetapi kalau sudah berwarna ungu atau biru pasti ada 'sesuatu'...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau hari hujan, saluran di ujung jalan rumahku justru meluap dan berkuranglah muatan sampahnya. Jalan-jalan memang jadi kotor karena sampah yang tadinya di dalam got meluap ke jalan. Tapi setelah hujan, justru got agak sedikit bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini Jakarta: ketika aku harus pikir-pikir pakai sandal trepes yang terbuka, atau celana yang kepanjangan sampai ke telapak sepatu. Membayangkan apa yang akan aku injak, aku merasa sayang pada kaki dan celana jeansku. Kalau hujan, aku memilih melipir dari seberangnya karena aku sudah tahu apa saja yang meluap dari saluran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nggak tau salah siapa. Orang memang belum semuanya sadar untuk mengelola sampahnya dengan benar. Juga, pelayanan collecting sampah belum sepenuhnya baik. Please, deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* seminggu setelah aku menulis ini, got di perempatan jalan dibersihkan. Memang sudah seharusnya karena saat itu, air terus meluap meskipun tidak hujan. Hasil pembersihan adalah 20-an karung kotoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-112477255970846868?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/112477255970846868/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=112477255970846868' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/112477255970846868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/112477255970846868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2005/08/sungai-ungu-jakarta.html' title='sungai ungu jakarta'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-112123295433413098</id><published>2005-07-13T12:30:00.003+07:00</published><updated>2008-03-22T20:25:31.181+07:00</updated><title type='text'>dunia lain jakarta</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/R7uWWtXvG6I/AAAAAAAAAAM/EKqvxnYSviU/s1600-h/masak+di+hutan.JPG"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168890314218216354" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/R7uWWtXvG6I/AAAAAAAAAAM/EKqvxnYSviU/s320/masak+di+hutan.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pagi ini terbangun dalam sleeping bag. Mungkin waktu butebut buit, yaitu ketika burung-burung mulai berbunyi. Dingin masih meresap pada lantai bambu ruma sokola yang tak berdinding. Berapit datang membawa air teh dalam gelas plastik. Ia melengkapi pagi indahku di tengah hutan Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum aku keluar dari sleeping bag, beberapa anak yang semalam menemaniku tidur di ruma sokola sudah berkumpul. Selain Berapit, ada Penguwar, Beconteng, Sertu, Merensan dan Ngetepi. Mereka membuka-buka ensiklopedi anak-anak, yang lain mengambil kertas dan tulis: mereka sudah siap belajar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sertu, berapo delapan dikalikan enom?” sambil masih tiduran, aku melontarkan pertanyaan. Si hitam Sertu lalu berhenti menggambar. Ia membentangkan kelima jarinya lalu menghitung. “Empat puluh?” dia menjawab tidak yakin. “Lagi mansih saloh. Ake bori mikae soal perkalian ma’e mikae cepat menghitung, ibo? Nang lain juga ake bori soal, ibo?” Jawabannya singkat nyaris bersamaan, “Ao…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menit selanjutnya aku sibuk menuliskan soal. Setiap anak kubuatkan sekitar dua puluh soal hitungan. Tidak ada yang sama, karena masing-masing memiliki kemampuan dan perkembangan yang berbeda-beda. Penguwar sudah mulai perkalian besesimpan (susun ke bawah) dengan angka besar dan soal cerita. Beconteng, Berapit dan Sertu, sekalipun bersamaan mulai belajar perkalian, aku tetap memberikan soal yang berbeda karena tingkat pemahaman mereka berbeda. Sementara Merensan baru mulai belajar angka belasan dan puluhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai membuat soal hitungan, aku mengajari Ngetepi belajar membaca. Meski dia yang paling besar di sini (sekitar 14 tahun), tapi dia belum menguasai baca-tulis. Keluarganya sering berpindah dan berjalan jauh, maka dia tidak sempat mampir ke ruma sokola sebelum ini. Tak berapa lama kemudian, muncul anak-anak lain: Beranya yang pintar berburu, si kecil Penangguk, Beening, Bekepak, dan Jujur. Selanjutnya aku tidak sempat lagi menyantap sarapan pilo ditonuk (ubi bakar) karena anak-anak bergantian minta soal. Kalau aku sedang menulis soal atau memeriksa hasil hitungan, anak pemilik soal kupasrahi untuk mengajar Ngetepi membaca. Lucu sekali, karena usia mereka jauh di bawah Ngetepi. Kegiatan belajar berlangsung sampai matahari di atas kepala, tengah hari gegat, saat kami berhenti lalu berbagi tugas memasak dan mencuci piring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ini hari kelima aku di sini. Butet keluar hutan sejak dua malam yang lalu, jadilah aku mengajar anak-anak ini sendirian. Anak-anak ini sangat istimewa, mereka bagian dari komunitas Orang Rimba yang tinggal dan bergantung hidup pada hutan. Itu sebabnya naluri mereka begitu cepat membaca tanda-tanda alam. Seperti siang kemarin, tiba-tiba kelas belajar bubar. Anak-anak menghambur keluar pondok lalu beraksi dengan ketepelnya. Rupanya ada tupoi di atas pohon, dan tupoi adalah lauk bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini rimba, bukan Jakarta. Di mana waktu bergerak tanpa angka satu sampai dua belas. Aku bahkan melupakan tanggal. Tidak seperti tinggal di Jakarta yang mudah untuk menebak kisah, kami bahkan tidak memiliki rutinitas di sini. Hari ini makan nasi, mungkin besok hanya ubi kalau persediaan beras sudah habis. Itupun kami harus berjalan ke ladang keluarga salah seorang murid dan minta ubi di sana, agak satu ambung. Kalau kail dan lulum berhasil menangkap ikan, artinya kami makan ikan. Kalau tidak, mungkin hanya cecepeng atau tengkuyung (kerang dan siput sungai). Tadi ada pacet menempel di kakiku saat hendak turun mandi ke sungai. Kemarin malah ada ular dan lipan. Tetapi bagaimanapun, anak-anak ini menjagaku dengan baik!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-112123295433413098?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/112123295433413098/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=112123295433413098' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/112123295433413098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/112123295433413098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2005/07/dunia-lain-jakarta.html' title='dunia lain jakarta'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/R7uWWtXvG6I/AAAAAAAAAAM/EKqvxnYSviU/s72-c/masak+di+hutan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-111717258057677175</id><published>2005-05-29T02:30:00.002+07:00</published><updated>2008-03-22T20:26:13.855+07:00</updated><title type='text'>"ini Jakarta!"</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Baru setengah jam sebelumnya aku mengguman, “ini Jakarta!” sambil berusaha menikmati penantianku dalam hingar suara berbagai jenis musik dari pedagang VCD bajakan di kaki lima, dalam riuh kenek bis mencari penumpang, dalam kerumun orang-orang letih sepulang kerja, dalam kesibukan orang gila yang menari di depan kios VCD. Gerobak jagung, rujak, teh botol, bakpao, dan gorengan berjajar di mulut terminal Senen tempat aku menunggu bis menuju rumah. Menurutku, inilah Jakarta yang sebenar-benarnya, dan bukannya Starbucks, Mc. Donald, atau Hard Rock.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini Jakarta, di mana orang-orang berjuang mencari hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang petang, aku melihat Patas AC nomer 44 bergerak menuju dan melewati pintu terminal tempat aku berdiri. Itu bis menuju rumah! Spontan aku bergerak mengikuti laju bis. Cepat... cepat... lalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Swing...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan badanku melayang sesaat, lalu terjatuh. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;Jedug!!!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;“oops!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melayang, aku sempat menyesal karena tidak pernah mengingat trik-trik jatuh yang pernah aku denger dari Dodi. Maka dalam hitungan sepersekian detik, aku cuma ingat untuk melindungi kepala. Untuk itu tanganku bekerja dan siku kiri mendarat dengan manis di aspal depan terminal. Botol minuman yang aku pegang, terpental entah kemana. Aku tahu, siku dan telapak tangan yang menjadi penumpuku pasti akan perih sekali nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sempat mendongak dan melihat seorang laki-laki gendut berkemeja merah tua berlari kencang sekali. Dia pasti si penabrak. Boro-boro nolongin, dia sama sekali tidak berhenti. Lebih gondok lagi ketika menyadari bahwa dia satu bis denganku. Alhasil sepanjang perjalanan aku cemberut dan menatap tajam ke arahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harusnya memang aku dekati dia dan langsung semprot. Sayangnya aku masih berpikir, “gimana nanti kalau dia cuek, gimana kalau dia nggak ngakuin? Pasti aku juga yang malu.” Ini Jakarta, dan kota ini punya banyak kemungkinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih gondok lagi, HP di dalem tas ternyata terbentur cukup keras waktu aku jatuh. Layarnya sempet rusak. Aku jadi nyesel nggak marah ke orang itu. Apalagi mendengar komentar orang-orang rumah waktu aku menceritakan kejadian itu. “Ini Jakarta!” kata mereka sambil tertawa... J&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-111717258057677175?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/111717258057677175/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=111717258057677175' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/111717258057677175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/111717258057677175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2005/05/ini-jakarta.html' title='&quot;ini Jakarta!&quot;'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-111717313072375206</id><published>2005-05-28T02:50:00.000+07:00</published><updated>2005-05-27T12:52:10.723+07:00</updated><title type='text'>dan waktu berhenti dalam secangkir kopi...</title><content type='html'>Sejujurnya aku merasa tidak rela mengeluarkan lebih dari 25 ribu rupiah untuk segelas kopi. Maka, kalaupun aku berada di Starbucks atau semacamnya, bisa dipastikan itu bukan inisiatifku. Paling sering karena ajakan dua adik sepupu perempuanku yang tinggal satu rumah. Aku tidak bisa menolak kebersamaan ini, tetapi benakku tetap saja berhitung setiap kali bertransaksi dengan si barista. Aku suka kopi, tapi tidak suka harganya. Betapapun lezatnya, aku tetap merasa ini tidak masuk akal. Di tempat lain yang tak kalah nyaman, dengan harga segitu aku bisa mendapatkan secangkir kopi plus kroisan daging asap yang enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua, aku tidak suka cara mereka mengemas minumannya. Harga itu terlalu mahal untuk kemasan murahan mereka. Aku bilang murahan, karena kopi-kopi mereka dihidangkan dalam gelas plastik atau kertas. Sekali pakai, lalu dibuang. Sudah begitu, kita memesan sambil berdiri di depan kasir lalu membawa sendiri minuman-minumannya diiringi musik yang kadang berirama cepat. Menurutku, sama sekali nggak nyambung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya nggak nyambung. Minum kopi kok kayak di restoran fast food. Jauh dari bayanganku tentang minum kopi di cafe: kopi hitam dalam cangkir beling yang menyimpan panasnya dengan baik, suasanya cozy dengan musik yang tenang, obrolan seru dengan teman-teman, membuatku betah berlama-lama bahkan jika aku datang sendirian saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi inget Jazz Coffee-nya mbak Ani di Jogja dulu. Aku pernah dapet suasana itu di sana. Aku paling sering memesan kopi Toraja, menurutku rasanya agak-agak bau daun. Secangkir berharga lima ribu dan cukup enak untuk menemaniku berlama-lama di sana. Suasananya homy banget dengan mba’ Ani jadi ibu rumah. Pelanggannya saling kenal dan saling bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau warung kopi Jasa Ayah di Ule Kareng, Banda Aceh. Aku ke sana pasca gempa, dan warung itu jadi favorit para relawan. Kopi Aceh dibuat dengan cara yang unik, di saring-saring gitu deh... Trus disajikan dalam gelas-gelas kecil. Empat ribu satu gelas. Di warung lain, ada yang harganya lebih murah. Ruangan tempat minum kopi sih biasa aja. Meja-mejanya berukuran besar dan tertata seperti meja makan. Tapi toh kami selalu betah berlama-lama. Apalagi makanannya enak-enak. Dalam sekali kedatangan, aku bisa pesen telur setengah matang, martabak Aceh, mie Aceh, trus kue-kue basahnya yang enak... Dan, percaya nggak... pertama kali ke sana aku ketemu Fahmi, temen kuliahku di Jakarta yang asal Aceh. Ternyata, itu emang warung kopi yang sering dia ceritakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga inget warung kopi di Sabang. 750 segelas! Aku dan Dodi sampai terkaget-kaget waktu mau bayar. “Berapa?” Dodi mengulang pertanyaan, “Kopinya dua gelas, lho...” Tapi ibu pemilik warung tidak berubah pikiran, “Seribu lima ratus, dua kopi,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang suasana Jazz Coffee-nya Mba Ani dan warung-warung kopi di Aceh nggak se’mahal’ cafe-cafe di Jakarta. Tapi mereka menawarkan ruang yang nyaman untuk aku kembali, kembali, dan kembali ke sana terus untuk menikmati secangkir kopi yang uapnya mengepul, menyeruputnya pelan-pelan, lalu mengobrol atau sekedar duduk berlama-lama. Dan waktu seperti berhenti di warung-warung kopi ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-111717313072375206?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/111717313072375206/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=111717313072375206' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/111717313072375206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/111717313072375206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2005/05/dan-waktu-berhenti-dalam-secangkir.html' title='dan waktu berhenti dalam secangkir kopi...'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-111717296353381294</id><published>2005-05-28T02:47:00.000+07:00</published><updated>2005-05-27T13:05:11.190+07:00</updated><title type='text'>amplop-amplop di bis kota</title><content type='html'>Temanku punya tas baru. Bahannya kulit, berwarna hitam, berbentuk persegi panjang tegak. Keren sih, tapi menurutku tas itu mirip tas yang dipakai anak-anak kecil ngamen ala karaoke di atas metromini di Jakarta. Tinggal diisi tape, lalu dilubagi pas bagian speaker. Aku ketawa, temanku manyun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi beneran, tas seperti itulah yang dipakai anak-anak untuk ngamen. Kebetulan aku pelanggan Metromini nomer 69. Sepanjang perjalanan dari terminal Blok M sampai Cipulir, paling tidak dua kali pengaman cilik naik ke atas bis dan beraksi dengan karaoke. Yang pertama naik tak jauh dari terminal Blok M. Sedangkan pengamen kedua, naik di pasar Mayestik. Kadang sendirian, kadang berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat betul pengamen perempuan yang naik di daerah Mayestik. Umurnya kira-kira tujuh tahun. Rambutnya merah dan penuh telur kutu. Seperti yang lain-lain, begitu masuk ia langsung membagikan amplop kecil lusuh kepada semua penumpang. Di salah satu sisi amplop ditempel fotokopi tulisan tanggan yang diawali dengan bacaan bismillah dengan huruf arab. Tulisan selanjutnya kurang lebih meminta bantuan untuk biaya sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membagikan amplop, ia kembali ke bagian depan Metromini lalu menyalakan tape yang dibawa dengan tas yang mirip punya temanku tadi. Setelah musik mengumandang, mulailah ia menyanyi. Biasanya lagu dangdut. Suaranya lantang agak serak, seserak iringan musik dari tape itu. Selesai menyanyi, ia mengumpulkan amplop-amplop dari tangan penumpang sambil berharap ada yang mengisikan sejumlah rupiah. Demikian, setiap kali, sepanjang perjalanan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamen kecil itu bukan yang pertama memakai amplop untuk meminta uang. Sebelum ini, cara ngamen dengan membagikan amplop sudah ada. Lagi-lagi di atas bis kota, dan lagi-lagi, saya mengalaminya di atas Mentromini saat melewati pasar Mayestik. Kali ini, amplop dibagikan oleh ibu-ibu dan tidak sedekil milik pengamen kecil. Tulisannya pun lebih rapi. Selain itu, kaset yang diputar bukan lagu dangdut tetapi suara orang berbicara yang diikuti irama kasidah. Intinya, ia meminta sedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomongin amplop, aku jadi teringat kecenderungan di pesta perkawinan sekarang. Tamu undangan kini tidak lagi membawa kado, tetapi cukup menyelipkan amplop dalam kotak yang telah disediakan. Nah, pengamen-pengamen di atas bis kota itu mungkin ikut-ikutan trend ini dan tidak lagi terang-terangan menadahkan tangan mohon bantuan. Juga tidak menadahkan topi atau kantong bekas permen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, uang yang ditempatkan dalam amplop biasanya bukan uang recehan. Misalnya saja amplop honor, amplop gaji, amplop sogokan untuk wartawan, atau amplop di pesta kawinan. So, mungkin dengan memakai amplop, pengamen-pengamen bis kota itu berharap mendapat rejeki yang lebih besar. Padahal aku sudah memeriksa dengan teliti, di amplop milik pengamen berkutu itu tidak ada tulisan: mohon sumbangan tidak berupa barang atau karangan bunga. Jadi sebetulnya, kita bisa menyumbang apa saja, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, bis kota terus berjalan mengantarkan saya ke tempat tujuan. Semakin lama, semakin banyak orang yang naik dan turun termasuk berbagai rupa orang minta sumbangan. Ada yang seolah sungkan menyodorkan amplop, ada juga juga yang terang-terangan mengaku baru keluar dari penjara dan kehabisan uang. Ada pengamen dengan gitar, ada yang baca puisi dengan lantang. Ada preman, ibu-ibu, anak-anak, sampai laki-laki berpakaian perempuan. Mereka lebur jadi satu dengan peluh penumpang, teriakan pedagang asongan menawarkan tisu atau permen, gerak cepat copet, serta anak-anak sekolah yang mencoreti kursi bis dengan nama pacarnya. Sesekali terhirup karbon monoksida dari jalanan macet. Sesak. Dan sesak inilah yang dibawa berkeliling oleh bis-bis kota. Dari terminal ke terminal. Tak ada yang ditawarkan selain rutinitas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-111717296353381294?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/111717296353381294/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=111717296353381294' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/111717296353381294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/111717296353381294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2005/05/amplop-amplop-di-bis-kota.html' title='amplop-amplop di bis kota'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13019625.post-111717199773557103</id><published>2005-05-28T02:28:00.000+07:00</published><updated>2005-12-14T11:04:31.316+07:00</updated><title type='text'>kembali menjadi pengumpul cerita</title><content type='html'>&lt;em&gt;... perjalanan adalah ibu dari peristiwa. Maka mengumpulkan peristiwa yang ditebar di dalamnya tentulah sebuah kemungkinan menarik yang terbuka...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian seorang teman menuliskan pesan, ketika untuk pertama kalinya aku meninggalkan Jogja setelah 25 tahun ternyamankan di sana. Dan aku terus mengumpulkan peristiwa sepanjang perpindahanku dari desa ke desa, dari hilir ke hulu, lalu saat bermain dengan anak-anak di belantara hutan bukit duabelas, Jambi. Begitu banyak peristiwa baru yang aku lihat, aku alami, dan aku rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tiba-tiba semuanya terasa biasa. Padahal perjalananku semakin jauh: perkampungan nelayan di pesisir Makassar, tebing-tebing magis Toraja, wajah-wajah muram anak-anak Aceh setelah bencana, kilometer nol di Sabang, dingin lekat udara Brastagi, dan seterusnya, dan seterusnya... Seharusnya ada banyak kisah yang terkumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;... begitu terbukanya sehingga seperti udara; suatu kali kau terbangun dan terbiasa...&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Temanku benar. Aku menjadi terbiasa dengan perjalanan dan lupa untuk mencatat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu ketika aku tiba di Jakarta dan mengalami rutinitasnya. Sesungguhnya berawal dari beberapa kesialan, yang disambut dengan kata-kata spontan, “Ini Jakarta!” dari mereka yang mendengar kisahku. “Ini Jakarta!” yang membuat aku menyadari bahwa memang di sini terjadi pengalaman-pengalaman yang tidak terjadi di kota lain. Maka di sini aku sengaja lebih banyak bercerita tentang kisahku di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;... Maka satu hal yang dengan sengaja kuingatkan pada mu, teman kecilku yang manis, adalah untuk tidak melupakan mengingat dan mencatat. Agar udara dan peristiwa yang terbiasa itu nanti, bisa jadi luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(Aku sangat menyukai sebutan teman kecilku yang manis, entah kenapa)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13019625-111717199773557103?l=inditdijakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/feeds/111717199773557103/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13019625&amp;postID=111717199773557103' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/111717199773557103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13019625/posts/default/111717199773557103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inditdijakarta.blogspot.com/2005/05/kembali-menjadi-pengumpul-cerita.html' title='kembali menjadi pengumpul cerita'/><author><name>Aditya Dipta Anindita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09733626041662429646</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/72/38/11068327/5850966517261m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
